Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 41 Trauma


__ADS_3

"Kemana Satria Win?" tanya Reyhan.


"Jadi kamu nggak baca pesan yang digrup kalau Satria pulang kejogja karena ibunya meninggal?" tanya Edwin.


"Benarkah? Aku turut berduka cita ya, aku minta maaf tidak membaca pesan digrup. Kapan dia berangkat kejogjanya?" Tanya Reyhan.


"Kemarin lusa Rey" ucap Edwin.


Reyhan mengangguk ia kemudian berpamitan pada kedua temannya untuk masuk kedalam kamar dan diikuti oleh Edwin dan Adam yang masuk juga.


"Aku kira kamu tidak akan kembali lagi kesini" ucap Edwin.


"Tadinya aku memang diminta oleh pak Cristian dan bu Karina tinggal disana tapi aku tidak enak pasalnya kami belum menikah" ucap Reyhan.


"Lalu kapan kamu nikahnya Rey?" tanya Adam.


"Enam belas hari lagi" jawab Reyhan.


Adam yang mendengar jawaban Reyhan secepatnya mengambil kalender dan menghitung tanggalnya.


"Berarti tanggal dua satu ya Rey?" tanya Adam memastikan setelah melihat kalender


"Iya Dam tanggal dua satu" jawab Reyhan lagi.


"Semangat calon manten!" ucap Adam sembari menepuk bahu Reyhan.


"Thank's" ucap Reyhan.


"Acaranya dimana Rey?" tanya Edwin.


"Dijakarta Win dan itu akan diurus oleh bu Karina" jawab Reyhan.


"Kami turut bahagia dengarnya Rey, semoga SAMAWA ya" ucap Edwin.


"Thank's juga Win" ucap Reyhan.


"Kamu istirahat dikamar gih Rey, aku mau main PS sama Adam dikamarnya" ucap Edwin.


Reyhan mengangguk dan kemudian masuk kedalam kamarnya.


Pria itu merebahkan tubuhnya diranjang sederhana, ia mengingat kalau Larissa akan memberikan surat perjanjian nikah kontrak pada dirinya setelah tiba dijakarta.


Reyhan kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Larissa.


'Besok bawalah surat perjanjian nikah kontak kita kebutikmu, aku akan kesana selepas pulang kerja' itulah pesan yang dikirimkan Reyhan untuk Larissa.


Setelah pesan itu terkirim Reyhan meletakan ponselnya diatas nakas, ia memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak. Karena tubuhnya yang terasa lelah Reyhan langsung terlelap.


"Aku mencintai kamu Reyhan!" ucap Nayla sedikit meninggikan suaranya.


"Apa kamu mau menjadi kekasih ku?" tanya Nayla.


"Rey kenapa kamu menarikku kemari?" tanya Nayla.


"Nay kamu ini apa-apaan sih" ucap Reyhan.


"Maksud kamu?" tanya Nayla.


"Kamu apa-apaan coba, kenapa mengungkapkan cinta pada ku?" tanya Reyhan.


"Karena aku mencintai kamu Rey, aku sungguh-sungguh" jawab Nayla.

__ADS_1


"Nay, kita ini sahabat" ucap Reyhan.


"Memangnya kenapa kalau kita sahabat Rey, aku mencintai kamu dan aku mau kita jadian" ucap Nayla.


"Maaf Nay tapi aku tidak bisa" ucap Reyhan.


"Kenapa?" tanya Nayla


"Karena aku tidak mencintai kamu Nayla" ucap Reyhan tercekat.


"Tidak bisa kah kamu mencintai aku?" tanya Nayla.


"Tidak bisa Nay, mau sekarang atau nanti aku tidak bisa mencintaimu" jawab Reyhan.


"Nay, kamu mau kemana Nay?" tanya Reyhan sembari mengejar Nayla.


"Nay, Nayla!" panggil Rendy.


"NAYLA AWAS!" teriak Reyhan bersamaan dengan Rendy sembari berlari.


Brakk.


"NAYLA!" teriak Reyhan.


Hah hah hah


Reyhan bangun dan terduduk nafas Reyhan terengah kejadian itu berputar lagi dimimpinya dan teriakan Reyhan itu bukan hanya dalam mimpi melainkan terbawa kealam sadar.


Adam dan Edwin yang sedang bermain PS terkejut dengan terikan Reyhan, mereka segera menghampirinya baru kali ini juga mereka melihat Reyhan mengalami mimpi buruk.


