Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 73 Menyusul Reyhan


__ADS_3

Kondisi Larissa sudah jauh lebih baik. Larissa dirawat dirumah sakit selama dua hari dan selama itu jugalah Reyhan yang menjaganya, memenuhi apa yang diinginkan wanita itu.


Hari ini Larissa sudah diperbolehkan untuk pulang.


Reyhan dibantu bi Lia yang membawakan tas berisi perlengkapan yang dipakai saat berada dirumah sakit. Sedangkan Reyhan sendiri ia membopong Larissa hingga tiba didalam mobil.


Sebenarnya Larissa juga cukup terharu dengan perhatian-perhatian Reyhan. Potongan ingatan juga muncul dikepalanya saat dulu dirumah Reyhan dirinya sakit dan dirawat oleh pria itu.


Namun Larissa masih menanamkan dalam dirinya kalau dia membenci pria itu.


"Langsung pulang aja ya pak" titah Reyhan pada Herman.


"Baik Den" ucap Herman.


Herman mulai melajukan mobil yang ia kemudikan meninggalkan rumah sakit dan menuju kediaman majikannya itu.


Selama diperjalanan tidak ada orang yang berbicara satu pun. Padahal mobil tersebut berisi oleh empat orang yakni Herman, bi Lia, Larissa dan Reyhan hingga pada akhirnya Herman lah yang membuka suara.


"Non Rissa gimana kemarin rasa mangga mudanya?" tanya Herman memecahkan keheningan.


"Enak" jawab Larissa singkat.


"Kemarin loh den Reyhan manjat pohonnya sendirian, saya lupa mau midioin terus dikasihkan non Rissa. Pokoknya jago banget non den Reyhan manjatnya padahal pohon mangga punya pak Arrash itu besar" ucap Herman.


"Benarkah?" tanya Larissa namun wajahnya menoleh pada Reyhan.


Reyhan yang mendapati pertanyaan itu hanya mengedikan bahunya. Bagi dia biasa saja manjat pohon seperti itu tapi mungkin berbeda dengan pak Herman yang melihatnya jadi pria paruh baya itu menceritakan pada Larissa berlebihan.


"Kamu ternyata jago manjat ya Rey" ucap Larissa.


"Nggak jago sih cuma bisa" ucap Reyhan.


"Kalau begitu nanti ajarin aku manjat ya" pinta Larissa.


"No! Kamu sedang hamil Larissa mana boleh manjat pohon seperti itu nanti kenapa-kenapa bagaimana?" ucap Reyhan.


"Tapi ini anakmu yang mau Rey" ucap Larissa.


"No! Tetap saja kamu tidak boleh manjat" Larang Reyhan.


Larissa tak bersuara lagi ia justru memberengutkan bibirnya. Ia benar-benar kesal pada Reyhan. Selalu saja mengatur-atur dirinya.


Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan oleh Herman tiba dirumah. Reyhan turun lebih dulu dari mobil dan hendak membopong Larissa agar wanita itu tidak kelelahan berjalan.

__ADS_1


Namun ternyata Larissa sudah keluar dari mobil dan berjalan lebih dulu masuk kedalam rumah.


"Hufft" Pria itu menghela nafasnya pelan sembari menatap punggung istrinya yang sedang berjalan masuk kedalam rumah.


"Sabar ya den, tetap semangat taklukin non Rissa" ucap bi Lia dan dijawab anggukan kepala oleh Reyhan.


Pria itu bergegas masuk kedalam rumah dan mencari Larissa kekamar mereka.


Begitu masuk kedalam kamar Reyhan melihat Larissa yang sedang duduk didepan cermin sembari memperhatikan wajahnya.


Melihat Reyhan masuk kedalam kamar, Larissa berusaha mengacuhkan pria itu lagi. Ia kemudian bangkit dari duduknya didepan cermin beralih menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


"Rissa aku kekantor ya, aku ada meeting dengan klien" pamit Reyhan tapi tidak mendapat jawaban dari Larissa.


"Aku nggak lama dikantor hanya 3 jam saja" ucap Reyhan namun Larissa tetap tidak menanggapi.


Reyhan kemudian masuk kedalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan stelan kantor.


