Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 42 Permintaan Larissa


__ADS_3

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Larissa pada kedua teman Reyhan.


"Kami tidak tahu pastinya, tapi tadi kami melihat Reyhan seperti bukan dirinya ia sama sekali tidak bisa mengendalikan diri" ucap Adam menjelaskan.


"Apa Reyhan memiliki trauma?" tanya Edwin pada Larissa.


Larissa mengangguk.


"Iya" jawab Larissa.


"Kenapa kami tidak tahu sama sekali kalau dia memiliki trauma seperti itu, padahal kami tinggal bersama sudah tiga tahun lamanya" ucap Edwin.


"Itu karena Reyhan pandai menyembunyikan traumanya pada orang lain, ia tidak ingin melihat orang lain mengkhawatirkan dirinya" ucap Larissa.


"Apa yang menyebabkan dia trauma non?" tanya Adam.


"Rasa bersalahnya pada seseorang" ucap Larissa sembari menatap Reyhan dengan nanar.


Ia kemudian meminta Edwin untuk menyiapkan kotak P3K dikamar Reyhan. Kedua teman Reyhan itu meninggalkan Larissa dan Reyhan berdua dikamar.


Larissa meraih tangan Reyhan yang terluka karena meninju dinding kamar mandi, ia kemudian membersihkan luka tersebut, mengobatinya dan membalutnya dengan perban.


"Kamu butuh psikiater Rey" lirih Larissa.


Gadis itu benar-benar merasakan sedih melihat kondisi Reyhan seperti itu.


Larissa lanjut mengelap wajah Reyhan yang tadi penuh dengan keringat. Pergerakan Larissa bisa dirasakan oleh Reyhan dan membuat pria itu membuka matanya.


Reyhan merasa lebih tenang ia kemudian memegang tangan Larissa yang sedang mengelap wajahnya.


"Rey" panggil Larissa.


"Tetaplah disini" pinta Reyhan pada Larissa.


Ia tidak mau gadis didepannya pergi dari situ, bersama Larissa ia merasa lebih tenang.


"Rey aku tahu kamu seperti ini karena trauma mu, Kamu juga selalu dihantui rasa bersalah, jadi ayolah Rey kita konsultasikan ini pada ahlinya, aku ingin kamu baik-baik saja" pinta Larissa.


"Aku memang baik-baik saja Rissa" jawab Reyhan.


"Bohong! Kamu itu tidak baik-baik saja Rey" ucap Larissa.


Reyhan kemudian memejamkan matanya sejenak dan mebukanya lagi, ia juga melepaskan genggaman tanganya pada tangan Larissa.


"Pergilah" ucap Reyhan.


"Rey" lirih Larissa.


"Pergilah Rissa, kumohon tinggalkan aku sendirian" pinta Reyhan.


Larissa menggeleng ia tidak mau meninggalkan Reyhan dalam keadaan seperti itu.


"Tidak Rey, aku akan tetap disini" ucap Larissa.


"Baiklah kalau begitu aku yang pergi" ucap Reyhan kemudian bangkit dan hendak membuka pintu kamar.


"Tunggu Rey! Baiklah aku yang akan pergi" ucap Larissa mengalah.

__ADS_1


Reyhan mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar karena Larissa sudah keluar sesaat ia mengatakan hendak pergi.


Setelah kepergian Larissa dari kamarnya, pria itu kembali mendudukan tubuhnya diranjang, ia berusaha menenangkan dirinya.


Diluar kamar Reyhan, Larissa masih berdiri dipintu yang sudah ia tutup. Gadis itu berat untuk melangkahkan kakinya pergi dari rumah kost Reyhan.


"Kenapa non?" tanya Edwin sembari menghampiri Larissa yang masih berada diambang pintu.


"Reyhan mengusirku" jawab Larissa.


"Jadi kita sekarang harus apa non?" tanya Adam.


"Kalian jaga Reyhan dan laporkan pada saya bila terjadi sesuatu padanya" jawab Larissa.


"Siap non" jawab Adam.


Larissa kemudian pulang kerumahnya dengan hati yang masih mengkhawatirkan Reyhan.


'Apa aku perlu mengatakan ini pada daddy dan mommy ya?' tanya Larissa didalam hatinya.


Larissa tiba dirumahnya tepat saat jam makan malam. Dimeja makan sudah ada Cristian dan Karina yang menunggunya.


"Dari mana Rissa?" tanya Karina.


"Dari rumah kost Reyhan mom" jawab Larissa.


"Ada apa kamu kesana?" tanya Karina.


