Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 101 Kurang Sabar


__ADS_3

Cilok Bandung yang diinginkan Larissa akhirnya datang bersamaan dengan kru pesawat jet milik mereka.


Seharusnya esok jet tersebut datang menjemput Larissa dan Reyhan. Namun karena ada pesanan dari sang tuan, akhirnya jemputan tersebut datang lebih awal yaitu hari ini juga, tepatnya tengah malam.


Wanita hamil itu segera memakan, makanan yang ia pesan. Larissa juga menyuapi Reyhan cilok itu.


"Buat kamu aja," ucap Reyhan, setelah menghabiskan 1 buah cilok bandung.


"Mas tidak mau?," tanya Larissa.


Reyhan menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak menginginkan cilok itu.


Melihat Reyhan yang menggeleng, Larissa akhirnya memakan sendiri cilok tersebut hingga habis satu bungkus berisi 500 gram.


Untung saja Dion mencarikan cilok yang sudah dikemas, jadi tidak basi sampai ditempat.


Reyhan hanya melihat Larissa yang sedang makan cilok. Hanya melihat saja, ia sudah merasa kenyang.


"Sudah habis?," tanya Reyhan pada Larissa.


"Sudah mas" jawab Larissa.


"Kalau begitu kita tidur ya," ucap Reyhan yang dijawab anggukan kepala dari Larissa.


Reyhan bangkit lebih dulu dari duduknya untuk membantu Larissa bangkit juga.


Namun, Larissa tidak ingin dibantu bangkit, ia justru menjulurkan kedua tangannya pada Reyhan.


"Gendongg," pinta Larissa.


Reyhan tak menjawab, namun ia segera menggendong istrinya itu.


Pria itu membawa Larissa menuju kamar mereka.


Direbahkanlah tubuh Larissa disana, namun Larissa tidak mau melepaskan rangkulan tangannya pada leher Reyhan.


"Mass" panggil Larissa sembari menggigit bibir bawahnya.


Panggilan dari istrinya itu bisa dipahami Reyhan tanda memberi isyarat.


"Kamu mau?," tanya Reyhan ambigu namun Larissa bisa memahaminya.


Wanita itu menganggukan kepalanya.


Segeralah pria itu menyambar bibir istrinya, mellumat perlahan dan semakin dalam.


Setiap mereka akan melakukannya selalu diawali dengan ciuman. Ciuman yang akan berakhir panas hingga penyatuan keduanya.


Benar saja seperti yang sudah-sudah. Setelah ciuman itu mereka akhirnya melakukan lagi, namun dengan perlahan agar tidak menyakiti anak didalam kandungan Larissa.


Keesokan harinya.


Sepasang suami istri itu bangun terlambat, karena baru tidur pukul setengah tiga pagi.


Keduanya keluar dari kamar pukul sepuluh siang, setelah selesai membersihkan diri. Tadinya mereka pagi ini akan mengunjungi salah satu tempat wisata dikota itu.


Tapi gagal karena mereka bangun kesiangan.


"Daddy mana mom?," tanya Reyhan setelah ia turun dari kamar bersama Larissa.


"Daddy mu kekantor Rey, tadi ada meeting dengan klien," jawab Karina.

__ADS_1


"Mommy sudah sarapan?," tanya Larissa.


"Sudah sayang. Kalian sarapan aja dulu," ucap Karina.


Larissa menganggukan kepalanya. Ia dan Reyhan segera pergi kemeja makan. Disana masih terhidang menu sarapan tadi pagi.


Wanita hamil itu melihat menu makanan disana, satu persatu. Tapi ia sama sekali tidak selera.


Padahal makanan yang dihidangkan disana, ada beberapa masakan indonesia. Tapi Larissa tidak berselera karena bukan makanan itu yang ingin ia makan, melainkan soto. Sedangkan soto yang dia inginkan itu tidak ada disana.


"Ayo sayang sarapan dulu," ajak Reyhan.


Pria itu sudah duduk lebih dulu dikursi meja makan.


Larissa menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin makan makanan itu, ia ingin soto.


"Kenapa sayang?" tanya Reyhan.


"Aku nggak mau makan itu," jawab Larissa.


"Terus kamu mau makan apa?," tanya Reyhan lagi.


"Nggak tahu kenapa, aku pengennya makan soto," ucap Larissa lirih.


"Hah? Soto?. Mana ada sayang" ucap Reyhan


Ia tak habis fikir pada istrinya itu. Saat dijakarta, Larissa tidak ingin makan makanan yang ia minta saat disini.


Tapi kenapa, setelah mereka disini, Larissa justru ingin makan makanan itu.


"Kalau begitu kita pulang sekarang," ajak Larissa pada Reyhan.


"Bukannya kita pulangnya besok ya?" tanya Reyhan.


Hufftt.


Reyhan menghela nafasnya pelan. Mau tidak mau ia harus menuruti keinginan ibu hamil itu.


