
Brakk.
Marisha menutup pintu mobil dengan kencang.
"Arrgh!" Teriak Marisha setelah ia masuk kedalam mobil.
"Gagal, gagal, gagal!" ucap Marisha.
"Sedikit lagi Larissa meminumnya" ucap Marisha.
Wanita paruh baya itu terus uring-uringan karena misi rencananya gagal.
...*Flashback on*...
Marisha dikabari oleh salah satu pelayan dirumah Cristian kalau Larissa pingsan dan dibawa oleh Reyhan kerumah sakit. Kabar tersebut tentunya membuat ia senang pasalnya Larissa tidak baik-baik saja dan itu saat yang tepat untuknya menjalankan misi.
Setelah Reyhan pergi dari rumah sakit dan meninggalkan Larissa disana bersama bi Lia tidak lama kemudian Marishapun datang untuk membesuk keponakannya itu.
Tok tok tok
Marisha mengetuk pintu kamar rawat Larissa dan segera dibukakan oleh bi Lia.
"Nyonya Marisha? Mari nyonya silahkan masuk" ucap bi Lia mempersilahkan.
Marisha tak menjawab namun ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar itu.
"Bagaimana kondisimu Larissa?" tanya Marisha setelah wanita itu masuk kekamar rawat Larissa.
"Baik tante, hanya sedikit mual dan muntah tapi kata dokter itu hal yang wajar bagi setiap orang yang sedang hamil muda" ucap Larissa.
Marisha menganggukan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan Larissa. Wanita itu kemudian meletakan satu kranjang buah-buahan untuk Larissa dimeja yang ada diruangan itu.
"Ini untuk mu Rissa" ucap Marisha.
"Terimakasih tante" ucap Larissa.
Marisha kemudian beralih mendekati Larissa dan duduk dibrangker itu. Wanita itu memijit kaki Larissa perlahan seolah-olah ia sangat menyayangi keponakannya itu.
Dari tempat yang lain bi Lia hanya memperhatikan pergerakan dari Marisha. Sedikit banyaknya ia tahu tentang keluarga majikannya itu karena memang ia sudah lama bekerja dengan Cristian.
"Kamu jangan sungkan ya sama tante, anggap saja tante ini mommy kamu juga" ucap Marisha.
"Iya tante" jawab Larissa datar.
Meski ia hilang ingatan, Larissa juga bisa merasakan mana orang yang menyukainya dan yang tidak menyukainnya.
Lama Larissa dipijit kakinya oleh Marisha hingga ia merasakan kantuk namun saat hendak tertidur ia merasakan perutnya yang mual.
__ADS_1
"Bi, bi Lia aku ingin muntah" ucap Larissa memanggil bi Lia.
"Iya non" jawab bi Lia sembari berlari mendekati majikannya itu.
"Sini bibi bantu" ucap bi Lia.
Bi Lia membantu memegangi botol infus dan memapah majikannya itu menuju kamar mani.
Hoeekk Hoeekk.
Didengar oleh Marisha suara dari kamar mandi Larissa sedang muntah. Wanita itu menyeringai ia kemudian mendekati nakas dimana makanan dan minuman untuk Larissa berada. Ia kemudian memasukan sesuatu pada minuman Larissa dan kembali ketempat sebelumnya.
"Beres, semoga aja Larissa dan janinnya kenapa-napa" ucap Marisha sembari tersenyum menyeringai
Ceklek.
Pintu kamar mandi dibuka oleh bi Lia dan keluarlah wanita itu bersama Larissa yang dipapahnya.
"Apa kamu baik-baik saja Larissa?" tanya Marisha.
"Iya tante aku baik-baik saja" ucap Larissa.
Larissa dibantu oleh bi Lia untuk naik kembali keatas brankernya
"Bi aku mau minum" ucap Larissa.
Larissa menerima gelas tersebut. Ia kemudian hendak meminumnya namun dilihat olehnya air minumnya itu seperti ada yang berbeda.
"Bi aku nggak mau minum air ini, aku mau minum air mineral yang kemasan" ucap Larissa sembari menyerahkan gelas itu pada bi Lia.
"Baik non, sebentar bibi ambilkan" ucap bi Lia.
"Iya bi" ucap Larissa.
