
Pertanyaan Eza sontak membingungkan Adira.
"Bukankah kita sudah di depan rumah?" Imbuhnya.
"Bukan itu yang ku maksud!" Eza meninggi.
"Lalu?"
"Malang..."
"Kau akan pulang ke Malang?" Lanjutnya yang kini menatap wanita disampingnya dengan tatapan menghunus.
Adira menelan ludah dengan susah payah dengan satu tangan yang masih memegang gagang pintu kendaraan.
Entah angin apa yang membuat Eza bertanya hal itu, namun berhasil membuat Adira gusar dan tak bisa berpikir jernih.
"Tuan sudah tau dari Nyonya?" Mengajukan pertanyaan balik.
Eza kembali menatap lurus ke depan, cengkraman tangannya pada stir kian menguat, beriringan dengan isi hatinya yang tengah mengumpulkan keyakinan untuk mengatakan sesuatu.
"Aku bisa menggaji mu untuk mengurus Elvis"
Adira menautkan kedua alis sampai menyatu, menyimak baik-baik maksud kalimat yang Eza lontarkan.
"Kau punya pekerjaan disana kan? Keluarlah, bekerja disini sebagai pengasuh Elvis, aku akan memberi upah yang besar" lanjut Eza.
Senang?
Tapi kali ini tidak!
Adira merasa tersinggung dengan ucapan Eza, jelas lelaki itu tengah merendahkan harga dirinya. Adira melempar tatapan dingin yang tidak pernah ia perlihatkan. Giginya merapat menahan semua kata-kata yang sangat ingin ia keluarkan, begitupun dengan tangannya yang memegang handle mobil.
"Berapa yang kau butuhkan..."
"Saya bukan seorang pengasuh!" Sanggah Adira membuat Eza bungkam kemudian.
"Itu kan tujuan mu pulang?"
"Lebih baik saya tetap pergi dari pada harus mengasuh anak yang sudah saya anggap anak sendiri hanya demi uang semata!"
"Saya bukan pengasuh anak..."
"Saya seorang ibu!" Tegas Adira.
Eza cukup tercegung dengan keberanian Adira, tetapi itu tetap tak membuatnya sadar, malah semakin menyulut emosi seorang Eza.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan seperti ini?! Perlu aku ingatkan, Elvis bukanlah anak kandung mu. Aku tidak mau memiliki balas budi pada seseorang, sebaiknya kau segera sadar akan posisimu!" Sentak Eza tak bisa mengontrol kekesalan yang membengkak dalam dirinya.
"Oh ya? Kalau begitu silahkan urus sendiri putra anda, bukankah anda Ayah KANDUNG nya?"
Deg.
Seperti ditampar oleh Boomerang, Eza memaku ditempat. Dalam sekejap ia kehilangan kata-kata, ingin membalas pun Eza yakin ia hanya akan menanggung malu saja.
"Buka kuncinya" ketus Adira memerintahkan.
Tak banyak bicara, Eza membiarkan Adira keluar dari kendaraan ini meninggalkan dirinya yang masih setia di dalam mobil.
***
Malamnya Eza pulang larut malam, ia sengaja mengindari Adira karena kejadian tadi, rasanya Eza belum siap bertatap muka ketika makan malam, sebab itu ia menghubungi orang tuanya dengan alasan ada urusan kantor yang belum selesai.
Jam sepuluh mobil Eza nampak memasuki garasi rumah, sang pemilik keluar dengan pakaian yang masih melekat rapi di tubuh atletisnya.
Eza memasuki kediamannya yang sudah terlihat sunyi itu, Eza menduga kalau semua penghuni rumah pasti sudah tertidur.
Ketika kakinya baru saja menaikkan satu anak tangga, Eza langsung berhenti ketika suara seseorang terdengar tak jauh dari tempat ia berada.
"Baru pulang?"
Eza menoleh dan mendapati Tari disana, wanita paru baya itu mendekati sang putra yang baru saja hendak menuju lantai dua.
Tari mengangguk saja.
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada, hanya urusan proyek saja"
"Bukan itu, maksud mama.... Dengan Adira" ragu-ragu Tari berkata.
"Maksud mama?" Pura-pura tidak paham dengan pertanyaan sang ibu.
