
"Kejepang mas?," tanya Larissa.
"Iya sayang," jawab Reyhan.
Larissa tampak berfikir, ia ingin sekali berkunjung kerumah mommy dan daddynya dijepang. Tapi ia takut merepotkan suaminya.
Larissa tahu sekali, kalau Reyhan sangat sibuk. Ia tidak ingin suaminya sakit karena kelelahan.
"Bagaimana, apa mau kejepang?," tanya Reyhan.
Pria itu menarik dagu Larissa agar wajahnya menghadapnya dan melihat dirinya.
"Aku mau kesana tapi sama kamu mas," jawab Larissa.
"Tentu saja sama aku sayang," ucap Reyhan.
"Tapi, bukannya kamu sibuk ya mas?," tanya Larissa.
"Urusan pekerjaan itu nomer dua sayang. Nomer satunya ya kamu," ucap Reyhan.
Larissa tersenyum. Suaminya ini benar-benar bisa membuat suasana hatinya lebih baik.
Pada akhirnya, Larissa menganggukan kepalanya, tanda ia setuju dengan ide suaminya.
"Kita berangkat besok ya," ucap Reyhan memberi tahu.
"Apa nggak terlalu mendadak mas?," tanya Larissa.
"Nggak sayang. Disana kita tiga hari aja, karena aku ada pekerjaan penting," ucap Reyhan.
"Iya mas, nggak apa-apa, yang penting kejepangnya sama kamu," ucap Larissa yang diangguki oleh Reyhan.
Keesokan harinya.
Larissa dan Reyhan berangkat pagi-pagi sekali menuju bandara dan akan pergi kejepang.
Ini adalah perjalanan luar negeri pertama kalinya mereka tempuh bersama, setelah berbaikan.
Kedua orang itu sangat menikmati perjalanannya, serasa honey moon lagi.
"Sekalian kita honey moon ya sayang, aku mau nanti malam 3 ronde," ucap Reyhan.
Pria itu dengan santainya berbicara demikian, tanpa melihat situasi disekitarnya lebih dulu.
Larissa yang mendengar ucapan Reyhan seketika mendelikan matanya. Ia menengok kekiri dan kanan serta depan belakang, benar saja orang disekitar mereka mendengarnya dan menatap mereka berdua.
Saat ini mereka menggunakan pesawat umum, bukan jet pribadi hadiah pernikahan dari Cristian.
Orang-orang yang mendengar ucapan Reyhan tersenyum sembari berbisik pada penumpang disebelahnya.
"Mas Reyhan kalau ngomong, coba lihat situasi dan kondisi kita sedang ada dimana," bisik Larissa.
Reyhan segera mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum seraya menganggukan kepalanya pada semua orang yang menatap kearahnya.
"Hehehe, maaf sayang. Aku lupa kalau kita sedang dipesawat umum," ucap Reyhan.
"Aku malu tahu mas," ucap Larissa.
"Kenapa malu sayang, kita kan suami istri dan sudah pernah melakukannya. Ini buktinya," ucap Reyhan kemudian menunjuk perut buncit istrinya.
__ADS_1
"Iya, benar mas, Ini buktinya. Bukti cinta kita," ucap Larissa.
"Wahh, udah bisa gombal ya sekarang," ucap Reyhan seraya memencet hidung mancung istrinya.
Lagi-lagi interaksi sepasang suami istri itu mampu membuat semua yang melihatnya ikut baper.
Tidak hanya disitu saja. Larissa dan Reyhan saling melontarkan candaan satu sama lain.
Hingga tidak terasa akhirnya mereka tiba ditokyo jepang.
Reyhan dan Larissa, sudah dijemput oleh Karina dan Cristian dibandara.
Mereka dikabari mendadak oleh Reyhan saat hendak berangkat kebandara bersama Larissa.
"Mommy, daddy," panggil Larissa.
Wanita itu baru saja turun dari pesawat bersama suaminya.
Saat memasuki bandara, Larissa sudah bisa melihat mommy dan daddynya menjemput dibandara.
"Sayangg," ucap Karina seraya merangkul putrinya.
"Mommy, daddy apa kabar?," tanya Larissa.
"Kabar kami baik sayang. Ayo kita langsung kerumah. Kamu pasti capek, kan?," tanya Karina.
"Iya mom," jawab Larissa.
Reyhan menyalimi kedua mertuanya. Lalu mereka bergegas untuk pulang kerumah Cristian yang tidak jauh dari bandara.
Mereka semua masuk kedalam mobil, dengan Cristian yang mengemudikan mobilnya.
Karina duduk dikursi tengah bersama Larissa, sedangkan Reyhan duduk disebelah Cristian yang mengemudikan mobil.