Bi Lia kemudian meletakan kembali gelas tersebut diatas nakas dan segera mengambilkan air mineral kemasan untuk majikannya itu. Air yang berada digelas tersebut segera dibuang kekamar mandi oleh bi Lia.
Marisha yang melihat Larissa tidak jadi meminum air yang sudah ia masukan sesuatu merasa kesal, padahal sedikit lagi rencananya berhasil.
"Tante kupaskan buah ya agar bisa kamu makan" tawar Marisha.
Belum sempat Larissa menjawabnya pintu kamar rawatnya sudah dibuka oleh Reyhan yang membawa plastik berisi buah mangga muda yang diinginkan oleh wanita itu.
...*Flashback off*...
Marisha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia memilih melajukan mobilnya kearah kantor Royal Darwin. Marisha ingin menceritakan misinya yang gagal itu pada Jhonatan.
Setibanya disana ia justru bertemu dengan Dion dihalaman kantor karena pria itu hendak makan siang.
__ADS_1
"Mom" panggil Dion.
"Eh Di, kamu disini?" tanya Marisha.
"Iya mom, aku mau makan siang. Mommy ada perlu apa kekantor?" jawab Dion, kemudian bertanya.
"Mommy ada perlu sama daddymu" ucap Marisha.
"Masuk aja mom, daddy ada diruangannya" ucap Dion.
Marisha mengangguk dan kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Jhonatan. Setibanya disana ia langsung memberi tahukan kalau misinya tadi gagal.
"Kita harus cari cara lain mas" ucap Marisha.
"Jangan buru-buru sayang, kita pelan-pelan saja" ucap Jhonatan.
Marisha juga mengungkit masa lalunya mengenai Karina yang dulu mengalami pendarahan. Sedikit banyaknya ada ikut campur dari tangan kedua orang itu.
"Mommy dan daddy sedang merencanakan apa?" tanya Dion.
"Dion!" ucap Marisha dan Jhonatan bersamaan.
Mereka berdua saling pandang karena tak menyangka Dion mendengarkan pembicaraannya.
Pria itu rupanya tidak jadi makan siang. Dion memilih mengikuti Marisha tanpa sepengetahuan wanita itu. Dion mendengar semua pembicaraan mereka dan tentu saja ia terkejut karena tak menyangka orang tuanya seperti itu.
"Mommy daddy ada yang bisa menjelaskan semuanya padaku?" tanya Dion.
"Tidak ada yang perlu kami jelaskan Di, Kamu hanya salah dengar tadi" jawab Marisha.
"Aku yakin aku tidak salah dengar mommy daddy kalau kalian itu penyebab tante Karina pen_" ucap Dion terpotong.
"Hentikan Di! Kamu hanya perlu tutup mulut dan jangan mengatakan pada Cristian ataupun Karina cukup mereka tahu kalau itu adalah kecelakaan" ucap Jhonatan.
Dion terdiam ia tidak bisa seperti itu seolah-olah dirinya tidak mengetahui. Melihat putranya hanya diam saja Marisha segera menghampiri Dion dan membujuk anaknya agar mau mendengarkan perkataan orang tuanya itu. Karina juga mengatakan kalau mereka melakukan seperti itu demi untuk Dion.
Dion sama sekali tidak menanggapi. Pria itu benar-benar kecewa pada orang tuanya dan memilih untuk pergi dari sana
"Bagaimana ini mas, Dion sudah tahu" ucap Marisha.
"Jangan khawatir sayang semuanya akan baik-baik saja. Cristian dan Karina tidak akan tahu, meski tahu mereka tidak punya bukti apa-apa" ucap Jhonatan.
"Iya mas" ucap Marisha setuju.
Kedua orang itu memang tidak menginginkan Cristian memiliki keturunan, keduanya jugalah yang menukar vitamin Karina menjadi obat penyebab rahim kurang subur shingga mengakibatkan wanita itu sulit hamil. Bukan hanya itu saja setelah Karina berhasil hamil karena tidak meminum obat itu lagi, Jhonatan dan Marisha menambahkan sesuatu kedalam minuman Karina sehingga membuatnya lemah kandungan dan akhirnya pendarahan.
Beruntung Karina bisa melahirkan Larissa tidak seperti hamil anak keduanya yang harus kehilangan janin tersebut.
__ADS_1