Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 72 Tokcer


__ADS_3

Reyhan hari ini tidak berangkat kekantor, ia meminta bi Lia untuk kembali kerumah dan Larissa dijaga sendiri olehnya.


Pria itu meminta Gunawan kerumah sakit untuk mengantarkan berkas yang tidak bisa ia tunda untuk diperiksa dan ditanda tangani.


Meski sembari bekerja, namun Reyhan tetap bisa merawat Larissa. Saat makan siang tadi pria itu juga menyuapi Larissa makanan dan barulah dirinya yang makan siang.


Saat ini Larissa sedang terlelap untuk beriistirahat dan Reyhan sedang melanjutkan pekerjaannya.


Kring. Kring.


Ponsel Reyhan berdering dan dilihat oleh pria itu kalau Karina yang menghubunginya.


"Hallo mom" ucap Reyhan sesaat panggilan telepon terhubung.


"Hallo Rey, mommy dengar dari bi Lia Larissa tadi pingsan dan sekarang dirawat dirumah sakit ya?" tanya Karina.


"Iya mom, maaf aku belum ngabarin momny atau daddy. Tadi aku panik dan langsung bawa Larissa kerumah sakit jadi tidak ingat mengabari mommy dan daddy" ucap Reyhan.


"Iya Rey tidak apa-apa. Terus sekarang kabarnya Larissa bagaimana?" tanya Katina.


"Larissa tidak apa-apa mom hanya dehidrasi dan butuh dirawat dua hari dirumah sakit" ucap Reyhan.


Oiya Rey apa benar Larissa sedang hamil?" Tanya Karina.


"Benar mom, Larissa sedang hamil" jawab Reyhan.


Karina kemudian berpesan pada Reyhan agar pria itu menjaga Larissa dan kandungan putrinya itu dengan benar. Reyhan tentunya setuju dengan pesan dari Karina.


Sambungan telepon itu juga didengar oleh Cristian pasalnya pria itu sedang berada disebelah Karina hingga akhirnya Cristian memilih untuk berbicara pada Reyhan karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.


"Apa kamu sudah menerima surat pernyataan yang dibuat Jhonatan?" tanya Cristian.


"Sudah dad, aku juga sudah menanda tangani surat itu" jawab Reyhan.


"Good Rey!, daddy bangga padamu, daddy juga yakin kalau Royal Darwin akan kembali jaya seperti dahulu saat opahnya Larissa yang mengelola" ucap Cristian.


"Terimakasih dad sudah percaya padaku" ucap Reyhan.


Panggilan telepon tersebut akhirnya berakhir. Reyhan meletakan kembali ponselnya dimeja bersebelahan dengan laptop yang sedang ia operasikan.


Dibrangker ruangan tersebut rupanya Larissa sudah terbangun karena mendengar suara dering ponsel Reyhan.


Sejak awal pembicaraan Reyhan dengan orang tuanya disambungan telepon Larissa bisa mendengar karena ia sudah terbangun.


'Segitu percayanya mommy dan daddy pada Reyhan, sedangkan aku kenapa sulit sekali untuk percaya padanya' batin Larissa.


Wanita itu kemudian memejamkan matanya lagi untuk pura-pura tidur.

__ADS_1


Tok tok tok


Pintu kamar rawat Larissa diketuk oleh seseorang dan segera dibukakan oleh Reyhan yang sejenak meninggalkan pekerjaannya.


Ternyata seseorang yang mengetuk pintu kamar rawat Larissa ialah Risty.


"Risty" ucap Reyhan.


Risty menganggukan kepalanya sedikit pada Reyhan untuk menyapa pria itu.


Larissa yang tadi pura-pura tidur kini membuka matanya dan segera mendudukan tubuhnya bersandar disandaran branker.


"Eh, maaf Sa aku ganggu kamu istirahat ya" ucap Risty.


"Tidak ko Ris, aku sudah bangun" ucap Larissa.


"Aku tadi nelpon kamu Sa tapi nggak dijawab dan akhirnya aku nelpon ke telepon rumahmu dan yang menjawab bi Lia. Bi Lia bilang kalau kamu pingsan dan dibawa kerumah sakit" ucap Risty.


Larissa mengangguk. Memang benar kalau dirinya tadi pagi pingsan karena lemas akibat tidak makan dan minum beberapa hari ini hingga ia dehidrasi dan jatuh pingsan.


"Ada apa kamu nelpon aku?" tanya Larissa kemudian.


