
Disaat semuanya sudah tertidur, Adira justru terjaga dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana.
Jujur saja, dirinya masih dibuat syok dengan pengakuan dari Tari tentang ibu kandung Elvis. Ia tidak bisa tidur karena terlalu terbayang akan hal itu.
Adira penasaran alasan apa yang membuat wanita yang kini sudah tenang di alam sana memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis.
Padahal jika dilihat dari kasat mata, wanita itu terbilang beruntung karena memiliki suami kaya raya dan anak tampan yang lahir sempurna.
Memikirkan hal itu Adira jadi pusing sendiri, ia lantas bangkit dari ranjang untuk membasuh wajahnya di toilet.
Tapi langkah Adira mendadak terhenti ketika melihat Eza yang tengah terlelap di atas sofa. Seketika pikirannya kembali berbalik arah.
"Apa mungkin karena sikap Tuan Eza?"
Adira menduga-duga, memandang pria yang terpejam dengan tenang, membuatnya terlihat jauh lebih tampan.
"Sikap Tuan Eza sangat dingin dan kasar, mungkinkah dia pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga?"
"Tapi mungkin juga sikapnya yang sekarang hanya ditunjukkan padaku saja, aslinya dia orang yang baik dan ceria" pikir Adira.
"Ceria? Bahkan dibayangkan saja rasanya kurang cocok untuk karakter wajah seperti itu" tambahnya bimbang.
"Hah.... Kenapa aku jadi berpikir negatif tentangnya?? Sudahlah... Bukan urusanku juga!" Buru-buru Adira menggeleng menyingkirkan semua embel-embel yang membebani kepalanya.
Meski begitu Adira tetap terpaku ditempat seperti lupa akan tujuan utamanya.
Hingga sesuatu mengejutkan wanita cantik itu.
"Sampai kapan kau akan berdiri disitu?"
Deg!
Adira terperanjat kaget! Ia terbelalak tatkala melihat Eza membuka matanya dan memandang Adira tajam seolah dari tadi pria itu hanya pura-pura terlelap.
"T-tuan...." Adira tercekat.
Tanpa banyak bicara Eza bangkit dari sofa, dan tanpa diduga pria itu mendekat ke arah Adira, hingga membuat sang lawan bicara mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat?" Ucap Eza mendesak.
Adira menelan ludah kasar, entah kenapa lidahnya kelu untuk sekedar mengucap kata, Eza sudah seperti sebuah serangan yang sulit untuk ia hindari.
"Aku tau kau menatapku sedari tadi, apa yang kau pikirkan?!"
"Kau sedang membuat rencana?"
Eza terus mendesak Adira, tak memberi Adira kesempatan untuk berbicara.
Sampai Adira merasa punggungnya menyentuh tembok, Adira seketika menahan dada bidang Eza agar tak semakin mendekat.
"T-tuan....."
Eza kian menatap lekat Adira, mencari sesuatu melalui manik bening wanita berusia 30 tahun tersebut.
"S-saya akan jelaskan, tapi tolong.... T-tolong menjauh sedikit" Adira merasa sesak karena terlalu lama menahan nafas, jarak keduanya yang amat dekat membuat Adira lupa caranya menghidupkan kadar oksigen.
"Katakan!" Tanpa menjauhi tubuhnya dari tubuh mungil Adira.
"S-saya hanya merasa kasihan melihat anda tidur di sofa" cicit Adira berdusta, berharap Eza percaya pada ucapannya kali ini. Sangat tidak mungkin Adira jujur bahwasanya ia tengah berprasangka buruk pada lelaki itu.
"Saya tidak berbohong, Tuan. Lagipula, mana berani saya merencanakan hal buruk sedang Tuan bisa melakukan apapun untuk menggagalkan rencana saya kalau memang benar begitu kenyataannya!" Tepis Adira dengan sorot mata berani, berusaha menyembunyikan tipuannya. Tapi lama-lama Adira kesal juga karena Eza terus mencurigai dirinya, dan lagi kenapa pria ini bisa sadar kalau tadi Adira memandanginya.
