
Tiga minggu berlalu.
Mayang dan si kembar telah kembali kesemarang seminggu yang lalu. Selama dua minggu ibu dan adiknya Reyhan berada dirumah, Larissa tidak pergi kekantor Reyhan sama-sekali.
Ia benar-benar belajar memasak dengan ibu mertuanya. Setiap harinya, ia memasak makanan dengan menu yang berbeda. Jadi, ia sudah bisa memasak lebih dari sepuluh menu makanan.
Setiap jam istirahat, Reyhan selalu menyempatkan diri untuk pulang kerumah dan makan siang dirumah.
Setiap harinya Larissa selalu memasak dan Reyhan yang mencicipi pertama kali. Pria itu sangat menghargai istrinya yang belajar memasak untuk dirinya.
Makanan yang dibuat oleh Larissa juga tidak selalu enak. Kadang hambar, keasinan, kemanisan, bahkan gosong.
Meski begitu Reyhan tetap memakannya, untuk menghargai jerih payah istrinya. Hal itu tentu saja membuat Larissa semakin semangat untuk belajar memasak, hingga akhirnya ia bisa.
Larissa bukan hanya belajar menjadi ibu yang baik, melainkan belajar juga menjadi istri yang baik
Setiap pagi Larissa bangun lebih dulu dari Reyhan untuk menyiapkan sarapan dan keperluan suaminya kekantor.
Pagi ini juga sama seperti pagi sebelumnya.
Reyhan mengerjapkan mata terbangun dari tidurnya. Pria itu meraba kasur disebelahnya yang sudah kosong.
Ia kemudian bangkit dari tidurnya dan berjalan kekamar mandi untuk membasuh muka. Setelahnya Reyhan keluar dari kamar dan menuju dapur.
Ia sudah menduga bila istrinya tidak ada ditempat tidur, dikarenakan sedang menyiapkan sarapan.
"Masak apa sayang?," tanya Reyhan kemudian memeluk dari belakang dan mengelus perut istrinya.
"Ini aku lagi bikin soto babat mas," ucap Larissa.
"Waahh, pasti enak tuh," ucap Reyhan.
"Semoga aja rasanya nggak ngecewain ya mas," ucap Larissa.
"Bagaimanapun rasanya pasti aku makan sayang," ucap Reyhan.
Larissa tersenyum merekeh, ia kemudian mengecilkan kompornya lalu membalikan tubuh menghadap Reyhan.
"Makasih ya mas, meski kadang nggak enak tapi masakan aku selalu kamu makan," ucap Larissa kemudian memeluk Reyhan.
"Iya sayang," ucap Reyhan, sembari mengelus puncak kepala istrinya.
Larissa mengurai pelukannya, membalikan tubuhnya untuk mematikan kompor. Wanita hamil itu mulai menyajikan makanan dimeja makan. Reyhan yang berada didapur juga ikut membantu Larissa, menyajikan semua makanan untuk mereka sarapan.
Meski ada pelayan yang berada didapur, namun mereka tetap mengerjakan berdua saja. Keduanya benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka.
Biarlah para pelayan mengerjakan pekerjaan yang lainnya, atau saat mereka tidak bisa mengerjakannya.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu kemudian sarapan bersama, menikmati soto babat buatan ibu hamil.
Setelahnya kedua orang itu kembali kekamar. Reyhan membersihkan diri dan Larissa menyiapkan pakaian yang akan digunakan suaminya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi dibuka oleh Reyhan dan keluarlah pria itu dari dalamnya.
"Mas, nanti siang aku mau nganterin makanan, aku boleh kekantor, kan?," tanya Larissa.
"Boleh sayang, asalkan hati-hati," ucap Reyhan.
"Siap, suamiku sayang," ucap Larissa, sembari meletakan jari tangannya dipelipis, tanda memberi hormat.
Reyhan tersenyum, sungguh ia merasakan bahagia menikah dengan Larissa. Tapi, tidak lama kemudian senyumnya perlahan memudar.
Akhir-akhir ini ia merasakan cemas. Entah cemas karena apa, Reyhan pun tidak tahu. Tapi ia memiliki firasat akan terjadi sesuatu didepan langkahnya.
Larissa yang sedang membantu Reyhan berpakaian, bisa melihat perubahan wajah suaminya. Wajah Reyhan yang awalnya ceria kini berubah menjadi sendu.
"Kenapa mas?," tanya Larissa.
