Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 39 Masakan Pertama Larissa


__ADS_3

Aliya mengikuti Marcell masuk kedalam apartement pria itu.


"Apa kamu sudah kembali kerja?" tanya Aliya.


"Sudah" jawab Marcell acuh.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aliya lagi.


"Al please kamu jangan banyak tanya aku sedang pusing!" Bentak Marcell pada Aliya.


"Cell?" ucap Aliya.


"Aku ingin putus denganmu Al, kamu itu terlalu banyak tanya dan selalu mengatur-atur aku agar menjadi seseorang yang kamu inginkan" ucap Marcell.


"Marcell" Lirih Aliya.


"Pergilah Al kita sudah bukan siapa-siapa lagi mulai saat ini" ucap Marcell.


Aliya sejenak menatap Marcell yang dengan tega memutuskan hubungan dengannya secara sepihak, ia mencintai Marcell namun ia juga memiliki harga diri sebagai seorang wanita. Ia mencintai Marcell tapi ia juga kecewa dengan pria itu. Aliya bergegas pergi dari apartement Marcell dan pulang kerumah.


Setelah kepergian Aliya Marcell segera merebahkan tubuhnya disofa sembari memikirkan Larissa. Marcell ingin memiliki Larissa agar kembali padanya, ia bertekad untuk melakukan segala cara agar bisa memiliki gadis itu.


Lelah ia berfikir akhirnya Marcell terlelap hingga pukul tujuh malam.


Ia bangun karena mendengar suara dering ponselnya yang ternyata Dion lah yang menelponnya.


"Ya Di" jawab Marcell.


"Dimana Cell?" tanya Dion.


"Masih diapartement nih, tadi ketiduran" jawab Marcell dengan suara serak khas bangun tidur.


"Buruan datang Cell, kami sudah nunggu" ucap Dion.


"Oke" jawab Marcell dan setelahnya panggilan telepon itu terputus.


Marcell segera membersihkan dirinya dan bergegas menuju club malam.


Setibanya disana ia sudah dinantikan oleh ketiga temanya. Mereka sudah terbiasa datang ketempat itu sehingga banyak orang yang sudah mengenal mereka.


Keempat pemuda itu mulai tidak bisa mengendalikan diri, mereka sama-sama mabuk karena terus menengguk minuman beralkohol.


Pemilik club segera menghubungi orang tua Dion yakni Jhonatan karena hanya dialah yang mereka tahu sebagai orang tua salah satu dari empat pemuda itu.


Jhonatan yang menerima laporan kalau anaknya sedang berada diclub sangat marah ia bergegas datang langsung keclub itu.


Pria paruh baya itu melihat kelakuan anak satu-satunya itu sedang mabuk, ia segera memerintahkan supir untuk membawa anaknya pulang dan meminta supir taksi untuk mengantarkan ketiga teman Dion pulang kerumah masing-masing.


Sesampai dirumah Dion segera dibawa menuju kamar putranya itu.

__ADS_1


Byuurr.


Jhonatan menyiram Dion dengan air seember, ia kesal anaknya sulit sekali dibilangi. Namun Dion yang disiram air itu masih saja tertidur pulas.


"Harusnya diusia kamu yang sudah 25 tahun itu sudah mampu memimpin perusahaan bukan malah mabuk-mabukan seperti ini" ucap Jhonatan dengan kesal.


Ia jadi teringat Reyhan Anggara yang hanya staff marketing tapi mampu mengendalikan kemajuan perusahaan secara tidak langsung.


"Coba saja aku lebih dulu yang memiliki Reyhan diperusahaanku pasti perusahaan tidak akan kalah saing dengan Darwin Properties" keluh Jhonatan.


Jhonatan membangunkan Dion, ia menepuk-nepuk pipi anaknya itu.


"Bangun Di!" ucap Jhonatan dengan sedikit meninggikan suaranya.


Ceklek.


Pintu kamar Dion dibuka oleh Marisha dan masuklah wanita paruh baya itu.


"Apa dia mabuk lagi?" tanya Marisha.


"Iya. Itu karena kamu selalu memanjakannya" jawab Jhonatan.


"Maaf mas" ucap Marisha menyesal.


"Bangunkan anak itu suruh dia mandi, tubuhnya basah habis aku siram tadi" titah Jhonatan pada Marisha kemudian meninggalkan kamar Dion.


Marisha mengangguk ia menuruti perintah Jhonatan untuk membangunkan Dion dan menyuruhnya mandi dan berganti pakaian.


