
Hari-hari berlalu, bahkan bulan pun berlalu.
Usia kandungan Larissa sudah memasuki bulan kesembilan.
Tinggal menunggu hari saja, Larissa akan melahirkan.
Larissa memilih melahirkan secara normal karena kondisi janin dan si ibu sangat baik.
Saat ini Reyhan mengajak Larissa kesuatu tempat yang entah kemana, Larissa tidak tahu.
Larissa bahkan ditutup matanya oleh Reyhan menggunakan kain hitam sejak keluar dari rumah.
"Kita mau kemana sih mas?," tanya Larissa.
Mereka kini berada didalam mobil menuju tempat yang Reyhan tuju.
"Kesuatu tempat sayang. Kamu tahan dulu, jangan dibuka penutup matanya. Ini surprise buat kamu," ucap Reyhan.
"Oke-oke aku nggak buka penutup matanya," ucap Larissa.
Reyhan mengusap puncak kepala istrinya itu,.
Tidak lama kemudian akhirnya mereka tiba ditempat tujuan.
Larissa dibantu oleh Reyhan turun dari mobil.
Mereka sama-sama berdiri dengan saling berhadapan.
Dibukalah penutup mata Larissa oleh Reyhan.
Larissa yang sejak tadi ditutup matanya masih terpejam dan segera membuka matanya.
"Aww, silau mas," ucap Larissa, pasalnya begitu dibuka penutup matanya, Larissa juga membuka mata dan langsung terlihat terang disekitarnya ia bahkan spontan menutup lagi matanya.
"Pelan-pelan aja buka matanya," titah Reyhan.
Larissa menuruti ucapan Reyhan.
Ia kemudian membuka lagi matanya dengan perlahan.
Setelah matanya terbuka sempurna, Larissa melihat didepan matanya ada sebuah bangunan besar berlantai dua dengan cat berwarna putih dan abu-abu, serta taman bunga yang luas.
"Wahh bagusnya mas. Ini rumah siapa?," tanya Larissa.
"Ini rumah kita sayang. Rumah yang kamu inginkan," ucap Reyhan.
"Hahh, beneran mas?" tanya Larissa masih tidak percaya.
Reyhan menganggukan kepalanya.
Pria itu mengajak Larissa kedalam rumah dan membantu Larissa berjalan kedalam.
Perut Larissa yang besar, tentu saja menyulitkan Larissa berjalan.
Wanita itu berjalan sangat pelan, satu langkahnya sebanding dengan empat langkah suaminya.
Namun Reyhan mengimbangi Langkah kaki istrinya.
__ADS_1
Tidak apa-apa jalannya lambat juga, asalkan Larissa baik-baik saja sampai dirumah.
Setibanya didepan pintu rumah yang masih tertutup, Reyhan menghentikan langkah kakinya dan otomatis Larissa juga berhenti.
"Kenapa mas?," tanya Larissa.
"Apa kamu suka rumah ini?" tanya Reyhan.
"Suka mas, tapi aku pengen lihat dalamnya," ucap Larissa.
"Kalau begitu, ayo kita lihat dalamnya," ucap Reyhan.
Pria itu kemudian membuka pintu, dengan mendorong kedalam.
Setelah terbuka penuh.
"SURPRISE!" Ucap semua orang yang ada disana.
Belum hilang rasa terkejutnya dengan Reyhan memberikan rumah ini, Larissa sudah dikejutkan dengan orang-orang yang ia sayang sudah berkumpul disini.
Cristian dan Karina baru saja tiba dijakarta tadi malam dan segera datang kerumah baru anaknya.
Mayang, Alena dan Elena juga ada dirumah ini. Mereka datang sejak kemarin.
Kemudian ada Dion dan Risty. Sepupu dan sahabatnya yang baru saja datang sebelum Larissa dan Reyhan datang.
Semua orang berkumpul membuat kejutan untuk Larissa.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Reyhan.
Iya.. Kejutan ini bertepatan dengan hari ulang tahun Larissa yang ke-23.
"Iya sayang," jawab Reyhan.
Larissa segera memeluk suaminya.
Pelukan yang hanya bisa dilakukan dari samping, karena perut besar Larissa menghalangi saat berpelukan.
"Makasih mas," ucap Larissa dipelukan Reyhan.
Reyhan hanya menganggukan kepalanya. Ia mencium kening istrinya lalu mengusap perut buncit istrinya.