Pria itu tidak jadi sarapan. Reyhan memilih menghubungi kru pesawat jet mereka, mengatakan akan kembali pulang kejakarta sekarang juga.


Beruntung tidak ada kendala saat pengurusan keberangkatan pesawat jet miliknya, jadi Reyhan dan Larissa bisa kembali saat ini juga.


"Ayo siap-siap," ucap Reyhan meminta Larissa.


"Memangnya kita bisa pulang sekarang mas?," tanya Larissa.


"Bisa sayang," ucap Reyhan.


"Yeay. Kita pulang mas. Aku ingin makan soto kalau sudah sampai," ucap Larissa.


Reyhan tersenyum, seperti ini saja sudah bisa membuat Larissa bahagia.


Kedua orang itu segera menghampiri Karina yang sedang menonton siaran televisi diruang keluarga.


Saat mere menghampiri Karina, bertepatan dengan Cristian yang pulang dari kantor.


Reyhan dan Larissa segera berpamit pada kedua orang tua itu, bila mereka hendak pulang kejakarta.


Pamitnya mereka tentu saja mengejutkan Karina dan Cristian, pasalnya mereka baru saja kemarin tiba ditokyo dan sekarang sudah hendak pulang lagi.


Namun, begitu mendengar alasan mereka hendak kembali, Cristian dan Karina segera mengizinkannya.

__ADS_1


"Lain kali kalau mau berkunjung kesini, kalian harus bawa makanan indo yang banyak," ucap Karina terkekeh.


Ada-ada saja anaknya ini.


"Ihh mommy. Aku kan lagi ngidam mangkanya seperti ini," ucap Larissa kesal, karena diketawai oleh orang tuanya.


"Iya, iya sayang. Ya sudah kalian hati-hati," ucap Karina.


Larissa dan Reyhan segera bersiap dan setelahnya mereka berangkat menuju landasan udara.


Setibanya disana kedua orang itu bergegas masuk kedalam pesawat jet mereka dan segera terbang kembali kejakarta.


Berbeda dengan tadi saat dirumah orang tuanya, Larissa tidak mau makan saat diajak sarapan.


Setelah masuk kedalam pesawt, Reyhan yang belum sarapan, segera makan didalam pesawat sembari menyuapi istrinya.


Butuh waktu lebih dari 7 jam, akhirnya mereka tiba dijakarta.


Hal pertama yang Reyhan tuju bukan pulang kerumah, melainkan mencari makanan yang istrinya inginkan yaitu soto.


"Kita mau apa kesini mas?" tanya Larissa.


Mereka saat ini sedang berada diparkiran rumah makan yang menjual soto.


"Kamu kan mau soto, jadi ayo kita makan soto dulu," ucap Reyhan.


Larissa diam saja, bahkan Reyhan yang sudah hendak membuka pintu mobil, mengurungkan niatnya karena melihat Larissa yang terdiam.


"Kenapa sayang?," tanya Reyhan.


"Emmm," Larissa bingung hendak menjawabnya.


"Kenapa," tanya Reyhan lagi.


"Aku udah gak pengen soto," ucap Larissa.


"Apa!" ucap Reyhan.


Larissa menganggukan kepalanya.


"Ya ampun sayangg. Kita jauh-jauh dari jepang pulang kejakarta biar kamu bisa makan soto, dan sekarang_" Reyhan tidak melanjutkan ucapannya.


Ia melihat raut wajah istrinya yang sudah berubah. Mata Larissa bahkan sudah berkaca-kaca.


Larissa mengira kalau Reyhan marah padanya.


Reyhan berkata demikian, bukan marah pada Larissa, melainkan kurang sabar.


"Maaf," lirih Larissa. Ia bahkan menundukan kepalanya karena merasa bersalah.


Entahlah, selama hamil ini ia menjadi lebih sensitif. Perasaannya tidak bisa ia kendalikan. Ia terkadang mudah marah, sedih, bahkan merasa bersalah.


"Ehh. Nggak apa-apa sayang. Kamu jangan nangis ya," ucap Reyhan.


Pria itu bahkan menangkup wajah Larissa menggunakan kedua telapak tangannya. Ia tidak ingin melihat istrinya menangis.


"Sayang, kamu jangan nangis ya," pinta Reyhan.


Larissa menatap pada mata Reyhan kemudian menganggukan kepalanya.


Syukurlah Larissa tidak jadi menangis. Bila istrinya menangis maka ia akan merasa bersalah.

__ADS_1


Seharusnya Reyhan lebih sabar lagi menghadapi Larissa, bukan justru seperti ini.


Tapi bila dipikir-pikir. Kurang sabar seperti apa lagi Reyhan menghadapi Larissa. Mulai dari awal pernikahan hingga saat ini, selalu Reyhan yang sabar dan mengalah.


__ADS_2