Pagi tiba.


Larissa bangun pagi-pagi sekali yakni pukul empat karena tadi malam tidurnya sangat nyenyak efek dari minum obat. Ia berjalan keluar kamar dan melihat ada Reyhan sedang terlelap disofa panjang. Gadis itu mendatangi dapur dimana ada Mayang sedang memasak menyiapkan untuk sarapan pagi.


"Pagi bu" sapa Larissa, ia sudah mulai terbiasa memanggil Mayang dengan sebutan ibu.


Mayang menoleh pada Larissa.


"Pagi juga nak. Kamu sudah sehat?" tanya Mayang.


"Sudah nih bu. Aku mau belajar masak dengan ibu" ucap Larissa.


"Apa lukamu sudah sembuh?" tanya Mayang.


"Sudah bu, aku sudah sembuh dan siap untuk belajar masak" ucap Larissa dengan semangat.


Mayang tersenyum, ia senang dengan Larissa yang mau belajar, bukan hanya belajar masak melainkan belajar mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.


Selama dua hari tinggal disini gadis itu sudah mulai terbiasa dengan kesederhanaan Reyhan dan keluarganya.


Larissa membantu Mayang masak dan ia mencoba memasak sesuatu yakni nasi goreng seperti yang Reyhan masak untuknya saat malam sebelum berangkat kesemarang.

__ADS_1


Tepat pukul 5 pagi Reyhan membuka matanya dan ia segera kekamar mandi untuk mandi karena sebentar lagi akan antri oleh yang lainnya.


Reyhan melihat Larissa sedang memasak bersama ibunya dan sesekali mereka tertawa yang entah sedang membahas apa. Pemandangan itu diamati lekat oleh Reyhan, pria itu sangat bahagia melihatnya.


'Mungkinkah pemandangan seperti itu akan selalu aku lihat?' batin Reyhan bertanya pada dirinya sendiri.


Mayang menyadari keberadaan Reyhan, ia kemudian menyapa putranya itu.


"Kamu sudah bangun nak?" tanya Mayang.


"Sudah bu, ini aku mau mandi" jawab Reyhan.


"Ya sudah mandi dulu nak sebentar lagi antri kamar mandinya" ucap Mayang.


Reyhan mengangguk kemudian masuk kedalam kamar mandi.


"Bu apa ini sudah matang?" tanya Larissa pada Mayang.


Ia sedang mengaduk-aduk nasi goreng buatannya.


"Sudah kamu rasai belum nasi gorengnya?" tanya Mayang.


"Belum bu, tapi aku sudah masukin semua bumbu yang ibu bilang tadi" jawab Larissa.


"Ya sudah kalau begitu matikan saja kompornya" titah Mayang.


Larissa segera mematikan kompornya dan menuangkan nasi goreng yang sudah matang kedalam mangkuk besar kemudian ia letakan dimeja makan.


Dimeja makan itu ada beberapa jenis makanan berat karena memang keluarga Reyhan bila sarapan selalu makan seperti itu, hal itu juga sudah mulai dibiasakan oleh Larissa dan kedua orang tuanya.


"Bu aku mandi dulu ya" ucap Larissa karena melihat Reyhan yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Iya nak kamu mandi sana" ucap Mayang.


"Iya bu" ucap Larissa kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Waktu sarapan akhirnya tiba, kini keluarga Larissa dan keluarga Reyhan sedang duduk dikursi meja makan.


"Ini nasi goreng buatan Larissa tadi pagi dia belajar masak" ucap Mayang memberitahu pada semua orang.


"Benarkah? Apa rasanya enak?" tanya Cristian.


"Dicoba saja pak" ucap Mayang.


Cristian, Karina, Reyhan dan Larissa mengambil nasi gorengnya sedangkan sikembar ia tidak ingin makan nasi goreng dikhawatirkan akan mengantuk disekolah dan Mayang ia memang tidak menyukai nasi yang berbumbu seperti nasi goreng, nasi kuning, nasi uduk dan itu sebabnya ia tidak merasai nasi goreng buatan Larissa.


Larissa menunda sarapannya sejenak ia menatap ketiga orang dihadapannya yang sedang makan masakan pertamanya yaitu nasi goreng.


"Bagaimana Rasanya?" tanya Larissa.

__ADS_1


Ketiga orang itu saling pandang mereka bingung mau mengatakannya dan membuat Larissa kecewa.


"Daddy, mommy, Reyhan bagaimana rasanya?" tanya Larissa.


__ADS_2