MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)

MENIKAHI PERAWAN TUA (IBU ANGKAT ANAKKU)
Episode 66


__ADS_3

Malam ini hanya diisi oleh empat orang, suasana hening dan tenang, tidak ramai seperti biasanya, tetapi disitulah letak kerinduan yang ingin dicari.


"Papa merindukan anak kecil itu, kapan dia pulang?" Arian meletakkan sendok serta garpu, seraya menatap ke arah anak dan menantunya.


"Besok, Pah" jawab Adira disela-sela suapan.


"Apa perlu kita jemput kesana?" Lanjut Arian.


Adira menggeleng cepat, "Tidak usah, pah. Mereka yang akan mengantarkan El sekalian mau pamit pada kita semua"


"Pamit? Kenapa tidak menginap dulu sehari disini? Kami senang kalau ada banyak orang" ujar kakek yang tengah merindukan cucunya tersebut.


"Mungkin karena lusa mereka harus kembali bekerja, jadi harus cepat-cepat kembali ke Malang" tutur Adira memberi pengertian.


Arian manggut-manggut sembari melahap makanan ke dalam mulutnya yang kosong.


"Sabar sayang, mereka lebih merindukan Elvis karena sudah berbulan-bulan tidak bertemu" sahut Tari menimbrung.


"Iya, benar. Mungkin aku yang terlalu egois" membernarkan perkataan sang istri.


"Tidak ada yang egois, semua merindukan Elvis tak terkecuali aku" sahut Eza, tak ingin Ayah nya merasa rendah diri hanya sebab ingin melihat sang cucu disini.


"Hufttt..... Andai saja aku punya cucu kedua, pasti kita tidak akan rebutan seperti ini" desah Arian semakin melambung.


Eza langsung tersedak mendengar keluhan orang tuanya, ia menepuk dada yang terasa sesak.


"Uhuk...! Uhuk....!"


Adira dengan gesit menyodorkan air putih pada Eza, pria itu menerima gelas tersebut dan meminum airnya hingga tandas.


"Astaga, Za! Pelan-pelan kalau makan" Tari geleng-geleng.


Eza mendelik, entah kedua orang tua itu pura-pura tidak tau atau benar-benar polos dengan perkataannya sendiri. Tetapi kalimat yang keluar berupa sindiran di telinga Eza.


Arian ikut menoleh, kata-kata barusan berhasil membuat sang putra terkejut sampai terbatuk-batuk, apalagi melihat raut wajah Eza setelahnya.


"Maaf, kamu pasti tersinggung dengan ucapan Papa. Papa tidak bermaksud demikian" Arian merevisi, meski sejujurnya ia memang sengaja menyinggung.


"Lagi-lagi kamu tidak sabaran, Pah. Mereka baru menikah lusa kemarin, butuh waktu untuk kita mendapatkan cucu kedua" padahal dalam hati Tari ingin sekali tertawa mendengar singgungan suaminya.


"Kita doakan saja semoga Adira cepat diberi momongan, bukan begitu Ra?"

__ADS_1


Adira menyunggingkan senyum tipis, ia tidak bisa bereaksi lebih, semua orang pasti mendoakan agar pernikahan mereka segera dibuahi oleh seorang makhluk kecil, tapi bagaimana mau dibuahi seorang bayi, ia bahkan masih seorang perawan hingga saat ini.


"Kami bahkan belum saling mengenal, kenapa harus buru-buru? Kami belum memikirkan hal itu" ujar Eza mengambil jalan tengah, beralasan guna menghindari pertanyaan-pertanyaan yang membuat telinganya sakit.


"Kami sudah tua, nak. Tentu saja ingin menimang cucu lagi... Elvis bahkan sudah besar untuk Papa gendong"


"Papa masih sangat bugar, lagipula di keluarga kita banyak anak-anak kecil, mereka juga cucu-cucu Papa"


"Memang! Tapi maksud Papa ingin cucu dari mu, bukan hanya sekedar banyak saja"


""Mama benar, doakan saja kami Pah. Kami tidak akan menolak rezeki yang diturunkan Tuhan" sela Adira.


Ia ingin menghentikan percekcokan diantara ayah dan anak tersebut, bisa-bisa situasi berubah memanas kalau dibiarkan.


Eza kian menoleh menatap Adira, tatapan mereka silih beradu. Eza cukup terkejut, ia jadi berpikiran kalau Adira ingin memiliki keturunan dengannya. Tetapi Adira lebih dulu memutus kontak mata, membuat Eza tak mendapat jawaban yang pasti.


