
Semua syok dengan kedatangan Elvis, kenapa anak itu tiba-tiba bisa muncul sewaktu jam pelajaran masih berlangsung? Dan lagi diantar oleh mobil sekolah yang hanya berisikan dia seorang dan juga supir.
"Mama mau kemana?" Menarik baju Adira sehingga perempuan tersebut tak jadi masuk ke dalam kendaraan.
"El, bagaimana bisa kamu ada disini?" Ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.
"Jawab duluuu.....! Mama mau kemana? Kenapa pakai baju rapi kayak gini?" Tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Permisi Tuan dan Nyonya-nyonya, saya petugas antar jemput sekolah, saya mengantar murid dari kelas satu A sesuai perintah dari wali kelasnya" jelas lelaki setengah baya tersebut.
"Memang ada apa pak? Kenapa sampai disuruh pulang ke rumah segala?"
"Tadi saya dengar katanya Adek ini sempat bertengkar dengan teman kelasnya, setelah itu meminta untuk pulang, wali kelas sudah berusaha membujuk namun Adek menangis dan tetap meminta diantar ke rumah" ujarnya dengan detail.
Entah takdir atau hanya sebuah kebetulan, kenapa waktunya sangat pas dengan detik-detik kepergian Adira yang sudah siap berangkat.
"Ya sudah, pak. Terimakasih telah mengantarkan cucu kami"
"Sama-sama, Nyonya. Saya pamit undur diri" sembari menunduk hormat, lalu berlalu sambil membawa mobil sekolah.
Kini semua kembali fokus pada Adira, Elvis menarik-narik ujung pakaian Adira sembari terus mendesak pertanyaan.
"Ma, mama mau kemana? El udah disini" berpikir Adira hendak pergi menjemputnya di sekolah.
"Mama...." Adira tersendat untuk menjawab, Elvis pasti akan mengamuk jikalau tau.
"El sayang, sini dengan Oma" Tari mencoba menenangkan cucunya, ia pun hendak menarik lengan Elvis.
Tetapi Elvis justru menjauh, ia semakin curiga ketika melihat wajah neneknya yang sembab, pasti terjadi sesuatu yang membuat Tari menangis, sebuah momen menyedihkan tengah berlangsung saat ini.
"El mau ikut mama! Mama mau kemana?"
Adira tak kunjung menjawab, air matanya lolos tanpa seizinnya, dan itu menjadi sebuah jawaban untuk Elvis.
"Mama mau pulang???" Elvis tampak tak percaya, ia menatap Adira tengah mata membulat.
"E-el......"
Brukkk
__ADS_1
El langsung mendekap tubuh Adira dengan sangat erat, seolah tak akan membiarkan dirinya lepas dari ibunya lagi.
"Mama jangan pergiiiii........" Pinta Elvis menangis, mencegah sang ibu meninggalkannya untuk yang kedua kali.
"Jangan tinggalin El..... El mau ikut mama....!" Elvis memohon dengan segala ketakutan yang ia rasa.
"Hiksss...... Jangan pergiiiiiii....."
Adira bergeming dengan seluruh rasa yang berkecamuk di jiwa, pikirannya mengatakan kabur saja meski Elvis menangis kencang toh dia juga tidak akan bisa mengejar, tetapi hatinya berkata lain, ia tak kuasa mendengar rengekan kecil sang buah hati.
"El gak mau ditinggal.... El mau ikut aja kalau mama pergi..... Hiksss....."
"Jangan tinggalin El......"
Adira berjongkok mensejajarkan tinggi badan dengan Elvis, membuat mata merah mereka silih bersitatap.
"El harus tetap disini, nak. Mama akan usahakan datang lagi untuk menemui El, mama janji" lirihnya berusaha tegar di depan Elvis.
"Gak! El mau ikut mama, El gak mau disini" sembari menghentak-hentakkan kaki ke tanah.
"El, mama kan harus kerja di Malang. Tante Qia sudah menunggu disana, mama gak enak kalau harus izin terus" Adira beralasan.
"Mama janji akan datang lagi, tapi mama gak bisa bawa El sekarang, El mengerti kan?"
"Huwaaaaaaaaa......... Mama jahat! Mama gak sayang sama El"
Dan untuk pertama kalinya Elvis berkata seperti itu pada wanita yang telah membesarkannya, merasa Adira tak mau memperjuangkan dirinya lagi, Elvis sedih sekaligus kecewa.
