Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 78 Aku Ingin Lebih


__ADS_3

"Apa mereka sudah ditangkap?" tanya Reyhan pada seseorang disambungan telepon.


"Ratna sudah saya tangkap, tapi pak Jhonatan dan bu Marisha kabur keluar negeri" ucap lawan bicara Reyhan disambungan telepon.


"Segera cari dan tangkap mereka. Jangan biarkan mereka lolos lagi" ucap Reyhan.


"Baik pak" ucap lawan bicara Reyhan.


Panggilan itu kemudian berakhir. Reyhan memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana.


Pandangannya lurus kedepan dengan kedua tangannya mencekram pembatas balkon.


'Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti istri dan anakku hidup nyaman berkeliaran diluar sana' batin Reyhan.


...*Flasback on*...


Mengetahui Larissa pendarahan, Reyhan jadi teringat dengan cerita Karina.


Pria itu mencari tahu sendiri kebenarannya. Ia mengecek CCTV dirumah dan hasilnya tidak ada yang bisa dicurigai selain para pelayan yang menyiapkan makanan dan minuman untuk Larissa.


Larissa pendarahan dan Reyhan sedang menyelidiki penyebabnya, tentu saja diketahui oleh seluruh penghuni rumah termasuk para pelayan. Ratna tentu saja panik, ia segera membereskan pakaiannya dan akan kabur kemana saja asalkan tidak tertangkap.


"Aku harus pergi dari rumah ini, sebelum den Reyhan tahu kalau aku orang yang menyebabkan non Larissa pendarahan" gumam Ratna.


Ratna melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh orang lain.


Wanita paruh baya itu juga memberitahukan kabar tersebut melalui telepon pada Marisha dan Jhonatan kalau Larissa pendarahan dan Reyhan sedang mencari pelakunya.


"Bodoh! Bagaimana itu bisa terjadi. Apa kamu kerjanya tidak hati-hati?" tanya Marisha memaki Ratna.


"Maaf nyonya itu semua diluar kendali saya" ucap Ratna.


Marisha tak menyahut lagi, ia memutuskan sambungan teleponnya dengan Ratna dan segera menghubungi Jhonatan meminta suaminya itu untuk pulang kerumah.


Jhonatan pulang kerumah dan sudah disambut dengan wajah cemas istrinya.


Jhonatan bertanya pada Marisha ada apa dan Marisha kemudian menceritakan semuanya apa yang terjadi.


"Kita harus segera pergi sebelum mereka menangkap kita mas" ucap Marisha.


"Aku akan memesan tiket penerbangan kenegara B, kita bisa pergi sekarang" ucap Jhonatan.


Jhonatan dan Marisha pergi kenegara B saat itu juga. Mereka marah pada Ratna dan menyalahkan pelayan itu karena Reyhan pasti akan mengetahui mereka pelakunya.


Reyhan yang mencurigai ada penghianat dirumahnya segera mengumpulkan semua orang. Pelayan, tukang kebun, supir dan satpam semuanya ia kumpulkan.


"Aku mau kejujuran kalian! Dirumah ini siapa yang telah berhianat padaku?!" tanya Reyhan dengan marah.


Semua orang menundukan kepalanya takut dengan amarah sang tuan dan tidak ada yang bicara.


"Jawab!" bentak Reyhan.


Bentakan tersebut membuat semua orang yang ia kumpulkan terkejut semakin takut saja pada Reyhan.

__ADS_1


"Maaf den. Izinkan bibi berbicara" ucap Bi Lia.


Reyhan mengangguk tanda mempersilahkan untuk bi Lia berbicara.


"Bibi tidak tahu siapa penghianat diantara kami tapi yang bibi amati, selama den Reyhan tidak ada dirumah non Rissa selalu minta makan dan minum dikamar. Makanan dan minuman itu semua saya sendiri yang nyiapin, hanya saja yang mengantarkannnya para pelayan dan bergantian. Untuk seminggu terakhir ini Ratnalah yang mengantarkan makanan dan minuman itu" ucap bi Lia.


Reyhan mengangguk tanda mengerti dengan ucapan bi Lia. Pria itu meminta Ratna untuk menghadapnya dan ternyata pelayan itu sudah pergi diam-diam dari rumah.


Hal itu tentu saja membuat Reyhan mencurigai pelayan bernama Ratna itu.


Reyhan menyewa detektif untuk mengusut kasus ini dan akhirnya diketahuilah Ratna bekerja sama dengan Jhonatan dan Marisha.


