Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 37 Larissa Sakit


__ADS_3

Reyhan tersenyum getir, pertanyaan Larissa tepat sekali mengenai tujuannya untuk menikah namun ia lebih memilih tak menjawab dan kemudian memejamkan matanya.


Mengetahui bahwa Reyhan tidak menanggapi pertanyaannya Larissa memilih untuk diam, ia menyenderkan kepalanya disandaran sofa sembari menonton siaran televisi.


Kruukk.


Kruukk.


Perut Larissa berbunyi ia merasakan perutnya sangat lapar. Gadis itu kemudian melihat jam diponselnya yang saat ini sudah menunjukan pukul dua siang.


"Ternyata sudah jam dua" gumam Larissa.


Ia teringat dengan ayam goreng dan lalapan yang dibawa oleh Reyhan dari warung makan tadi. Ia segera bangkit kemudian berjalan keluar rumah untuk mengambil makanan yang digantung dimotor.


Reyhan dan Larissa tadi melupakan membawa masuk makanan itu sehingga masih tergantung dimotor.


Ceklek.


Larissa membuka pintu depan rumah Reyhan dan menghampiri motor yang tadi ia pakai bersama Reyhan.


"Yahh! Makannannya_" ucap Larissa tergantung, ia tidak melanjutkan lagi ucapannya.


Ia melihat makanan yang dibungkus dari warung makan tadi sudah berserakan dilantai dimakan oleh kucing.


Ia menyesal kenapa tadi tidak makan saat diwarung makan sehingga membuat perutnya lapar.


Meong.


Meong.


Kucing tersebut bersuara dengan masih memakan makannanya.


Larissa kemudian kembali masuk kedalam rumah dan menuju dapur. Ia mencari makanan matang sisa sarapan tadi pagi namun tidak ada. Ia memilih kembali menuju ruang tamu dimana tadi ia duduk.


Ia melihat Reyhan masih tertidur lelap disofa panjang. Ia tak enak membangunkan Reyhan namun perut laparnya tidak bisa ia tahan lagi dan pada akhirnya Larissa membangunkan Reyhan.


"Rey" panggil Larissa pelan namun tidak ada tanggapan dari pria itu.


"Reyhan" panggil Larissa lagi masih dengan memelankan suaranya.


"Hem" jawab Reyhan hanya dengan deheman.


"Aku lapar Rey tapi makanan yang tadi dimakan kucing" ucap Larissa dengan lesu, ia benar-benar lapar sehingga tak bersemangat.


Reyhan mendengarkan keluhan Larissa kemudian membuka matanya dan bangkit untuk duduk.


"Kamu mau makan apa?" tanya Reyhan.


"Makan apa saja yang penting makanan Rey, aku benar-benar sangat lapar" ucap Larissa masih terdengar lesu.


"Baiklah aku akan memasakan untukmu" ucap Reyhan kemudian bangkit dan berjalan menuju dapur.


Reyhan melihat isi kulkas yang penuh dengan bahan mentah seperti daging dan sayur.


Ia memasak ayam goreng dan lalapan seperti makanan tadi diwarung makan.


Harum ayam dan sambal membuat Larissa semakin tak sabar untuk memakannya ia segera menyusul Reyhan kedapur dan duduk dikursi meja makan.

__ADS_1


"Kamu masak apa Rey?" tanya Larissa.


Reyhan tak menjawab namun ia membawa masakan yang sudah matang itu kemeja makan.


"Mangkanya kalau aku ajak makan itu mau beginikan jadinya kalo jadi orang sombong. Biasakan hargai orang lain juga" ucap Reyhan.


Larissa memanyunkan bibirnya, ia kesal dengan Reyhan yang menasehatinya. Gadis itu memulai dengan makannya. Setiap makanan yang dimasak oleh Reyhan kenapa terasa enak dilidahnya atau masakannya memang enak.


"Setelah ini aku mau ketoko ibu, kamu mau ikut tidak?" tanya Reyhan.


Larissa berfikir sejenak kemudian mengangguk dan melanjutkan makannya.


Tring. Tring.


Ponsel Larissa berdering dan ia lihat Dion lah yang menghubunginya. Larissa dan Dion meski keduanya tidak akrab tapi ia menyimpan nomor telepon masing-masing.


Larissa mengabaikan panggilan telepon dari Dion namun teleponnya terus berbunyi hingga panggilan keempat barulah ia jawab.