Rasanya melebihi ditusuk ribuan anak panah paling tajam, hatinya sungguh-sungguh sakit mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mungil Elvis, mungkinkah ia jahat? Ia telah mengecewakan Elvis sampai anak itu mengatakan hal demikian.
Dan Adira tau, saat ini Elvis sedang berada di titik terendah atas kepercayaannya.
"Ada Oma dan Opah yang akan menemani El, mereka akan menjaga Elvis dengan baik, El ingat kan perkataan mama semalam?"
"Pokoknya mama jangan pergi...!! Mama gak boleh tinggalin El lagi" memeluk leher Adira agar wanita itu menggendongnya, dengan begitu ia tak akan bisa lepas dari sang ibu.
"El, Sama Opah yuk. El kan anak baik" Arian tak hanya diam melihat peristiwa didepan matanya.
"Huaaaaaaaaaa..... Semuanya jahat! Semua gak sayang sama El....!! El gak mau mainan, El gak mau rumah yang bagus, El gak mau sekolah, El mending sakit aja biar mama gak pergi" tutur Elvis mengungkapkan keinginan buruknya yang mungkin akan terasa lebih baik bagi Elvis.
__ADS_1
Semua orang merasa pilu yang teramat dalam, kasih sayang Adira memang tak bisa tergantikan oleh apapun, meski seluruh isi dunia diberikan untuknya, tak akan mengganti setengah kebahagiaan Elvis jika dibandingkan dengan cinta kasih seorang ibu.
Disaat itu Eza datang menghampiri, aura dingin menyertai suasana yang tengah dirundung sendu tersebut. Mereka bisa merasakan lewat sorot mata yang terasa berbeda dari yang lain.
"El, masuk!" Titahnya tegas.
Dua kata yang bisa membuat merinding orang-orang yang mendengarnya, El semakin mengeratkan lingkaran tangan di leher Adira, Adira bisa merasakan seluruh tubuh Elvis yang bergetar.
"El mau ikut mama....!" Tolaknya tambah terisak.
"Papah bilang masuk! Mau papah paksa?!!"
"Za, turunkan emosimu" kedua orangtuanya langsung memperingati, jika dibiarkan Elvis malah akan semakin takut melihat sikap Ayahnya.
Adira dilema, ia jadi khawatir kalau membiarkan Elvis bersama dengan Eza, pria itu memiliki sifat yang keras, Adira takut Eza menyakiti mahkluk mungilnya.
"Kau! Cepat masuk ke mobil, aku tidak mau terlalu lama melihat adegan seperti ini...!" Tunjuk Eza pada Adira.
"Hiksss.... El gak mau ditinggal......Mama jangan tinggalin El....... " Elvis kian histeris.
Sang supir yang tak berani berbuat apa-apa memilih diam meski di dalam hatinya ia sibuk berkomentar.
Kesabaran Eza yang setipis tisu kini seperti sudah robek terbelah, ia pun maju untuk mengambil Elvis dari dekapan Adira.
Adira yang melihat Eza menghampiri seketika langsung menggendong Elvis dan beringsut mundur.
"Berikan Elvis padaku!" Titah Eza.
"S-saya pikir akan menunda dulu kepulangan saya, s-saya tidak tega melihat Elvis...." Adira mengambil keputusan, ia tak akan tenang kalau membiarkan Elvis dibawah kuasa Eza yang seperti ini.
"Kau hanya menunda waktu! Tak akan ada bedanya...!" Geram Eza.
"Tidak! Saya mohon biarkan saya disini dulu sampai semuanya tenang, kasihan Elvis...." Pinta Adira memelas.
Eza mendengus kasar melihat Adira yang tak mau menurunkan Elvis, Eza merasa Adira hanya mengulur waktu tanpa bisa merubah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan perasaan kesal Eza masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan lagi apa yang akan terjadi, terserah semua orang mau melakukan apa.
Sepeninggalan Eza, Adira langsung mengelus punggung Elvis yang masih menangis, lagi-lagi anak itu harus menyaksikan ketegangan yang baru saja terjadi, dan hanya akan menyisakan luka yang mendalam.
__ADS_1