
Sambil membuka buku menu, Tari pun menyebutkan es krim apa yang ia inginkan.
Sang pelayan mencatat pesanan di atas kertas dengan teliti, tak mau sampai membuat kesalahan sedikit saja.
"Elvis mau coba rasa tiramisu plus toping Oreo yang banyak" imbuh Elvis dan segera ditulis oleh pria berseragam merah itu.
"Kamu mau rasa apa, Ra?" Pertanyaan Tari memecahkan lamunan Adira, perempuan tersebut pun langsung menyebutkan pesanannya tanpa melihat menu terlebih dahulu.
"Saya pesan red Velvet saja"
"Topingnya, Nona?"
"Tidak pakai toping"
"Baik" pelayan menyebutkan pesanan terlebih dahulu barulah ia beranjak untuk menyiapkan es krim mereka.
"Nah kita tunggu sebentar, tidak akan lama kok" Tari berkata.
Adira yang penasaran dan tak bisa membendungnya lagi, lantas bertanya pada wanita paru baya didepannya.
"Maaf Nyonya, saya masih bingung. Kenapa kita tidak antri dulu tadi? Apakah Nyonya pelanggan setia disini, maka dari itu pelayan pun langsung tau dan menghampiri kita?" Ujar Adira.
Sontak Tari malah tergeletak mendengarnya, baginya pertanyaan Adira sangat lucu, ditambah ekspresinya polos serta kebingungan.
Sedangkan Adira makin terheran karena Tari yang justru menertawakannya.
"Hahaha....! Maaf Adira, tapi perut saja tiba-tiba geli mendengar pertanyaan kamu" sembari mengusap ujung matanya yang basah.
"M-maksud Nyonya?"
"Toko es krim ini punya Om Eza" tukas Elvis mendahului.
"A-apa???"
Sangking kagetnya Adira sampai tidak bisa mengontrol intonasi suara, orang-orang disekitar ramai melihat ke arah meja mereka.
"Tidak usah kaget begitu, lebih tepatnya usaha es krim ini didirikan oleh salah satu teman Eza, Eza membantu menanamkan modal dan menjadi pemegang saham tertinggi dari awal dibuat hingga saat ini. Makanya kami sangat terkenal dikalangan para pegawai" tutur Tari menyimpulkan.
Astaga... Kalau begitu selama ini ia dan Elvis tanpa sadar telah mengenal Eza cukup lama, meski hanya melalui bisnisnya, benar-benar plot twist sekali.
"Jadi itu alasannya, pantas saja saya jadi bingung. Setau saya tidak ada meja VIP disini" cetusnya lagi.
"Hahaha....." Tari tergelak.
"El jadi bisa pesan sepuasnya, iya kan Oma?"
Dan dianggukki oleh sang nenek.
"Tentu, El tinggal bilang saja. Nanti pesanannya pasti datang"
Padahal mau usaha itu milik Eza ataupun bukan Elvis tetap bisa membelinya kapanpun dan berapapun itu.
__ADS_1
***
Malam hari Eza duduk di ruang keluarga sambil menikmati es krim miliknya yang ia minta tadi siang.
Selesai makan malam Eza melanjutkannya dengan melahap dessert yang satu ini, meski sudah tidak muda lagi tetapi es krim tetap jadi cemilan favoritnya. Tak sia-sia ia membantu temannya membuka bisnis yang satu ini.
Sambil ditemani TV yang menyala Eza hanya memfokuskan diri pada makanannya, sedangkan layar lebar itu setia menontoni Eza.
Elvis yang hendak menyusul Adira yang sedang berada di dapur tiba-tiba menghentikan langkah saat tak sengaja melihat sang Ayah yang tengah duduk di ruang keluarga sendirian.
Tetapi bukan karena Eza, Elvis berhenti. Melainkan es krim yang ada di tangan pria itu yang menyita pandangan sang bocah.
"Om!" Elvis pun lantas memanggil si pria.
Eza seketika mendongak ke arah sumber suara, diambang pintu Eza mendapati Elvis tengah berdiri.
"El? Ada apa, nak? Sini duduk dengan papah" sambil menepuk sofa sebelahnya.
Tanpa diduga Elvis menurut dan menjatuhkan bookongnya disana.
"Itu es krim yang tadi El beli ya?" Ucap anak tersebut.
"Iya, El mau?" Eza menawarkan.
"Emang boleh?" Yang justru berbalik tanya.
"Boleh dong, ini...." Tak tanggung-tanggung, Eza menyodorkan es krim dengan wadahnya sekaligus.
