
Dinegara B, Jhonatan dan Marisha sudah 4 hari berada dinegara itu.
Mereka tidak bisa pergi kemana-mana pasalnya takut diketahui keberadaannya oleh anak buah Marvel.
Meski begitu, keberadaan mereka tetap bisa diketahui oleh Marvel dan anak buahnya.
Marvel melacak kepergian Jhonatan dan Marisha yang ternyata pergi kenegara B.
Dinegara B Marvel sudah mengetahui dimana keberadaan Jhonatan dan Marisha yang menginap disalah satu hotel bintang lima dinegara itu.
Marvel meminta izin terlebih dahulu pada pihak hotel untuk menangkap kedua orang tersebut.
Izin sudah didapatkan akhirnya Marvel beserta 4 anak buah yang ia bawa kenegara itu sudah bersiap untuk menangkap Jhonatan dan Marisha.
Tok tok tok.
Marvel mengetuk pintu kamar hotel dimana Jhonatan dan Marisha tinggal.
Ketukan satu kali, dua kali, tiga kali namun pintu kamar hotel tidak dibukakan oleh Jhonatan maupun Marisha.
Marvel kemudian meminta karyawan hotel untuk membukakannya.
Pintu kamar hotel akhirnya bisa terbuka. Namun Marvel tidak menemukan keberadaan Jhonatan maupun Marisha disana.
"Sial! Mereka kabur lagi" ucap Marvel dengan geram.
Pria itu kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencari kesetiap penjuru hotel namun tetap tidak ditemukan.
"Maaf pak, kami tidak menemukan kedua orang itu" ucap salah satu anak buah Marvel.
"Aku yakin mereka belum jauh dari sini. Cepat kita cari mereka!" titah Marvel.
Marvel beserta anak buahnya berpencar untuk mencari Jhonatan dan Marisha.
Dua jam waktu yang dibutuhkan untuk Marvel melakukan pencarian dan akhirnya membuahkan hasil.
Jhonatan dan Marisha tertangkap dibandara.
Mereka sudah hendak pergi kenegara C namun beruntung karena lebih dulu tertangkap oleh Marvel dan anak buahnya
Marvel langsung membawa Jhonatan dan Marisha kembali kejakarta.
Ia membawa kedua orang itu kerumah kosong yang sudah ada Ratna lebih dulu dan segera menghubungi Reyhan.
"Hallo pak" ucap Marvel.
"Iya hallo" ucap Reyhan.
"Target semuanya sudah berhasil kami tangkap" ucap Marvel.
"Bagus, dimana kalian mengurung mereka?" tanya Reyhan.
__ADS_1
Marvel kemudian menyebutkan dimana mereka berada.
"Baiklah, tunggu aku disana" ucap Reyhan.
Panggilan telepon tersebut berakhir.
Reyhan segera menghampiri istrinya yang sedang terlelap. Dikecupnyalah kening wanita itu sembari pamit hendak pergi.
Cup.
"Aku pergi sebentar ya" ucap Reyhan.
Larissa yang sudah terlelap itu tidak mendengar sama sekali Reyhan yang berpamit.
Reyhan segera mengenakan jaket lalu keluar dari kamar. Pria itu berjalan menuruni anak tangga dengan cepat dan segera menuju garasi untuk menggunakan salah satu mobil disana.
Mobil melaju dengan dikemudikan oleh Reyhan menuju tempat dimana Marvel menahan ketiga orang yang sudah mencelakai istri dan anaknya itu.
Pukul sebelas malam ia tiba ditempat tujuan dan segera masuk kerumah kosong yang terbengkalai.
Reyhan diarahkan oleh salah satu anak buah Marvel menuju ruangan tempat mereka menahan ketiga orang itu.
Setiba didepan pintu ruangan itu, Reyhan segera dibukakan pintu oleh salah satu anak buah Marvel.
Ceklek.
"Silahkan masuk pak" ucap anak buah Marvel.
Dilihatnya Jhonatan, Marisha dan Ratna duduk dikursi masing-masing dengan tangan dan kakinya diikat pada kursi.
Salah satu anak buah Marvel menyerahkan kursi agar Reyhan bisa duduk dihadapan ketiga orang itu.
Reyhan kemudian menduduki kursi tersebut sembari mengangkat kaki kanannya dan meletakan dipaha kiri.
"Rey, saya mohon lepaskan kami. Jangan jebloskan kami kepenjara" mohon Jhonatan.