"Tuan adalah orang yang berkuasa, saya juga tau diri karena saya tidak mungkin melawan orang seperti Anda" jelas Adira meneruskan.
Mendengar ucapan Adira yang memang ada benarnya, sedikit demi sedikit Eza pun melangkah mundur, membuat paru-paru Adira seketika mengempis.
Eza berbalik dan duduk kembali di sofa, pria itu nampak memegangi kepalanya seperti orang pusing.
"Akhhhhhh...... Aku masih selalu saja parno pada yang namanya wanita!" Eza menggeram.
Sedangkan Adira langsung melesat ke dalam toilet untuk bersembunyi sejenak dari pria ganas disana.
"Huffftt...... Hampir saja!"
***
__ADS_1
Adira sudah kembali tertidur di atas brankar bersama Elvis, lain halnya dengan Eza yang justru termenung setelah kejadian barusan.
Ia menatap Adira dari kejauhan, entah apa arti tatapan itu namun yang pasti Eza kesal sendiri karena terlalu gegabah menuduh Adira.
Baginya hal tersebut cukup memalukan bagi dirinya sendiri.
Eza tau jika dia memang sangat sensitif jika menyangkut dengan wanita, baginya wanita adalah aliran sungai yang nampak tenang tapi justru mematikan. Wanita pandai merencanakan segala sesuatu dengan mulus, hanya karena daya pikat yang ditunjukkan. Membuat Eza selalu siaga dengan gerak-gerik yang baginya mencurigakan.
Jika ditanya kenapa ia bisa tahu kalau Adira menatapnya tadi, jawabannya karena Eza tidak pernah tidur dengan pulas, apapun suara serta gerakan di sekelilingnya maka Eza pasti akan langsung merasakan. Bertahun-tahun ia di hantui mimpi buruk, sampai saat ini hal tersebut tidak membuat Eza nyaman untuk sekedar mengurai rasa lelah.
Entah bagaimana ia bisa terbebas dari gangguan seperti ini, berbagai dokter spesialis dan psikiater telah Eza kunjungi, namun hasilnya tetap nihil. Eza hanya diberi waktu lima sampai sepuluh menit untuk terlelap, sisanya ia hanya memejamkan mata.
Kehadiran orang baru bagi Eza harus selalu di waspadai, termasuk Adira. Dia belum tau bagaimana sifat asli, karakter, dan kelakuan Adira yang sebenarnya. Meski Elvis sangat menyayangi wanita itu, bukan berarti Eza bisa langsung menyimpulkan semuanya.
Disaat Eza tengah berkecamuk dengan pikirannya, tanpa sengaja ia melihat Elvis yang terusik dan berusaha untuk merubah posisinya menjadi duduk. Dengan sigap Eza mendekat kesana.
"El... Kenapa bangun, nak?"
"El mau pipis, Om" jawabnya dengan suara parau.
"Biar papah antar ke toilet"
"Hmm... Iya" Elvis setuju, sebab ia tak mau membangun Adira yang masih pulas tak menyadari jika Elvis terbangun.
Eza pun lantas menggendong putranya menuju toilet. Di dalam sana Eza membantu Elvis sampai selesai.
Lima menit berlalu Eza kembali menggendong Elvis menuju brankar dan menyelimuti sang putra.
"Tidur lagi, nak. Ini masih malam" Elvis menurut dan kembali memejamkan matanya yang masih terasa berat.
Karena gerakan Elvis, Adira jadi ikut terusik dan hendak membalikkan badannya. Tapi mengingat ranjang itu tidak luas maka jika Adira berbalik sedikit saja maka bisa di pastikan dia akan terjatuh.
Dengan spontan Eza berlari ke tepi ranjang yang satunya, menahan tubuh Adira agar tidak berbalik.
Hap!
Satu detik saja Eza terlambat maka Adira sudah berada di bawah mencium lantai keramik.
__ADS_1
"Huffftt...... " Eza menghembuskan nafas lega karena berhasil menahan tubuh Adira, tiba-tiba ia panik karena ulah wanita ini yang tidak sadar ini.
"Dasar ceroboh!" Lirih Eza mengumpat, tapi akhirnya Adira kembali tidur dengan posisi semula.