"Tadi Reyhan sakit, tapi sekarang sudah baikan" jawab.


"Apa! Reyhan sakit?" tanya Karina tekejut, pasalnya yang ia tahu tadi Reyhan baik-baik saja.


"Ayo mas setelah selesai makan kita jenguk dia" ajak Karina.


"Tidak perlu mom, saat ini dia sedang istirahat jadi tidak bisa diganggu" ucap Larissa.


"Benarkah? Lalu sakit apa dia nak?" tanya Karina.


"Kelelahan saja mom" jawab Larissa masih berusaha menyembunyikan kondisi Reyhan.


"Kalau begitu besok kamu antarkan sarapan untuknya ya" titah Karina.


"Iya mom" jawab Larissa menurut.


Gadis itu kemudian menikmati makan malamnya bersama daddy dan mommynya.


...****************...


Dirumah Jhonatan.


Setelah pergi dari rumah Cristian, Jhonatan pulang kerumah dengan wajah memerah menahan marah, ia marah karena usahanya untuk meracuni pikiran Cristian gagal.


Cristian justru sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Jhonatan agar tidak menjadikan Reyhan sebagai menantunya.


Jhonatan mendudukan bokongnya disofa ruang keluarga dengan didampingi oleh Marisha.


"Hai daddy. Hai mommy" sapa Dion yang sedang menuruni anak tangga.

__ADS_1


Dion baru saja bangun tidur dikarenakan tadi malam mabuk berat sehingga ia tertidur sepanjang hari hingga sore.


Melihat Dion turun dari tangga dan baru bangun tidur seketika emosi Jhonatan meningkat, ia menghampiri Dion yang berada dianak tangga terakhir.


Bugh.


Jhonatan meninju wajah Dion.


"Mas!" teriak Marisha pada Jhonatan dan mencegah pria itu agar tidak memukul Dion lagi.


Ujung bibir Dion sedikit berdarah karena pukulan dari ayahnya itu.


"Sudah mas jangan pukul Dion lagi. Anakmu memang salah tapi tidak seperti ini caranya" ucap Marisha.


"Terus saja kamu manjakan dia!" ucap Jhonatan kemudian berlalu menuju kamarnya.


Marisha segera menolong Dion yang tersungkur karena pukulan dari ayahnya.


"Ayo kemari Di" ajak Marisha sembari menarik lengan Dion.


Dion menurut dan ia segera duduk disofa ruang keluarga juga.


"Bi ambilkan es batu dan handuk" titah Marisha pada pelayan.


"Baik nyonya" ucap pelayan dirumah itu.


Pelayan tersebut segera mengambilkan es batu dan handuk kemudian memberikan pada Marisha.


"Sini mommy kompreskan" ucap Marisha kemudian meraih wajah Dion.


"Aww, pelan-pelan mom ini perih" ucap Dion.


"Salahmu sendiri Di siapa suruh kamu mabuk-mabukan lagi" ucap Marisha.


"Maaf mom, tadi malam itu aku hanya menemani Marcell yang sedang sedih karena putus dengan Larissa" ucap Dion.


"Dengar ya Di, apapun alasannya kamu tidak boleh seperti tadi malam lagi apa lagi sampai daddy mu tahu" ucap Marisha.


"Iya mom" ucap Dion.


"Satu lagi Di. Perusahaan kita sedang krisis karena semenjak kamu menjadi CEO di perusahaan kita bukannya untung justru malah banyak mengalami kerugian dan itu juga yang membuat daddy mu marah besar" ucap Marisha.


"Maaf mom aku belum bisa memimpin perusahaan dengan baik" ucap Dion menyesal.


"Minta maaf lah pada daddymu juga Di" ucap Marisha.


"Iya mom, akan Dion lakukan" ucap Dion.


Marisha mengangguk, kemudian ia mengingat sesuatu dan kemudian mengutarakannya pada putranya itu.


"Jadi tadi daddy habis dari rumah om Crist" ucap Dion.


"Iya, disana daddy mu mengutaran pendapatnya yang keberatan dengan kabar Larissa dan Reyhan akan menikah namun pendapatnya justru ditolak dan justru daddy kamu diusir oleh mereka" ucap Marsha.


"Kalau begitu aku akan coba bicara dengan Larissa mom" ucap Dion.


"Semoga saja dia mau mendengarkan ucapanmu Di dan membatalkan pernikahannya dengan Reyhan" ucap Marsha.

__ADS_1


"Iya mom" ucap Dion.


...****************...


__ADS_2