"Larissa akhirnya kamu menjawab panggilan teleponku" ucap Marcell yang ternyata dia menghubungi Larissa menggunakan ponsel Dion.


"Marcell?" tanya Larissa.


Reyhan yang sedang membersihkan dapur segera menoleh pada Larissa.


"Iya Larissa ini aku Marcell. Larissa aku menyesal telah memutuskanmu, aku mohon kamu mau kembali padaku" ucap Marcell disebrang telepon.


Larissa sama sekali tidak menanggapi ucapan Marcell, ia segera mematikan sambungan teleponnya.


"Kamu masih berhubungan dengan pria brengsek itu setelah kamu hampir saja dilecehkan?" tanya Reyhan.


"Kapan kamu mau memberikan surat perjanjian nikah kontrak kita?" tanya Reyhan.


"Hah?" Larissa terheran kenapa sekarang ini justru Reyhan yang antusias dengan nikah kontrak.


"Malah bengong, kapan?" tanya Reyhan.


"Nanti kalau kita sudah kembali kejakarta Rey" jawab Larissa.


Reyhan mengangguk ia kemudian melanjutkan membereskan dapur.


Tidak lama kemudian datanglah Alena dan Elena dari sekolah yang diantar oleh ojek langganan mereka.


"Al, El mau makan juga?" tanya Reyhan.


"Tidak mas kami tadi sudah makan dikantin sekolah" jawab Elena.


"Mba Larissa aku punya sesuatu buat mba" ucap Alena.


Larissa yang sudah hampir menghabiskan makanan segera menoleh pada Alena.


Alena mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Ta da" ucap Alena mengeluarkan jajanan sekolahannya dari dalam tas.


"Apa itu?" tanya Larissa.


"Hah, mba Larissa gak tau ini?" tanya Alena heran.

__ADS_1


Larissa menggeleng kemudian menyuapkan makanannya yang terakhir.


"Disekolahan ku tidak ada makanan seperti itu" ucapnya.


"Berarti mba Larissa tidak pernah makan ini?" tanya Alena heran namun tidak dengan Reyhan, ia tahu sekali selera makan Larissa yang tidak mau makan makanan pinggir jalan.


"Tuh kan Al benar apa yang aku bilang, mba Larissa pasti tidak pernah makan itu" ucap Elena.


"Aku memang tidak pernah makan itu tapi aku mau mencobanya" ucapnya.


Ia tak enak pada Alena bila menolak makanan yang sengaja ia beli untuknya.


"Yakin mba mau mencobanya?" tanya Alena.


"Iya" jawab Larissa kemudian mengambil satu tusuk jajanan itu yang tak lain ialah telur gulung.


Larissa memakannya hingga habis satu tusuk.


"Al aku makan satu tusuk aja ya" ucap Larissa.


Entah kenapa setelah makan ia menjadi mual.


"Iya mba tidak apa-apa" ucap Alena.


Larissa menutup hidung dan mulutnya kemudian berlari ke washtafel dan memuntahkannya.


Reyhan yang baru saja selesai dengan mencuci piring terkejut Larissa muntah-muntah diwashtafel depannya.


Hoek Hoek


Reyhan spontan memijat punuk Larissa agar gadis itu merasa lebih baik.


Hoek Hoek


Larissa terus saja memuntahkan isi perutnya.


"Mba Larissa kenapa mas?" tanya Elena sembari menghampiri Reyhan yang sedang memijat punuk Larissa.


"Tidak tahu El" ucap Reyhan.


Reyhan yang sedang memijat Larissa merasakan tubuh gadis itu panas dan wajah Larissa yang pucat. Reyhan beralih memegang kening Larissa dan benar saja dugaannya gadis itu sedang sakit.


Sepertinya sakit karena masuk angin, tadi saat mereka pergi kepantai dan Larissa telat makan siang hingga jam setengah tiga sore baru makan.


"Sepertinya kamu sakit Rissa" ucap Reyhan.


Larissa mengangguk ia telah selesai dengan muntahnya dan tubuhnya terasa lemas.


"Kita berobat ya" ajak Reyhan.


Larissa menggeleng.


"Aku hanya ingin berbaring" ucap Larissa.


Reyhan mengangguk kemudian menuntun Larissa menuju kamar sikembar.


Reyhan membaringkan tubuh Larissa ditempat tidur dan gadis itu langsung terlelap.

__ADS_1


__ADS_2