Mereka bertiga tertangkap kamera CCTV beberapa kali bertemu dicafe dan itu sudah meyakinkan Reyhan merekalah pelakunya.


Detektif tersebut bernama Marvel. Marvel mengerahkan anak buahnya untuk menangkap ketiga orang tersebut.


Ratna berhasil ditangkap, sedangkan Jhonatan dan Marisha mereka pergi keluar negeri sesaat setelah mengetahui kalau mereka akan menjadi buronan.


Marvel yang sudah menangkap Ratna, segera menggeledah barang milik wanita itu dan ternyata benar kalau wanita itu pelaku dari insiden Larissa pendarahan.


Marvel menemukan beberapa obat serbuk yang ada didalam tas wanita itu.


Didalam ponsel Ratna yang diperiksa juga terdapat beberapa bukti percakapan antara Marisha dan Ratna yakni Marisha yang meminta informasi, meminta menjalankan misi mencelakai Larissa, ada juga bukti pengiriman uang pada Ratna.


...*Flashback off*...


Setelah mematikan sambungan telepon Reyhan segera kembali kedalam kamar.


Pria itu melihat Larissa yang sudah terbangun dari tidurnya dan sedang memanggil-manggil namanya.


Pria itu berjalan mendekati Larissa yang masih terbaring diranjang namun sudah bangun.


"Jangan tinggalkan aku" pinta Larissa.


"Aku tadi hanya menelpon" ucap Reyhan.


"Tetep aja kamu pergi" ucap Larissa.


Reyhan kemudian duduk ditepi ranjang, ia mengusap rambut panjang istrinya.


"Tidur lagi ya" ucap Reyhan.


"Tapi temenin" ucap Larissa.


Reyhan mengangguk, ia kemudian naik lagi keatas ranjang dan berbaring disebelah Larissa.


Reyhan memeluk Larissa dan mengecup puncak kepala wanita itu.


"Ayo sekarang kamu tidur lagi" titah Reyhan.


"Kamu juga" pinta Larissa.


"Iya sayang" ucap Reyhan.

__ADS_1


Mendengar Reyhan memanggilnya sayang, Larissa tersenyum lebar sembari membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.


Berbeda dengan dulu yang tidak menyukai saat Reyhan memanggilnya sayang. Sekarang ia menyukai panggilan itu.


Mengingat itu Larissa merasa lucu sendiri.


"He he he" Larissa tertawa sendiri karena mengingat dirinya yang jual mahal.


Reyhan mengernyit mendengar tawa seseorang yang tak lain adalah Larissa.


Ia kemudian mengurai pekukannya pada Larissa dan menengong kebawah melihat Larissa yang tertawa sendiri.


"Kenapa tertawa?" tanya Reyhan.


"Hehehe" Larissa tertawa lagi dan makin membuat Reyhan heran.


"Aku hanya merasa senang dipanggil sayang olehmu Rey" ucap Larissa.


"Benarkah?" tanya Reyhan tak percaya.


Pasalnya selama ini bila ia memanggil Larissa dengan sebutan sayang maka wanita itu akan marah. Lalu apa ini?. Kenapa Larissa senang?.


Itulah yang ada dibenak Reyhan.


Larissa mengangguk untuk meyakinkan Reyhan kalau dirinya senang dipanggil sayang.


Reyhan menyatukan keningnya pada kening istrinya, sedangkan pandangannya tetap menatap Larissa.


Bibir Reyhan meraup bibir Larissa dan keduanya kembali berciuman. Entah sehari ini mereka berapa kali berciuman yang jelas mereka belum puas menikmatinya karena tidak bisa menuntaskan hasrat yang membuncah pada keduanya.


Ahh.


Suara itu lolos keluar dari mulut Larissa.


Reyhan juga mencium dibagian lain, menyesapnya dan meninggalkan bekas merah disana.


"Kamu suka?" tanya Reyhan sesaat setelah menghentikan aksinya.


Larissa mengangguk, namun ia mengerucutkan bibirnya.


"Aku ingin lebih" ucap Larissa.


Cup. Reyhan mengecup lagi bibir Larissa, namun kecupannya hanya sekilas.


"Sudah dulu ya" ucap Reyhan kemudian mengeratkan pelukan pada Larissa.


Keduanya terdiam cukup lama. Reyhan diam agar Larissa bisa tidur namun justru wanita itu tidak bisa tidur.


"Rey" panggil Larissa.


"Hem" jawab Reyhan.


"Maafkan aku karena pernah menamparmu" ucap Larissa.

__ADS_1


"Aku maafkan" ucap Reyhan.


__ADS_2