Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 96 Tidak Bisa Pergi


__ADS_3

Setelah Larissa tidak sadarkan diri, Marcell segera membopong wanita itu masuk kedalam mobilnya.


Marcell meminta salah satu anak buahnya untuk menyupiri.


15 anak buah Marcell ikut bersamanya menuju landasan jet yang Marcell sewa. Sedangkan sisanya mengamankan Kusno dan Herman baru setelahnya mereka menyusul Marcell.


Setelah tiba dilandasan pesawat, Larissa segera dibawa oleh Marcell masuk kedalam jet pribadi. Larissa masih tidak sadarkan diri, sehingga memudahkan Marcell untuk melancarkan aksinya.


Pesawat Jet itu terbang meluncur menuju singapura. Lalu setelahnya ia akan berganti pesawat jet menuju Sydney, dan disana ia akan berganti lagi pesawat jet untuk menuju Paris.


Paris adalah kota dimana Marcell dan Larissa pertama kali bertemu.


Disana Marcell sudah menyiapkan rumah untuk mereka tinggali. Ia akan menempatkan Larissa disebuah rumah mewah, menjaganya hingga wanita itu melahirkan, lalu menikahinya.


Penerbangan pertama telah ia lalui. Saat ini Marcell dan Larissa tengah berada di Singapura.


"Apa kita langsung kembali terbang bos?," tanya salah satu anak buah Marcell.


"Iya kita langsung saja," jawab Marcell.


Pria itu mendudukan Larissa dikursi roda. Lalu mendorongnya untuk pindah pesawat jet.


Setibanya dipesawat, Marcell memindahkan tubuh Larissa keranjang kamar yang ada didalam pesawat jet itu.


"Siapkan makanan. Sebentar lagi dia akan bangun," ucap Marcell.


"Baik bos," jawab anak buah Marcell.


Pesawat jet yang sedang membawa Larissa perlahan take off menuju kota Sydney.


Marcell sama sekali tidak meninggalkan Larissa barang sedetikpun. Ia menunggu Larissa duduk dikursi yang masih berada didalam kamar itu.


Menunggu sembari memperhatikan Larissa yang sedang tertidur.


Tidak lama kemudian Larissa terbangun dari tidurnya. Ia melihat kesekeliling ruangan kamar itu. Tempat tersebut sangat asing bagi dia.


"Aku dimana?," tanya Larissa pada dirinya sendiri.


Larissa perlahan turun dari ranjang, membuka gorden jendela. Disana ia melihat bahwa saat ini dirinya sedang berada didalam peswat.


Makin panik lah Larissa. Ia bergegas membalikan tubuhnya untuk segera keluar dari kamar itu. Larissa ingin mencari Marcell, meminta penjelasan dari pria itu.


Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat Marcell berada dikamar itu juga.


Sejak tadi Marcell yang duduk dikursi hanya memperhatikan Larissa, hingga akhirnya ia dihampiri oleh wanita itu.


"Bisa kamu jelaskan kenapa aku ada dipesawat Marcell?," tanya Larissa.

__ADS_1


"Kita akan tinggal bersama sayang. Kita akan segera menikah," ucap Marcell.


"Tidak Marcell!, aku tidak sudi menikah denganmu!," ucap Larissa tegas.


Marcell yang sejak tadi duduk dikursi, segera bangkit dan mendekati Larissa lalu mencengkram rahang wanita itu.


"Kamu harus tahu Larissa. Kamu sekarang tidak bisa menolak perkataanku. Kita akan menikah setelah anakmu itu lahir," ucap Marcell pelan, namun menyakitkan bagi Larissa.


Larissa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum miring menanggapi ucapan Marcell.


Wanita itu berusaha menahan diri agar tidak terlihat ketakutan didepan Marcell.


Bila Marcell melihat dirinya ketakutan maka pria itu akan semakin menekannya. Jadi Larissa harus bisa terlihat baik-baik saja didepan pria itu.


"Sampai kapan pun aku tidak akan menikah denganmu!," ucap Larissa dengan kedua mata yang nyalang.


Plakk.


Marcell menampar Larissa yang sudah berani berkata seperti itu pada dirinya.


Sedangkan Larissa yang mendapatkan tamparan justru tersenyum. Ia lebih baik ditampar atau pun disiksa oleh Marcell, dari pada harus menikah dengan pria itu.


