MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 36


__ADS_3

Sontak Adira berbalik setengah badan, tadinya ia pikir pertanyaan itu bukan tertuju untuknya sebab Eza masih memandang ke arah layar laptop. Tapi detik kemudian pria itu menengok ke padanya.


Tak lupa dengan sorot dingin yang mampu membekukan lawan bicara.


"S-saya.... Mau ke kantin sebentar, perut saya keroncongan karena tidak sempat makan dari pagi. Hanya sebentar saja, tidak akan lama" Adira pikir pria itu tidak akan mengizinkannya keluar karena khawatir Elvis akan terjaga dan mencarinya.


Namun ternyata, dugaan Adira melenceng. Pria itu justru menanggapi dengan sesuatu yang tak terduga.


"Ambil makanan diatas nakas itu, aku tidak jadi memakannya"


Eh, apa ini?


Adira terbengong ditempat, mencerna kata-kata Eza yang membuatnya bingung tujuh keliling. Apa pria itu sedang menawarinya makan?


Melihat Adira yang diam saja Eza jadi berdesis sebal, alisnya mengerut tak suka.


"Kalau tidak mau ya sudah, pergilah..." Usirnya menyuruh Adira melanjutkan langkah menuju kantin.


Adira mengerjap, sontak ia memutar lagi badannya guna mencari makanan yang dimaksud oleh Eza.


Rupanya ada box makanan disana, haruskah ia menerimanya? Tapi lumayan, Adira jadi tidak perlu menguras uang dan meninggalkan Elvis disini.


Lantas Adira pun menutup pintu kamar, dan berjalan ke arah nakas.


Ia membuka box tersebut, benar saja isinya memang makanan yang nampak sangat lezat, apalagi ditengah rasa lapar yang melanda, cacing-cacing diperutnya seolah mendesak Adira untuk memakannya. Tapi.... makanan Ini sudah dingin.


"Hangatkan di microwave...." Seru seseorang yang tak lain adalah Eza.


Ah benar! Di kamar VVIP seperti ini pasti disediakan fasilitas khusus. Adira tidak kepikiran sampai kesana.


"B-baik, emm...... Sebelumnya, terimakasih atas makanannya" lirih Adira, dan dibalas dengan deheman semata.

__ADS_1


Ia pun mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, dan benar saja... Benda itu tersimpan di pojok dekat lemari.


Tanpa pikir panjang Adira membawa box makanan itu dan menghangatkannya di microwave.


Setelah dua menit akhirnya makanan pun siap disantap.


Adira memilih menikmati sambil duduk di sofa yang lain, ia tidak mungkin duduk di satu sofa yang sama dengan Eza, terlalu sungkan dan pastinya akan sangat canggung.


Belum lagi kalau pria itu marah dan menganggapnya tidak tau diri.


Untunglah ruangan ini memiliki dua sofa yang berbeda. lebih tepatnya sofa satuan yang Adira pakai sedangkan yang Eza duduki adalah sofa panjang yang bisa ditempati sampai tiga orang.


Sambil meniup makanan yang mengepul, Adira melahap nasi beserta lauknya dengan lahap. Bisa-bisanya ia lupa kalau perutnya cuma diisi satu helai roti itupun saat tadi pagi.


Eza yang tengah fokus mengerjakan laporan diam-diam mengintip Adira dengan lirikan kedua bola mata. Mengamati sosok perempuan yang paling disayang oleh sang putra.


Wajahnya lumayan, tubuhnya pun ideal seperti layaknya perempuan normal, kulitnya putih dengan rambut panjang sepinggang.


Tidak ada yang istimewa, biasa saja! Nilainya dalam hati.


Kenapa wanita itu harus repot-repot mengurus orang lain, jika menghidupi dirinya saja dia kerepotan.


Seharusnya Elvis senang karena sekarang dia sudah menjadi orang berada, semua keperluan dan keinginannya pun bisa Eza kabulkan dalam sekejap mata. Tapi kenapa.... Selalu nama Adira yang muncul di otaknya, membuat Eza jadi geram ketika melihat wanita tersebut.


"T-tuan.....? A-anda melihat apa?"