"Aku khawatir kalau kamu lagi sakit karena sudah tiga hari ini kamu nggak kebutik dan ternyata benar kalau kamu sakit" ucap Risty yang diangguki oleh Larissa.


"Kamu hamil ya?" bisik Risty ditelinga Larissa untuk memastikan kabar dari bi Lia sekaligus menggoda temannya itu.


Mendapati pertanyaan dari Risty tentu membuat Larissa salah tingkah dan itu bisa ditangkap oleh Risty yang membuat wanjta itu justru semakin menggoda Larissa.


Bugh.


"Aww" ucap Risty bersamaan dengan dirinya yang dipukuk banyal oleh Larissa.


"Ssttt" ucap Larissa sembari meletakan jari telunjuk dibibirnya.


Larissa juga mengisyaratkan menggunakan matanya agar jangan sampai Reyhan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kalian kenapa?" tanya Reyhan.


Pria itu tadi sudah duduk kembali disofa dan melanjutkan pekerjaannya namun mendengar suara kegaduhan yang bersal dari Larissa dan Risty membuatnya menghentikan pekerjaannya.


"Ini loh Rey, istrimu mukul aku pakai bantal gara-gara nggak terima aku katain tokcer" ucap Risty.


Larissa yang mendengar jawaban dari Risty seketika mendelik. Padahal dirinya sudah mengisyaratkan pada Risty agar tidak memberitahukan Reyhan namun wanita itu justru dengan sengaja mengatakannya.


"Risty!" tegur Larissa.


"Loh memang benar kan Rey kalau Larissa hamil karena benih kamu tokcer" ucap Risty

__ADS_1


Bukan hanya Larissa yang malu melainkan Reyhan juga.


Kikkuk.


Reyhan jadi salah tingkah mendengar Risty mengatakan blak-blakan seperti itu.


Namun Reyhan bisa menguasai dirinya sendiri agar tidak menunjukan rasa malunya dihadapan Risty bila tidak ia dan Larissa akan digoda habis-habisan.


"Eheemm" Reyhan berdehem untuk menetralkan rasa malunya dihadapan teman dari istrinya itu.


"Minta do'anya ya Ris semoga Larissa diberikan kelancaran saat hamil hingga nanti saatnya dia melahirkan anak kami" ucap Reyhan.


"Pasti dong Rey aku bakalan do'ain Larissa yang terbaik" ucap Risty.


Risty dan Larissa kemudian melanjutkan pembicaraannya membahas hal lainya. Sedangkan Reyhan melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


Risty menyarankan Larissa agar selama hamil tidak perlu mengurusi butik karena sudah ada dirinya yang mengurus. Namun saran dari Risty ditolak oleh Larissa. Wanita itu tetap akan kembli kebutik bila kondisinya sudah pulih.


Lama mereka berbincang dan akhirnya Risty pamit untuk pulang karena hari juga sudah menjelang malam.


Larissa beralih melihat Reyhan yang sedang duduk disofa dan menghadap laptop. Ia ingin buang air kecil namun sungkan untuk meminta bantuan Reyhan hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri.


Brukk.


Baru saja ia hendak turun dari branker namun ia sudah jatuh lebih dulu kelantai karena kakinya terbelit selimut.


"Larissa!" panggil Reyhan karena terkejut melihat istrinya yang sudah terjatuh.


Pria itu segera menghampiri Larissa dan segera mengangkat tubuh wanita itu.


"Aww Rey, perutku sakit" lirih Larissa sembari memegangi perutnya yang keram.


Reyhan meletakan tubuh Larissa diatas branker dan kemudian menyingkap baju Larissa bagian perut.


Pria itu mengelus perut Larissa yang terasa kencang dengan perlahan. Usap-usap terus mengusap hingga perut Larissa terasa rilex saat diraba Reyhan.


"Sudah mendingan?" tanya Reyhan dan dijawab anggukan oleh Larissa.


"Tadi kamu kenapa bisa jatuh?" tanya Reyhan.


"Aku mau pipis Rey" ucap Larissa.


Tanpa bertanya lagi Reyhan segera mengangkat tubuh Larissa kekamar mandi sedangkan infusnya dipegangi oleh wanita itu.


"Aku bisa sendiri Rey" ucap Larissa setelah masuk kedalam kamar mandi dan dirinya diturunkan disana.


"Kamu yakin?" tanya Reyhan memastikan.

__ADS_1


"Aku yakin Rey, mending kamu keluar saja" ucap Larissa.


Reyhan tak menjawab namun ia memilih untuk menunggu Larissa didepan pintu kamar mandi yang tertutup.


__ADS_2