"Ehem, ehem, serasa dunia milik berdua ya," ejek Alena, Elena dan Risty bersamaan.
Larissa yang mendengar ejekan dari kedua adik ipar dan sahabatnya segera mengurai pelukannya.
Wajah Larissa sudah berubah merona, namun ia berusaha acuh dan tidak menanggapi ucapan ketiga gadis itu.
Larissa kemudian menghampiri orang tua dan mertuanya, menyalimi mereka dan memeluknya.
Mereka sengaja datang kerumah baru Reyhan dan Larissa, selain untuk memberi surprise pada Larissa yang ulang tahun mereka juga akan menemani Larissa menjelang persalinan.
Kedua adik kembar Reyhan juga akan turut menemani Larissa. Mereka sudah liburan sekolah semester I.
Reyhan juga sudah mendapatkan rumah untuk ibu dan adik-adiknya tinggal dijakarta, setengah tahun lagi.
Dion dan Risty sudah bertunangan, mereka akan menikah setelah Jhonatan dan Marisha keluar dari penjara.
__ADS_1
Meski membutuhkan waktu lama untuk orang tua Dion bebas, tapi Dion dan Risty akan tetap menunggu saat itu datang.
Disela-sela hangatnya acara perayaan ulang tahunnya, Larissa sesekali meringis merasakan perutnya yang sedikit sakit lalu hilang.
Bukan hanya sekali, melainkan sudah berkali-kali ia merasakan perutnya yang sakit.
"Kenapa sayang?," tanya Reyhan. Karena dialah orang pertama yang melihat Larissa seperti itu.
Reyhan yang sejak tadi duduk disebelah Larissa sering kali tangannya diremat kuat oleh istrinya itu.
"Nggak tahu mash tapih peruth akuh sakiith," ucap Larissa menahan sakit.
"Jangan-jangan kamu mau melahirkan nak?," tanya Mayang.
Larissa tak menjawab namun ia semakin kuat mencengkram tangan suaminya.
"Kita kerumah sakit aja Rey," titah Karina.
Reyhan menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian membantu Larissa berjalan meski merasakan sakit.
Kata dokter Anne, Larissa harus sering berjalan agar memudahkan proses bersalinnya.
Oleh sebab itu Reyhan memilih membantu Larissa berjalan dibandingkan menggendong istrinya.
Mengetahui sepupunya hendak melahirkan, Dion segera menyiapkan mobil.
Dibukakanlah pintu mobil itu untuk Larissa dan Reyhan masuk, kemudian ia kemudikan mobil tersebut menuju rumah sakit.
Cristian, Karina dan Mayang menyusul dengan mobil lainnya dengan Cristian yang mengemudikan.
Dibelakang mobil Cristian ada Risty bersama dengan Alena dan Elena menyusul juga dengan menggunakan mobil Reyhan.
Setibanya dirumah sakit Larissa segera diperiksa oleh dokter Anne.
Hanya Reyhan lah yang boleh menemani istrinya didalam ruang bersalin itu.
"Apa istri saya akan segera melahirkan dok?," tanya Reyhan pada dokter Anne.
"Saat ini bu Larissa baru pembukaan empat. Masih membutuhkan waktu beberapa jam kedepan untuk pembukaan lengkap, barulah bisa melahirkan" ucap dokter Anne.
"Apa! Masih beberapa jam lagi dok?. Tapi ini istri saya sudah kesakitan," ucap Reyhan.
Dokter Anne tersenyum melihat kekhawatiran Reyhan pada Larissa.
"Memang seperti itu wanita yang mau melahirkan Pak. Sebaiknya bapak bantu bu Larissa jalan-jalan disekitar sini dulu, agar bisa mempercepat pembukaannya," ucap dokter Anne.
"Tapi dok_" ucap Reyhan terhenti karena Larissa yang bicara lebih dulu.
"Masshh, ayo bantu akuh jalan-jalan," ucap Larissa.
Reyhan akhirnya mendengarkan ucapan dokter Anne. Ia membantu Larissa jalan-jalan disekitar ruang bersalin.
Cukup lama Larissa dibantu Reyhan berjalan-jalan, hingga akhirnya rasa sakit diperut Larissa semakin berturut-turut.
"Aduh mash sakiitt," ucap Larissa.
Wanita itu mencengkram kuat tangan Reyhan yang memeganginya.
__ADS_1
Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Dokter Anne segera mendekati Larissa dan Reyhan, lalu ia minta Larissa berbaring lagi dibrangker dan diperiksanya.