"Kenapa Rey?" tanya Edwin setelah membuka pintu kamar.


"Kamu baik-baik saja Rey?" tanya Adam.


Reyhan masih menetralkan nafasnya yang terasa sesak, Ia memejamkan matanya cukup lama dan kejadian itu terus saja berputar-putar diingatannya. Reyhan sama sekali tak melihat pada kedua sahabatnya yang mencemaskan dirinya, pria itu bangkit dari tempat tidur dan masuk kekamar mandi.


"Arrgh" teriak Reyhan dari dalam kamar mandi.


Prang.


Bugh Bugh.


Rasa bersalah terus menghantuinya, pria itu tidak bisa mengendalikan diri, ia melemparkan semua barang yang ada dikamar mandi dan meninju-ninju dinding.


Adam dan Edwin saling pandang mereka baru melihat Reyhan seperti itu, rasa khawatir didiri mereka mengerahkan untuk mendobrak kamar mandi.


Dobrakan ke satu dan kedua pintu tidak terbuka lalu mereka mencoba mendobrak yang ketiga kalinya.


Brakk.


Pintu kamar mandi terbuka dan dilihat oleh kedua pria itu Reyhan sudah terbaring dilantai dengan menjambak rambutnya.


"Rey!" panggil Edwin dan Adam bersamaan.


Kedua pria itu segera menghampiri Reyhan yang sudah tergeletak.


Reyhan tak memberi jawaban apa-apa tapi terdengar oleh kedua temannya Reyhan terus menyebutkan kalimat 'Nayla maafkan aku' dengan suara yang lirih.


Edwin dan Adam segera memindahkan Reyhan masuk kembali kedalam kamar dan dibaringkannya tubuh pria itu diranjangnya.


"Dam apa kita perlu panggil dokter?" tanya Edwin.

__ADS_1


"Aku tidak punya nomor dokter Win. Apa kita hubungi pak Cristian saja ya?" ucap Adam kemudian bertanya pada Edwin.


"Aku tidak punya nomornya Win kalau kamu?" tanya Edwin.


"Aku juga tidak punya Win" ucap Adam.


Keduanya diam sejenak kemudian sama-sama melihat ponsel Reyhan diatas nakas.


"Pakai ponsel Reyhan" ucap keduanya bersamaan.


Edwin segera mengambil ponsel Reyhan dan membukanya, untung saja ponsel pria itu tidak menggunakan kata sandi atau pun pola untuk mengunci ponselnya.


Edwin melihat ada balasan pesan dari Larissa yang mengatakan 'Iya'.


"Larissa" gumam Edwin.


"Iya Larissa aja Win, cepat hubungi dia" titah Adam.


Edwin mengangguk kemudian menghubungi nomor Larissa.


Tut tut tut


"Hallo Rey" jawab Larissa.


"Nona Rissa ini saya Edwin temannya Reyhan" ucap Edwin.


Larissa yang mengetahui Edwin menghubunginya menggunakan nomor Reyhan mengernyit ia heran kenapa bukan Reyhan yang bicara.


"Hallo non" panggil Edwin karena Larissa hanya diam saja.


"Iya ada apa?" tanya Larissa.


"Begini non, Reyhan tadi sore tiba dikost dan dia kemudian masuk kamar untuk beristirahat tak lama kemudian kami mendengar dia berteriak dan_" ucap Edwin terpotong karena Larissa lebih dulu bicara.


"Aku segera kesana" ucap Larissa kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Yahh, dimatiin" ucap Edwin.


"Apa katanya Win?" tanya Adam.


"Katanya dia akan segera kesini" jawab Edwin yang diangguki oleh Adam.


Reyhan yang kelelahan karena terus merasa bersalah akhirnya terlelap lagi.


Kedua teman Reyhan terus memperhatikan pria itu yang sedang terlelap.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Reyhan ya Win?" tanya Adam.


Edwin menggeleng.


"Aku juga nggak tahu Dam tapi kayaknya dia punya trauma" ucap Edwin.


Adam mengangguk, ia setuju dengan ucapan Edwin. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan yang datang ialah Larissa.


"Dimana kamar Reyhan?" tanya Larissa.


"Ini disini" jawab Edwin menunjuk kamar Reyhan.


Larissa bergegas menuju kamar Reyhan dan ia langsung melihat Reyhan yang sedang terlelap.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Larissa pada kedua teman Reyhan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2