Tari tersenyum samar, ia mengusap lembut lengan putranya yang kini sudah menjadi seorang ayah, tetapi di matanya Eza tetaplah putra kecilnya.
"Za, insting seorang ibu itu sangat kuat. Mau kamu menutupinya serapat mungkin mama akan tetap tau. Kamu dan Adira ada masalah lagi? Tentang apa, Elvis?" Tutur Tari dengan lembut, membujuk putranya perlahan-lahan untuk mau berbicara jujur.
Lidah Eza seakan kelu untuk menepis fakta yang baru saja Tari katakan, padahal ia sedang tidak ingin membicarakan hal ini, tetapi mungkin Eza tak pandai berakting apalagi didepan ibunya sendiri.
"Apa sangat terlihat?" Lirihnya lesu.
"Sejak mengantar Elvis sekolah sikap Adira sedikit berubah, yang biasanya kami berdua mengobrol bersama hari ini tidak. Seperti ada masalah yang ditunjukkan kedua matanya, dia juga sempat menolak makan malam tadi. Tetapi ketika kami memberitahu kalau kamu lembur tanpa dipaksa dia pun mau. Kami khawatir kamu mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya" ujar Tari panjang lembar.
__ADS_1
Eza terdiam lagi ketika nama Adira disebut, sudah beberapa kali wanita itu meresahkan pikirannya semenjak kemarin, ditambah percekcokan yang terjadi tadi pagi kian menambah beban pikiran Eza.
"Papah menunggu di ruang kerja, kita mengobrol disana saja yuk. Atau kamu mau membersihkan diri dulu? Tidak apa-apa, kami tunggu"
"Tidak usah, kita kesana sekarang saja"
Di ruang kerja yang dipenuhi buku serta ornamen-ornamen tua yang terpajang di atas tembok, terlihat Arian tengah duduk di sofa dengan nyaman.
Pintu terbuka, Eza masuk dan ikut bergabung bersebrangan dengan sang Ayah yang nampak tetap bugar di usia senjanya.
"Mana ibumu?"
"Sedang meracik kopi"
Setelah itu tak ada pembicaraan apapun diantara kedua pria yang berbeda usia tersebut, hanya keheningan yang menyelimuti ruangan dengan sorot lampu temaram.
Tari muncul sambil membawa dua gelas kopi ditangannya.
Setelah menutup pintu, Tari meletakkan gelas-gelas itu diatas meja, kemudian duduk bersebelahan dengan sang suami.
"Terimakasih, sayang" sembari melingkarkan tangannya di pinggang si wanita.
"Sama-sama..."
Keduanya pun saling mengecup bibir satu sama lain, sebagai bukti kasih sayang yang tak pernah habis dimakan usia.
Sedangkan Eza memalingkan wajah sembarangan, meski sudah terbiasa tetapi ia tetap dibuat iri.
Percintaan orang tuanya terpantau sangat mulus, berbeda dengannya yang malah bernasib terbalik.
"Apa yang mau kalian bicarakan?" Setelah lama tak bersuara.
"Kata-kata pedas apa lagi yang kau katakan pada gadis itu?" Arian tanpa basa-basi.
Eza mendengus tak mau menatap orang-orang di depannya yang sudah menebak dengan sempurna.
"Aku hanya menyuruhnya tinggal disini sebagai pengasuh Elvis, dan menawarinya gaji besar, tetapi dia menolak dan tak terima" balas Eza.
"Alasannya?"
"Dia tak ingin dianggap sebagai pengasuh, dia berkata kalau dia adalah seorang ibu yang tak mau dibayar untuk mengurus Elvis. Padahal sudah aku ingatkan kalau Elvis bukanlah anaknya, dan aku ingin memberi dia upah sebagai imbalan karena telah mengurus putra ku" Eza menggebu-gebu, masih merasa dirinya tak salah dalam bersikap.
"Hahaha......!!" Arian tergelak mendengar pernyataan Eza, membuat pria itu mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
__ADS_1
"Tentu saja! Kau pikir tidak aneh ketika seseorang merawat bayi merah dari kecil, membesarkannya seorang diri, bekerja keras menghidupinya. Dan sekarang tiba-tiba beralih status menjadi pengasuh anak yang ia rawat dari kecil, kau pikir kasih sayang yang diberikan bisa dibayar dengan uang?"