Suara Adira berhasil membuat Eza terkesiap! Buru-buru Eza mengembalikan kesadarannya, apa itu tadi?? Ia melamun dan tidak ingat apapun. Apa jangan-jangan..... Sedari tadi pandangannya tertuju pada Adira??!!


Eza seketika panik membayangkan hal tersebut, jangan sampai Adira kegeeran akibat ulahnya.


"S-siapa yang melihatmu?!! Jangan terlalu percaya diri ya!" Ancam Eza, ia pun menatap lurus lagi pada laporan kerjanya, disertai wajah memerah bak orang kepanasan.

__ADS_1


Hahaha.... Dia tidak mungkin menganggap aku aneh kan? Aku hanya melirik sebentar, dia saja yang terlalu kepedean!


Eza berusaha menghibur dirinya sendiri, menyangkal jika sedari tadi dia diam-diam memandangi Adira.


Sedangkan yang dipandang terheran-heran dengan ucapan Eza, Adira tidak berpikir jika Eza sedang memandangnya, melainkan Adira pikir Eza masih menginginkan makanan yang tengah ia lahap saat ini. Takutnya Eza tidak ikhlas memberikan box makanan itu untuknya.


"Dia kenapa? Kenapa terlihat marah begitu? Apa sebenarnya dia hanya basa-basi saja menawariku makanan? Huhfff... Kalau tau seperti itu lebih baik tadi aku menolaknya saja" sesal Adira, tidak mungkin ia menawari bekas makanannya, lagi pun sedikit lagi sudah mau habis.


Selesai menyantap makan malam Adira kembali menghampiri brankar, tetapi ia tidak tidur disana melainkan duduk di kursi sambil mengecek ponselnya yang sedari tadi belum ia buka.


Rentetan pesan dan telpon tak terjawab memenuhi pemberitahuan ponsel Adira, beberapa telpon dari Qia dan Arumi mendominasi isi WhatsApp nya.


Tak mau membuat mereka khawatir Adira pun menuliskan pesan singkat pada keduanya, karena tak mungkin ia menelpon balik di jam segini.


"Maaf tadi aku tidak sempat membuka handphone. Aku sudah sampai, aku juga sudah bertemu Elvis. Sekarang aku menemaninya di rumah sakit. Mohon doanya agar Elvis cepat sembuh" ketik Adira.


Berada jauh dari orang-orang terdekatnya membuat Adira merasa kembali seperti awal kehilangan orang tuanya, berada di tanah Jakarta dan hidup dengan kesendirian.


Padahal dari lahir ia tinggal di Ibukota, tapi setelah lama tak menginjakkan kaki disini, Adira merasa sedikit asing.


Meskipun masih punya kenalan di Jakarta, tetapi Adira ragu untuk mengunjunginya. Ada beberapa orang yang ingin Adira datangi, seperti Marsya teman kantornya dulu, dan juga pak RT dan para tetangganya yang lain.


Adira hendak mengabarkan jika Elvis sudah tinggal bersama dengan orang tua kandungnya, bayi yang dibuang tujuh tahun lalu kini sudah menemukan keluarga aslinya.


Padahal mereka sama-sama dari Jakarta, entah bagaimana Tuhan bisa membuat pertemuan ini menjadi tujuh tahun lamanya. Kepindahan Adira ke Malang bisa jadi salah satu penyebabnya.


Entah Adira harus bersyukur atau iba, yang pasti kini ia sangat mengenal bayi yang sekarang beranjak dewasa, Adira sangat menyayangi bayi tersebut.


Bahkan kini Adira tengah berjuang agar bisa tetap bersama bayi kecilnya, meski tidak lahir dari rahimnya sendiri, tapi rasa cinta dan kasih seorang ibu tak akan pernah sirna dimakan waktu.


Mengingat momen-momen kebersamaan yang ia lalui dengan Elvis, membuat hatinya seperti didatangi pelangi, Adira ingin melakukan kebersamaan itu lagi, meski tingkat kemungkinannya hanya sebesar lima persen.

__ADS_1


Tanpa sadar Adira dibuat senyum-senyum sendiri, mengingat betapa indahnya masa-masa itu.


"Apa yang kau pikirkan???"


__ADS_2