"Entah kenapa aku memiliki firasat buruk sayang. Sepertinya akan terjadi sesuatu," jawab Reyhan.
Larissa yang tadi tersenyum kini ikut berubah sendu. Sebenarnya ia juga merasakan apa yang Reyhan rasakan. Tapi ia tak ingin menceritakan pada Reyhan, takut membuat suaminya semakin khawatir.
Reyhan menganggukan kepalanya. Meski masih merasa cemas namun ia berusaha tersenyum agar tidak membuat Larissa khawatir.
Larissa sudah selesai membantu suaminya berpakaian. Wanita itu kemudian menyiapkan, ponsel, tas dan sepatu yang akan digunakan oleh Reyhan.
Reyhan menolak saat dirinya hendak dipakaikan sepatu oleh Larissa. Meski dirinya tahu bila istrinya sedang berusaha menjadi istri yang baik, tapi Reyhan tidak mau membuat istrinya kelelahan karena harus mengabdikan diri padanya.
"Ayo mas aku antar sampai depan," ucap Larissa, setelah Reyhan selesai bersiap.
"Iya sayang," ucap Reyhan.
Sepasang suami istri itu keluar dari kamar bersamaan untuk menuju teras depan rumah.
Setibanya diteras, Reyhan segera mengecup kening istrinya.
"Aku berangkat ya sayang. Kamu hati-hati bila mau datang kekantor. Ajak pak Herman dan pak Kusno juga," ucap Reyhan pamit.
"Iya mas," jawab Larissa.
Reyhan bergegas memasuki mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju kantor Darwin Properties.
Reyhan sudah jarang mengunjungi kantor Royal Darwin. Pasalnya, ia sudah mempercayai Dion bisa mengelolanya seorang diri. Dion juga sudah diangkat kembali menjadi CEO Royal Darwin sejak 3 hari yang lalu.
__ADS_1
Jadi kini Reyhan bisa fokus pada perusahaannya dan juga pada istri dan calon anaknya.
Setibanya dikantor, pria itu segera meminta laporan penerimaan barang diperusahaannya pada Gunawan.
"Jadi, Sanjaya Group belum juga mengirim barang?," tanya Reyhan pada Gunawan.
"Betul pak. Belum ada pengiriman barang yang dilakukan oleh Sanjaya Group untuk perusahaan kita," jawab Gunawan.
"Apa kamu sudah menanyakan?," tanya Reyhan.
"Sudah pak, Saya menanyakan pada Sanjaya Group setiap 3 hari sekali," ucap Gunawan.
"Lalu apa kata mereka?," tanya Reyhan.
"Tidak ada tanggapan dari mereka pak," jawab Gunawan.
Sudah Reyhan duga, kerjasama ini tidak akan berhasil seperti sebelumnya, saat Sanjaya Group masih dipimpin oleh Marco.
"Tanyakan lagi pada mereka, dan minta penjelasan kenapa mereka tidak mengirim barangnya," titah Reyhan.
Gunawan mengangguk. Ia kemudian keluar dari ruangan sang bos, dan bergegas menuju tempat duduknya.
Pria itu kemudian mengirim email ke perusahaan Sanjaya Group untuk menanyakan sekali lagi perihal permintaan barang perusahaannya yang tak kunjung dikirim.
Email tersebut terkirim. Gunawan masih stand by duduk didepan laptopnya untuk menunggu balasan email.
1 menit, 5 menit, 10 menit Gunawan menunggu balasan email namun tak kunjung dibalas. Hingga menit ke 60 alias, satu jam kemudian, Gunawan mendapatkan balasan email dari Sanjaya Group.
Gunawan cepat-cepat membuka email tersebut, dan alangkah terkejutnya dia membaca isi email itu.
"Apa ini?," tanya Gunawan pada diri sendiri.
Gunawan bergegas masuk kedalam ruangan Reyhan, lalu meminta sang bos membuka juga email yang dikirim Sanjaya Group.
Reyhan mengikuti perkataan sekretarisnya. Pria itu membuka email perusahaan, membacanya dengan seksama.
Brakk.
Reyhan menggebrak meja kerjanya untuk meluapkan emosinya.
"Bisa-bisanya mereka seperti itu," gumam Reyhan pada diri sendiri.
"Atur pertemuan dengan Sanjaya Group," Titah Reyhan pada Gunawan.
"Baik pak," jawab Gunawan patuh.
Pria itu kemudian kembali lagi kekursi dimana tempat ia bekerja.
__ADS_1