"Iya mom, aku kan hamil janin kembar. Ini baru 4 bulan sudah sebesar ini. Mommy bayangkan aja gimana kalau sudah sembilan bulan," ucap Larissa.
Karina yang mendengar ucapan Larissa segera membayangkan ucapan putrinya itu.
Dalam bayangannya, Larissa sedang berjalan dengan perut buncit dan besar. Seperti orang yang cacingan.
'Hih, ngerri' batin Karina sembari bergidik.
"Mommy kenapa?," tanya Latissa.
"Eh, enggak sayang. Mommy cuma bayangin kamu yang kurus dengan perut buncitnya, jadi kaya orang cacingan" jawab Karina.
"Iihh, mommy ngatain aku cacingan?," tanya Larissa.
"Nggak sayang. Mommy hanya membayangkan," ucap Karina.
"Sama aja mom," ucap Larissa memberengut.
Kedua pria yang duduk didepan hanya mendengarkan kedua wanita dibelakangnya yang sedang bercerita.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba dirumah Cristian.
Rumah tersebut tidak sebesar rumah yang dijakarta.
Namun memiliki arsitektur yang menarik, sehingga menjadikan rumah tersebut serasa lebih hidup.
__ADS_1
Cristian sempat menanyai Reyhan kasus pemutusan hubungan kerja yang dilakukan Marcell pada perusahaannya.
Cristian dan Karina juga tahu bila putrinya pernah diculik oleh Marcell.
Namun ia sudah mempercayakan seluruhnya pada Reyhan, bila menantunya itu bisa menangani masalahnya sendiri.
Saat ini mereka tengah berbincang diruang tamu.
Larissa sejak masuk kedalam rumah hanya diam.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya, makanan yang entah ia tidak tahu seperti apa rasanya.
"Kamu kenapa nak?," tanya Cristian, karena ia melihat putrinya hanya diam saja.
"Aku ingin makan cilok," ucap Larissa.
"Apa, cilok?!," Pertanyaan itu bukan Cristian yang melontarkan, melainkan Reyhan.
Larissa menganggukan kepalanya, tanda membenarkan pertanyaan suaminya.
Baru saja sampai dijepang, istrinya sudah minta makanan yang tidak ada disana.
Sedangkan bila Larissa sudah menginginkan sesuatu harus segera dituruti. Bila tidak, wanita itu akan marah.
'Masa iya ciloknya dikirim kesini' batin Reyhan.
Ia bahkan menggaruk kepalanya, bukan karena gatal, melainkan karena bingung.
"Disini tidak ada cilok, sayang. Kamu makan yang lain saja ya," ucap Reyhan kemudian bertanya.
"Nggak mau mas, aku maunya cilok," ucap Larissa.
Reyhan menolehkan kepalanya pada Karina dan Cristian. Namun kedua mertuanya sama-sama mengedikan bahunya.
Mereka tidak akan ikut-ikutan membujuk Larissa. Cristian dan Karina justru meninggalkan anak dan menantunya, disana.
"Kalau ciloknya aku yang bikin, gimana?," tanya Reyhan.
"Nggak mau, aku maunya cilok bandung," jawab Larissa.
"Iya sayang cilok bandung, tapi aku yang bikin," ucap Reyhan.
"Nggak mau, aku maunya cilok bandung asli dari bandung!" ucap Larissa, ia bahkan merubah nada bicaranya jadi lebih tinggi.
"Kalau begitu makan ciloknya nanti kalau kita sudah pulang keindonesia," ucap Reyhan masih membujuk Larissa.
"Nggak mau. Aku mau makan ciloknya disini," ucap Larissa.
Ia benar-benar ingin makan cilok bandung disini.
Reyhan akhirnya mengalah. Ia menghubungi Dion, agar membelikan cilok bandung, dan mengirimkannya kejepang melalui kru pesawat jet yang hendak menjemput mereka pulang.
Setelah memastikan Dion mau membelikannya. Reyhan menghampiri Larissa, yang masih duduk disofa ruang tamu.
"Sudah aku pesan ciloknya. Nanti akan dibawakan oleh kru pesawat jet kita," ucap Reyhan.
Mendengar ucapan Reyhan, Larissa seketika tersenyum kembali. Ia bahkan segera merangkul suaminya, dan mengecup bibir pria itu.
Cup.
__ADS_1
"Makasih ya mas," ucap Larissa.
Reyhan membalas senyuman Larissa, dalam hatinya ia merasa lega, akhirnya istrinya itu kembali tersenyum. Tidak seperti tadi yang memberengut gara-gara cilok.