
Seminggu berlalu.
Cristian sudah kembali kejepang untuk melanjutkan bisnisnya. Selama ia dijakarta, pria itu benar-benar menghabiskan waktu bersama keluarganya. Sesekali juga Cristian meminta Dion untuk menginap dirumahnya.
Dion sudah banyak berubah. Pria itu banyak belajar bisnis dengan Reyhan, hal itu benar-benar ia syukuri karena mendapatkan seorang guru yang genius.
Saat ini Reyhan tengah berada dikantor Darwin Properties. Bukan hanya Reyhan yang ada dikantor itu, melainkan Larissa juga. Wanita itu selalu menemani suaminya bekerja.
Larissa hanya duduk disofa dan memakan camilan sembari memperhatikan Reyhan yang sedang bekerja. Bila merasa bosan, Larissa akan menonton film diponselnya dan bila mengantuk ia akan tidur dikamar ruang kerja itu.
"Gun, apa Sanjaya sudah mengirim pesanan kita?," tanya Reyhan pada Gunawan yang berada diruangan itu.
"Belum pak. Padahal ini sudah lebih dari seminggu kita memesannya, tapi mereka belum mengirim juga barangnya," jawab Gunawan.
"Kamu pantau terus Sanjaya Group, aku yakin permintaan barang kali ini tidak akan berjalan lancar seperti sebelumnya," ucap Reyhan.
"Baik pak. Kami akan menanyakannya seminggu dua kali kepada Sanjaya Group," ucap Gunawan.
Reyhan menganggukkan kepalanya kemudian meminta Gunawan untuk melanjutkan pekerjaan pria itu.
Larissa sejak tadi hanya memperhatikan Reyhan. ia cukup penasaran dengan apa yang dibahas oleh suaminya dan sekretarisnya.
Meski penasaran namun Larissa tidak ingin bertanya, nanti disangka ikut campur, terlebih lagi ia bukan bagian dari perusahaan yang memiliki posisi penting diperusahaan itu.
Melihat Larissa seperti ada yang ingin dibicarakan, Reyhan yang sedang bekerja menghentikan pekerjaannya lalu menghampiri istrinya.
"Ada apa sayang?," tanya Reyhan setelah duduk disebelah Larissa.
Larissa menggelengkan kepalanya sembari masih memakan camilannya.
"Yakin tidak ada yang ingin kamu bicarakan," tanya Reyhan lagi.
Larissa menghentikan makannya. Ia kemudian menatap mata Reyhan dalam-dalam.
"Apa kalau aku tanya kamu akan jawab?," tanya Larissa yang dijawab anggukan kepala oleh Reyhan.
"Apa ada masalah dengan Sanjaya Group?," tanya Larissa.
"Tidak ada. Hanya saja aku merasa Sanjaya Group sengaja memperlambat pengiriman pesanan kami," jawab Reyhan.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?," tanya Larissa.
"Karena Marcell CEO dari perusahaan itu," jawab Reyhan.
"Apa! Marcell CEO Sanjaya Group!," teriak Larissa terkejut.
Reyhan tersenyum melihat istrinya terkejut sampai segitunya.
__ADS_1
Larissa menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan hal itu.
"Kenapa kamu seperti tidak percaya?," tanya Reyhan.
"Bukan tidak percaya mas, tapi aku jadi berfikir sama sepertimu, kalau Sanjaya Group memang sengaja menunda pengiriman barangnya," jawab Larissa.
Sebelum Marcell yang menjadi CEO nya, sanjaya Group selalu lancar mengirim barang pada perusahaannya. Tapi baru beberapa saat dipimpin oleh Marcell, Sanjaya Group bertindak semaunya.
Reyhan akan terus memantau sejauh mana Marcell bertindak.
Pria itu tak mau membahas lagi pekerjaan bersama Larissa, ia takut bila istrinya itu akan memikirkan terus.
"Itu semua adalah urusanku, kamu jangan ikut memikirkannya. Fokus saja pada calon anak kita," ucap Reyhan.
"Tapi aku tetap kepikiran mas," ucap Larissa.
"Kamu pikirkan saja calon anak kita. Mau diberi nama siapa, atau apalah yang penting jangan memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Oke," ucap Reyhan.
"Iya mas" jawab Larissa seraya tersenyum.
Reyhan kemudian melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Larissa memilih untuk mencari nama-nama bayi kembar diinternet.
Nama bayi kembar dari huruf A hingga Z dilihat olehnya. Namun ia justru bingung memilihkan nama untuk calon anaknya.
