MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 82


__ADS_3

Sepanjang perjalanan melintang Adira maupun Eza sama sekali tak berbicara, suasana yang tadi baik-baik saja berubah setelah kedatangan pria masa lalu Adira.


Adira sudah pasti membawa beban pikiran, rasa bersalah masih menyeruak sampai saat ini, mood nya turun drastis apalagi ketika melihat kepergian Rendy yang pulang membawa luka di hati.


Eza pun demikian, ia merasa marah saat melihat pria itu memeluk Adira, seolah diselingkuhi secara terang-terangan, seharusnya ia mengusir lelaki tadi agar suasana hatinya tak buruk seperti ini.


Eza sekuat tenaga menahan rasa penasaran untuk bertanya pada Adira, Eza tak mau memperlihatkan emosinya, Adira akan berpikir jika ia sedang cemburu.


Tidak! Aku kan tidak mencintainya, ini bukan cemburu... Aku yakin ini hanya rasa marah yang timbul karena merasa harga diriku sebagai seorang suami hancur.


Eza mengelak habis-habisan tentang arti rasa marahnya, meski Eza sendiri sadar kalau ia terlalu lebay jika mengartikannya sebagai masalah harga diri saja.


Adira tak menyadari perubahan sikap Eza, pikirannya sudah tak bisa membaca gerak-gerik orang lain disaat dirinya sendiri disibukkan dengan masalah pribadi.


Siang hari mereka sampai di hotel, acara pernikahan dimulai malam hari, ada waktu untuk mereka istirahat dan bersiap-siap.


Eza membawa satu koper yang isinya keperluan mereka berdua, Adira berjalan disamping sang suami tak banyak bicara, kamar yang mereka tempati ada di lantai 12.


Keduanya masuk ketika sampai di dalam kamar bernomor 612, Eza langsung membanting tubuhnya ke atas sofa, sedangkan Adira memilih mengeluarkan semua isi koper agar nanti mereka tak usah terburu-buru.


Eza mengamati sang istri sambil bersantai di sofa. Memperhatikan bagaimana raut wajah Adira yang nampak sedikit sembab, mungkin lelaki itu berhasil mengobrak-abrik hatinya.


Tangan Eza mengepal ketika mengingat pertemuan tersebut, seingat Eza Adira tak memiliki seorang kekasih, lantas pria itu siapa? Mantan kah? Eza masih berusaha menahan rasa penasarannya.


"Mas, pakaiannya aku gantung di lemari ya. Nanti tinggal ambil saja" ucap Adira, tak ada sahutan dari lawan bicara membuat Adira menoleh.


"Mas?"


"Mas Eza!" Adira sedikit mengeraskan suara.


Eza terkesiap, ia tersadarkan dari lamunan.


"Apa?"


"Pakaian mas aku simpan di lemari, nanti tinggal pakai saja"


"Hmm..." Gumam Eza.


Entah kenapa Eza jadi sulit berbicara santai, ia seakan gengsi untuk berucap sepatah kata, apalagi Adira yang seolah tak mau menjelaskan kejadian tersebut, siapa dan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Adira memilih kembali menutup koper, kemudian berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponsel, Adira ingin menanyakan seputar Rendy pada Qia, karena sahabatnya itu tak memberitahu seputar kedatangan Rendy padanya.


"Maaf, Ra. Bukannya aku tak mau, tapi mas Rendy sendiri yang minta supaya aku tidak memberitahu mu. Aku tidak tega melihat wajahnya, Ra. Dia benar-benar kehilangan mu" balas Qia melalui pesan.


Adira mendesah lagi, ini salahnya... Kalau saja Adira memberitahu Rendy di awal-awal pernikahan mungkin bisa sedikit membuat rasa sakit hati yang dialami Rendy tidak sebesar sekarang.


"Sekali lagi maaf, Ra. Aku memberitahu alamat mu di Jakarta agar kalian bisa membicarakan masalah kalian secara empat mata"


"Tidak perlu minta maaf, Qia. Kamu tidak salah sama sekali, aku hanya terkejut saja karena sama sekali tidak pernah terpikir di benakku tentang kedatangan mas Rendy"


"Aku harap masalah kalian cepat selesai, jangan terlalu dibawa beban pikiran, kasihan suamimu..." Lanjut Qia.


Membaca teks tersebut Adira sontak melirik pada sang suami, Eza seperti sedang melamunkan sesuatu yang sangat berat.