"Wahhh.... Makasih Om"
Lima belas menit berlalu...
Adira yang baru saja selesai membantu mencuci piring bekas makan malam dibuat kebingungan ketika tidak mendapati keberadaan Elvis.
Ia sudah mencari ke kamar, ruang tamu, ruang tengah tapi tetap tidak ada, Adira terus menyeret kakinya hingga sampai di ruang keluarga. Paru-parunya mengempis ketika melihat Elvis ternyata ada disana, tapi kemudian nafasnya tersendat kala melihat dengan siapa Elvis duduk.
"Mama...." Elvis yang menyadari kehadiran sang ibu pun memanggilnya.
Adira melempar senyum pada sang putra.
"Mama cari El kemana-mana, ternyata ada disini"
"El lagi makan es krim punya Om Eza, mama duduk sini" sambungnya menyuruh Adira ikut bergabung.
"El habiskan saja es krimnya, mama mau kembali ke kamar"
"Jangan dulu!! Temani El disini, sebentar lagi kok" menahan Adira berlalu.
Akhirnya dengan berat hati Adira pun masuk ke dalam ruang keluarga.
"Permisi, Tuan...." Ketika melewati Eza.
__ADS_1
Eza berusaha tetap acuh, meski begitu ia tetap membiarkan Adira masuk karena keinginan Elvis.
"Kenapa masih makan es krim? El kan tadi sudah mencobanya di mall" begitu duduk disamping Elvis.
"Hehehe.... Soalnya El masih pingin lagi, jadi El minta deh punya Om Eza" jawabnya.
"Jangan banyak-banyak makan makanan dingin, nanti El bisa batuk"
"Iya, ma. Ini terakhir kok"
"Mama, mau?" Tawarnya pada Adira.
Eza yang mendengar percakapan kedua orang disampingnya mendadak mencebikkan bibir karena merasa diabaikan lagi, jika ada Adira diantara ia dan Elvis, Eza tak lebih dari sebiji kacang.
"Tidak, mama sudah kenyang" Adira beralasan.
"Coba dulu... Ini enak loh" desak Elvis menyodorkan sendok pada Adira.
"El saja yang makan, nanti malah kurang kalau mama minta" tetap menolak halus.
"Enggak akan! Coba dulu..." Tak menurunkan tangannya sedikitpun.
Pada akhirnya Adira hanya bisa mengalah, satu suap es krim pun mendarat di mulut Adira, membuat lidahnya kedinginan.
"Enak, kan?"
"Iya, enak" balas Adira agak samar.
Eza makin menekuk wajahnya melihat keromantisan sang putra dengan wanita disebelahnya, ia cemburu sebab Elvis mengacuhkan dirinya padahal es krim itu didapat darinya.
Tetapi beberapa detik setelahnya Elvis menyodorkan sendok es krim kepada Eza, membuat pria itu kebingungan dan menatap Elvis lama.
"Om, buka mulutnya!"
"Hah?" Eza mendadak meloading dengan sikap Elvis.
"Om juga mau, kan? Buka mulutnya, El suapin" lanjut Elvis.
Jantung Eza kian bergetar, merasa terharu walaupun hanya mendapat perhatian kecil seperti ini. Ternyata Elvis tak lupa dengan dirinya.
Baru saja Eza hendak membuka mulut, ia mendadak membeku ketika teringat sesuatu. Sendok itu bekas suapan Adira! Meski awalnya Eza yang lebih dulu memakainya tetapi tetap saja dinamakan ciuman tidak langsung.
Adira yang melihat itu juga turut berdebar, bagaimana jika Eza menerima suapan dari Elvis?! Eza tidak mungkin mau satu sendok dengannya kan?
Eza masih mematung, perlahan Elvis mulai mengendurkan tangannya yang terasa pegal, Elvis merasa Eza mungkin memang tidak mau.
Eza yang melihatnya pun panik, kapan lagi kan ia akan merasakan momen ini? Dengan gerakan kilat Eza menunduk kemudian melahap es krim tersebut ke dalam mulutnya.
Deg!
Adira tercengang tak percaya! Eza melakukannya?? T-tapi.... Sendok itu bekas air liurnya.
__ADS_1
"El kira Om gak mau"
"Kalau El yang suapi, papah pasti mau" sembari mengusap rambut sang putra, kemudian melirik ke arah Adira yang masih memasang wajah terkejut. Mereka saling pandang beberapa detik sampai dimana Eza segera membuang muka.