Pria itu berpesan lgi pada Larissa.


"Kamu jangan lupa makan siang ya" pesan Reyhan sembari mengecup kening istrinya, namun masih tidak mendapatkan tanggapan dari Larissa.


Pria itu segera keluar dari kamar dan bergegas pergi kekantor dengan mengemudikan mobilnya sendiri.


Meeting akhirnya dimulai, kali ini membahas perencanaan pembangun hotel yang pertama kalinya dilakukan oleh Darwin Properties.


Biasanya perusahaan yang dikelola Reyhan saat ini hanya menyediakan properti, rumah, apartement, bahkan kontrakan dan kosan namun Reyhan hendak mengembangkan lagi dengan menyediakan hotel bintang 5 dikota itu.


Dirumah, Larissa yang ditinggal pergi oleh Reyhan kekantor merasakan kehilangan. Entah karena itu bawaan bayi atau memang ia ingin selalu didekat pria itu.


"Ko Reyhan belum pulang ya" gumam Larissa.


Ia melihat jam diponsel namun Reyhan baru pergi satu jam yang lalu dan masih butuh waktu dua jam lagi untuk pria itu kembali kerumah.


"Yahh masih lama. Masih dua jam lagi" ucap Larissa.


"Apa aku susul aja dia kekantor ya" pikir Larissa.


"Tapi kalau aku ditanya Reyhan ada apa kekantor? Terus aku jawabnya apa? Masa iya jawab kangen kamu" ucap Larissa.


Wanita itu terus saja berbicara sendiri menimbang ini dan itu dan akhirnya ia menyerah karena tak tahan menunggu Reyhan terlalu lama.


Larissa memutuskan untuk menyusul Reyhan kekantor.

__ADS_1


"Kalau aku di tanya ada apa kekantor? Aku jawab saja ingin melihat kantor daddy" ucap Larissa.


"Iya benar, aku jawab itu saja. Sekarang aku mau siap-siap dulu" ucap Larissa.


Larissa turun dari tempat tidur dan segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian.


Ia kemudian keluar dari kamarnya dan turun kelantai satu kemudian berjalan keluar rumah menuju garasi dimana mobilnya terparkir.


Disana memang banyak mobil berjejer namun hanya satu mobil yang suka ia pakai yakni Lamborgini, mobil hadiah ulang tahunnya dari Cristian.


"Non Larissa ko mau ngeluarin mobil?" tanya Herman.


"Iya pak, aku mau kekantor" jawab Larissa.


"Maaf non tapi den Reyhan berpesan pada saya kalau non Rissa mau pergi-pergian tidak boleh sendirian dan saya yang akan mengantar non Rissa kemana saja" ucap Herman.


"Aku mau bawa mobil sendiri" ucap Larissa.


"Tapi non nanti saya dimarahin den Reyhan" ucap Herman.


"Jangan khawatir pak, nanti saya yang bicara pada Reyhan" ucap Larissa.


Tanpa menunggu jawaban dari Herman, Larissa segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor Darwin Properties.


Tidak butuh lama Larissa sudah tiba disana, ia benar-benar merindukan Reyhan sampai-sampai menyusul pria itu kekantor.


Kaki jenjangnya melangkah menggunakan high heels masuk kedalam kantor dan bertepatan dengan jam istirahat kantor.


Disana Larissa menjadi pusat perhatian seluruh karyawan yang melihatnya. Banyak juga karyawan yang menyapa Larissa namun ia hanya memasang wajah datar dan pandangan lurus kedepan tanpa memperdulikan sapaan dari para karyawan.


"Cantik ya istri pak Reyhan"


"Cocok banget sama pak Reyhan yang tampan"


"Cantik sih cantik tapi orangnya sombong"


Sekilas Larissa mendengar pembicaraan para karyawan disekitarnya ada yang menyukainya dan ada yang tidak menyukainya.


Namun Larissa tidak memperdulikan itu ia terus melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO.


Ceklek.


Larissa membuka pintu rungan CEO namun ia tidak menemukan Reyhan disana.

__ADS_1


"Apa Reyhan masih meeting ya?" gumam Larissa.


__ADS_2