***


Pesta pernikahan pun digelar, Adira sudah siap dengan dress merah yang melekat di tubuh rampingnya, dihiasi dengan make up natural yang justru membuat kecantikan Adira bertambah berkali-kali lipat.


Eza sontak terpana melihat sosok istrinya yang nampak berbeda, Adira terlihat sangat cantik dan mempesona, apalagi dengan belahan dress di bagian kaki kiri membuat kesan seksi di mata seorang Eza Gibson.


"Ayo mas, aku sudah siap"


Eza mengerjap sembari berdehem, kemudian kembali memasang ekspresi cool dan kalem.


Mereka pun keluar dengan Adira yang menggandeng lengan kiri Eza, tak lupa memasang senyum manis pada orang-orang yang menyapa.


Sepanjang acara Adira berusaha bersikap elegan, ia tak mau mempermalukan Eza dikalangan para kolega, Adira sadar posisinya saat ini dan ia ingin memantaskan diri agar citra sang suami tidak jatuh karenanya.


"Tuan Eza terimakasih sudah datang ke acara pernikahan ini bersama dengan Nona Adira, semoga kalian menikmati pesta kami"


"Tentu saja Tuan Julian, semoga pernikahan kalian lancar sampai maut memisahkan"


"Amin, terimakasih doanya"


"Ngomong-ngomong Nona Adira, apa ini sudah isi?" Ujar pengantin wanita mengusap perut tamu undangannya.


"Ah... Kebetulan belum"


"Semoga cepat diberi momongan ya"

__ADS_1


"Anda juga" balas Adira menyunggingkan senyum.


Mereka kembali lagi ke kamar hotel pukul sepuluh malam, rasa lelah sudah mencabik-cabik Adira sedari tadi, tempat tidur adalah sesuatu yang sangat Adira inginkan saat ini.


Begitu masuk Adira langsung meregangkan otot-ototnya yang kaku, ia harus segera tidur karena besok mereka akan pulang kembali ke Jakarta.


"Oh iya, kalau mas masih mau mengobrol dengan rekan mas silahkan saja, tapi sepertinya aku tidak bisa menemani, aku mau langsung tidur" seru Adira.


"Tidur?"


"Iya, besok kan kita akan langsung pulang. Aku harus bangun pagi-pagi untuk membereskan barang-barang kita"


"Tak ada yang ingin kau sampaikan terlebih dahulu sebelum tidur?" Eza meyakinkan Adira.


Adira memiringkan kepala ketika Eza bertanya demikian, "Memang apa yang harus aku sampaikan?"


Eza berjalan mendekat secara perlahan.


"Kau lupa atau pura-pura tidak mengerti? Atau kau menganggap tidak ada kewajiban bagimu menjelaskan padaku?" Nada bicara Eza berubah dingin.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti, mas. Tolong bicara dengan jelas"


Eza mengapit kedua pipi Adira dengan hanya satu tangan, membuat wanita itu mendongak menatapnya.


"Mata mu bengkak meski sudah dibaluti berbagai riasan, sepertinya kau asik menangisi pria itu" tak menjawab kebingungan Adira.


"Kau mencintainya? Heh! Sepertinya iya... Kau bahkan tidak menolak ketika pria itu memelukmu"


Adira diam mendengar celotehan Eza, tetapi ia mulai mengerti kemana pembicaraan ini menjurus.


"Kau bahkan tidak menjelaskan siapa dia padaku! Apa yang kalian bicarakan? Kalian sedang melepas rindu? Dia bahkan pulang dengan sebuah senyuman, apa yang kau janjikan padanya!?" Desis Eza tajam.


"M-mas...." Adira kesulitan hendak berbicara.


"Oh aku lupa! Pernikahan kita memang hanya sebuah keterpaksaan, kau masih bebas berhubungan dengan pria yang kau cintai... Bukan begitu?" Tersenyum smirk.


Sedangkan Adira membola mendengar ucapan Eza, ia berusaha keras menjauhkan lengan Eza dari sisi wajahnya.


"Le-pas.....!" Memukul Eza sekuat tenaga, hingga capitan Eza pun terlepas.

__ADS_1


"Maksud mas apa bicara begitu hah?! Aku minta maaf kalau aku belum bisa menjelaskannya pada mas, bukan berarti aku menganggap remeh mas Eza sebagai suamiku!" Sentak Adira ikut emosi.


"Kapan kau akan menjelaskan padaku? Saat kau sudah tidak merindukannya lagi?" Pancing Eza tersenyum kecut.


__ADS_2