Marcell yang melihat Larissa tersenyum semakin geram. Dalam benaknya, dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya Larissa masih tersenyum.


Namun ia berusaha menahan diri agar tidak semakin marah dengan Larissa. Bila hal itu terjadi, ia takut akan semakin melukai wanita yang ia cintai.


Brakk.


Pintu kamar tersebut dibanting oleh Marcell yang merasa kesal pada Larissa.


Setelah kepergian Marcell, tubuh Larissa seketika luruh kelantai.


Hiks hiks hiks


Seumur hidupnya baru kali ini ia ditampar oleh seseorang. Bukan itu yang sebenarnya ia tangisi melainkan dirinya yang diculik oleh Marcell.


"Mas Reyhan maafkan aku. Aku tidak bisa pergi dari mereka," ucap Larissa menangis sendiri.


Larissa juga mengelus perutnya yang semakin menonjol.


Usia kandungan Larissa sudah memasuki 4 bulan. Seharusnya besok adalah jadwal dirinya memeriksakan kandungan.


Namun siapa sangka, dirinya justru diculik oleh Marcell. Entah dirinya akan dibawa kemana oleh mantan kekasihnya itu, Larissa juha tidak tahu.


"Apa pun yang terjadi mommy akan selalu bersama kalian," ucap Larissa.


Disisi yang berbeda masih didalam pesawat tersebut, Marcell yang sudah keluar dari kamar bergegas menghampiri anak buahnya.

__ADS_1


Marcell meminta makanan yang sudah ia pesan sebelumnya, lalu ia membawa sendiri kekamar Larissa.


Setibanya didalam kamar, Marcell melihat Larissa sedang duduk diam ditepi ranjang.


"Kamu makan ya sayang," titah Marcell setelah masuk kedalam kamar itu.


Larissa tak menjawab, ia hanya diam saja.


Setelah tadi puas menangis, Larissa segera bangkit dan duduk ditepi ranjang. Hingga akhirnya, pintu kamar tersebut dibuka lagi oleh Marcell.


Mendapati Larissa tidak menjawab ucapannya, Marcell segera meletakan makanan yang ia bawa.


"Makanannya aku taruh disini ya," ucap Marcell.


Larissa masih diam saja. Wanita itu bahkan sama sekali tidak ingin melihat pada Marcell. Ia benci sekali pada pria itu.


Bisa-bisanya Marcell menculik dirinya dan akan dinikahinya. Larissa terus kepikiran pada Reyhan. Suaminya itu pasti sedang mencarinya.


Meski perut lapar, namun Larissa tidak berminat sedikit pun pada makanan yang Marcell bawa. Larissa hanya ingin pulang dan kembali bersama suaminya.


Namun hal itu tidak akan mungkin dibiarkan terjadi oleh Marcell.


Kedua orang itu hanya saling terdiam tanpa ada yang bicara. Hingga tidak lama kemudian, pesawat jet tersebut telah tiba di Sydney Australia.


"Cepat kamu makan Larissa. Pesawat kita sudah tiba, kita hanya punya waktu istirahat setengah jam dan akan pindah pesawat lagi," ucap Marcell.


Larissa masih diam saja. Ia bahkan tidak menanggapi ucapan Marcell.


Marcell yang sejak tadi tidak mendapat jawaban dari Larissa, benar-benar geram dibuat olehnya.


Ia kemudian menghampiri Larissa yang masih duduk diam ditepi ranjang.


"Sekarang, ayo cepat makan atau kamu aku buat keguguran?!" tanya Marcell tegas.


Larissa yang mendengar ucapan Marcell seketika menatap nyalang pada Marcell.


"Aku minta kamu kembalikan aku pulang Marcell!," pinta Larissa tegas.


"Kita akan kembali setelah kamu melahirkan dan kita menikah!," ucap Marcell tak kalah tegas.


"Sudah aku katakan Marcell!. Kita tidak akan pernah menikah, baik sekarang atau pun nanti!," tegas Larissa.


Wanita itu lebih dulu keluar dari kamar pesawat jet dan meninggalkan Marcell bersama dengan kekesalannya


Larissa yang sudah keluar dari kamar pesawat, segera dihampiri oleh 5 orang anak buah Marcell bertubuh besar.


Larissa tidak dibiarkan pergi sendirian keluar dari pesawat. Mereka akan mengawal wanita itu kemanapun Larissa pergi.

__ADS_1


__ADS_2