Suasana pun sunyi lagi, sampai acara makan malam berakhir.


***


Di kamar


Adira bingung mau memakai gaun tidur yang mana, semua bajunya sangat seksi dan terbuka, Adira sendiri malu melihatnya.


Akhirnya ia memilih salah satu yang berwarna hitam, setelah itu Adira berdiri di depan cermin sambil memutar setengah badannya, mengamati tubuh indah itu dengan balutan dress mini yang memeluk.


Adira menutup buah da da nya yang menyembul, dengan ukuran yang lumayan besar area sensi tif tersebut terekspos karena minimnya kain tidur yang Adira pakai.


"Ini lebih parah dari yang kemarin...." Cicit Adira menilai.


Clekkk!


Adira terlonjak ketika mendengar suara pintu terbuka, ia reflek menutup bagian dada dan menengok melihat siapa yang datang.


Eza masuk tanpa mengetuk pintu, penglihatannya langsung menangkap sosok Adira yang tengah berdiri di depan kaca, bola mata Eza spontan mengamati tampilan wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan tangan yang menutup pintu kamar.


Adira tertegun, ia berdiri dengan siaga disertai pandangan was-was.


Setelah pintu tertutup, Eza maju tiga langkah. Bersedekap sambil meneliti wanita yang tengah gelisah ketika dipandang demikian.


"Bukankah pakaian ini yang dipakai wanita sebelum melakukan ritual?" Seru Eza.

__ADS_1


"R-ritual?" Adira tergagap, mencoba menelaah maksud suaminya.


"Kau ini memang tidak tau atau pura-pura polos? Jangan bilang kau tidak pernah melakukannya selama tiga puluh tahun kau hidup?" Lempar Eza.


Adira mengerutkan kening, bahasa yang Eza gunakan terlalu bermakna ganda, ia dibuat bingung sendiri.


"Maksud mas.... Ritual suami istri?" Malu-malu Adira menjawab.


"Sangat tepat sasaran!"


"Apa??? Tentu saja aku tidak pernah melakukan itu! Aku masih....." Adira tak meneruskan, terlalu vul gar rasanya berbicara ke arah sana.


"Kenapa mas berpikir aku sudah melakukan hal itu? Padahal mas tau aku belum pernah menikah?"


"Di zaman sekarang.... Ditambah orang-orang tau kau sudah memiliki anak, kau bisa melakukannya tanpa khawatir harus mencari alasan untuk meyakinkan mereka" Eza dengan gampangnya, sebagai orang dewasa, menahan hasrat bukanlah hal mudah, setidaknya sekali dalam seumur hidup.


"Tidak semua orang seperti itu, mas tidak bisa menyamakan satu orang dengan apa yang mas lihat" elak Adira, ia berusaha tegar meski hatinya merasa tercubit.


"Oh ya?"


"Ya! Lalu bagaimana dengan mas, kalau mas saja berpikir seperti itu pasti mas sudah melakukannya dengan wanita diluar sana. Mas menduda selama tujuh tahun, dan bukan hal mudah untuk menahannya. Berapa banyak wanita yang sudah mas gagahi?" Tak segan-segan, Adira mengeluarkan kalimat sarkas yang sangat pedas, ia ingin sekali membuat lelaki didepannya tersebut bungkam.


Eza kian terpojok, ia secara cepat mengelak tuduhan sang istri.


"Jangan asal bicara! Aku tidak pernah berkeliaran untuk sekedar memuaskan hasrat, meski aku menduda selama tujuh tahun tapi aku tetap menjaga kehormatan ku" jelasnya.


"Lantas kenapa mas mengira aku pernah melakukannya dengan pria lain? Apalagi aku seorang wanita, aku hanya akan memberikan kesucian ini pada suami ku kelak" tutur Adira membuat Eza membisu, entahlah.... Ia juga tidak tau kenapa tiba-tiba berkata seperti itu.


"Kenapa mas diam? Mas sudah percaya dengan penjelasan ku?" Desak Adira.


Eza tak mengeluarkan suara sampai satu menit, tetapi matanya tak pernah lepas dari Adira, selalu menyoroti wanita itu.


Adira masih perawan? Hal itu mengelilingi isi otaknya, sesuatu yang entah kenapa membuat sudut hati Eza yang paling dalam merasa berbunga.


Hening...


Hening...


Hening...


Sampai akhirnya Eza berujar lagi.

__ADS_1


"Lantas sekarang kau akan memberikannya pada suami mu ini?"


__ADS_2