"Aku jadi bingung," gumam Larissa.
Pandangan wanita itu melihat langit-langit ruangan kerja Reyhan. Hingga akhirnya ia terlelap dengan sendirinya
Cukup lama wanita itu terlelap hingga akhirnya Reyhan menyadari bila istrinya sudah tertidur disofa.
Pria itu menghentikan pekerjaannya, lalu berjalan menuju Larissa yang sedang terlelap.
Digendongnya lah tubuh Larissa oleh Reyhan. Pria itu memindahkan Larissa yang sudah terlelap masuk kedalam kamar.
Setibanya didalam kamar, direbahkan lah tubuh Larissa diranjang sana, lalu kemudian ia selimuti hingga bagian perut.
Reyhan berjalan pelan untuk keluar dari kamar, agar tidak membangunkan Larissa.
Setibanya diluar, ditutupnyalah pintu kamar itu dengan perlahan dan Reyhan lanjut mengerjakan pekerjaannya.
Tok tok tok
Pintu ruangan kerja Reyhan diketuk oleh seseorang dari luar sana.
"Masuk" titah Reyhan.
Dibukalah pintu ruangan itu oleh Gunawan.
__ADS_1
"Maaf pak, kalau saya mengganggu. Ini ada surat pengunduran diri dari salah satu staff marketing kita," ucap Gunawan.
Reyhan mengernyit, dalam benaknya ia bertanya, siapa yang hendak mengundurkan diri?, apa jangan-jangan salah satu dari ketiga temannya.
Namun pertanyaan itu tidak ia utarakan. Reyhan justru meminta Gunawan untuk memanggil staff yang hendak mengundurkan diri itu.
Gunawan menurut dan ia bergegas keluar dari ruangan kerja Reyhan untuk memanggil staff yang hendak resign.
Tidak butuh waktu lama, Gunawan masuk kembali keruang kerja Reyhan bersama dengan staff yang hendak resign.
"Jadi kamu Sat, staff yang mau resign itu?," tanya Reyhan.
"Iya Rey, aku mau resign. Aku diminta papah untuk nerusin bisnis keluarga, memang tidak sebesar Darwin Properties, tapi sekarang sudah memiliki cabang diberbagai daerah dan salah satunya ada dijakarta," jawab Satria.
"Baiklah Sat, surat resign mu aku terima. Semoga bisnis keluargamu lancar ya," ucap Reyhan.
"Thank's ya Rey. Aku tidak mengambil pesangon, aku akan resign hari ini juga, sesuai dengan isi surat yang aku buat," ucap Satria.
Reyhan menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian membuka surat pengunduran diri milik Satria, dan benar saja, disana tertulis bahwa Satria mengundurkan diri hari ini juga.
Pria itu melipat kembali surat resign Satria dan memasukannya kembali kedalam amplop.
"Apa Edwin dan Adam sudah tahu?," tanya Reyhan.
"Sudah Rey. Maaf kamu jadi orang yang terakhir tahu kalau aku mau resign," ucap Satria.
"Apa setelah resign kamu pulang kejogja?," tanya Reyhan.
"Tidak Rey, aku tetap dijakarta. Papahku sudah memusatkan kantor perusahaan disini. Jadi aku akan bekerja dijakarta dan memantau cabang perusahaan lainnya dari sini" jawab Satria.
Reyhan menganggukan kepalanya mengerti.
"Datanglah nanti malam kerumah, ajak juga adam dan Edwin bersamamu. Aku ingin kita makan bersama sebelum kamu resign," ucap Reyhan.
"Oke Rey, aku akan ajak Edwin dan Adam kerumahmu nanti malam," ucap Satria.
Reyhan menganggukan kepalanya. Satria pamit untuk kembali ketempatnya bekerja sedangkan Reyhan ia memilih melihat istrinya yang masih terlelap.
Setelah memastikan istrinya masih terlelap, Reyhan segera menghubungi Dion dan Risty untuk ikut hadir diacara makan malam perpisahan Satria.
Satu teman perjuangannya telah resign, besok-besok pasti akan ada yang resign lagi. Entah itu Edwin maupum Adam.
Reyhan tidak akan melarang bila sahabatnya akan resign. Ia akan mendukung, apa pun keputusan para sahabatnya.
Bila bisa memilih, Reyhan ingin teman-teman seperjuangannya tetap bekerja bersamanya.
Tapi itu mustahil karena semua orang memiliki kehidupannya masing-masing.
__ADS_1