Reyhan tersenyum miring mendengar permohonan Jhonatan. Meski Jhonatan adalah paman dari istrinya, tapi orang itu jugalah yang menyebabkan Larissa pendarahan.
"Aku hanya ingin kalian berkata jujur. Apa kalian juga melakukan hal yang sama pada mommy Karina?" tanya Reyhan.
Mendengar pertanyaan Reyhan tentu saja Marisha dan Jhonatan saling pandang. Dalam benak keduanya 'bagaimana bisa Reyhan tahu hal itu'.
Marisha dan Jhonatan bingung ingin menjawab apa. Bila mereka jujur maka akan bertambahlah hukuman mereka namun bila tidak jujur, mereka takut Reyhan akan berbuat nekat pada mereka.
Mendapati pertanyaannya tidak dijawab oleh Jhonatan ataupun Marisha. Reyhan segera bersuara.
"Aku tanya sekali lagi. Apa kalian juga melakukan hal yang sama pada mommy Karina?" tanya Reyhan.
"Iya" "Tidak" jawab Jhonatan dan Marisha bersamaan namun jawaban mereka berbeda.
Marisha melototkan matanya pada Jhonatan yang menjawab iya. Ia tak menyangka bila suaminya itu akan mengaku.
__ADS_1
Tapi ia tidak tinggal diam ia segera mengklarifikasi pada Reyhan. Namun tentu saja Reyhan tak percaya.
Reyhan mengeluarkan beberapa kertas dari saku jaketnya dan menunjukan pada Jhonatan dan Marisha.
"Ini bukti kejahatan kalian selama ini" ucap Reyhan.
Reyhan membuka kertas tersebut satu persatu.
"Ini bukti kalau kalian membeli obat peluruh kandungan pada seseorang puluhan tahun silam" ucap Reyhan sembari menunjukan bukti tersebut.
Marisha dan Jhonatan saling pandang mereka tak percaya bila Reyhan bisa mendapatkan bukti itu. Padahal dulu Cristian dan Karina mencari tahunya namun tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Reyhan kemudian membuka lagi bukti-bukti kejahatan Jhonatan dan Marisha lainnya termasuk Jhonatan yang korupsi diperusahaan.
"Aku sebenarnya ingin sekali menghajar kalian tapi aku urungkan. Kalian akan aku jebloskan kedalam penjara saat ini juga" ucap Reyhan.
Reyhan tidak ingin mengotori tangannya karena harus menghajar ketiga orang tersebut.
Pria itu segera memerintahkan Marvel agar membawa ketiga orang itu kekantor polisi.
Si pelayan Ratna hanya pasrah. Ia juga sudah mengakui kalau dirinya bersalah dan pantas mendapatkan hukuman.
Namun berbeda dengan Jhonatan dan Marisha, mereka berdua memberontak saat dirinya digelandang masuk kedalam mobil untuk segera dibawa kekantor polisi.
"Rey. Saya mohon Rey, jangan penjarakan kami" ucap Marisha.
"Maaf tante aku tidak bisa. Aku akan memenjarakan siapapun orang yang berani menyakiti anak dan istriku" ucap Reyhan.
Reyhan kemudian masuk kedalam mobil lebih dulu, sedangkan ketiga orang itu dibawa masuk kedalam mobil Marvel.
Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tiba dikantor polisi. Sesampainya disana, Jhonatan, Marisha dan Ratna segera dimasukan kedalam sel.
Reyhan membuat laporan kejahatan-kejahatan yang sudah dilakukan oleh ketiga orang itu.
Laporan diterima dan proses akan dilanjutkan hari esok.
Setelah selesai membuat Laporan dikantor polisi. Reyhan segera kembali kerumah. Ia teringat dengan sang istri yang ia tinggalkan saat sedang terlelap.
Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya, ternyata sudah pukul setengah tiga pagi.
Reyhan melajukan mobilnya cukup kencang. Jalanan di malam hari seperti itu cukup sepi dan memudahkan ia melajukan mobilnya.
Setiba dirumah, Reyhan segera masuk kedalam kamar.
Ceklek.
Pintu kamar ia buka. Dilihatnya Larissa sudah terbangun dan sedang menangis.
Hiks hiks hiks.
Reyhan segera menghampiri Larissa dan duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
"Hei jangan menangis, maaf tadi aku tinggal" ucap Reyhan sembari menyeka air mata Larissa.