
Rani terus memperhatikan Reyhan dan Larissa yang sedang menunggu mie ayam matang.
Sesekali Reyhan mengusap perut Larissa, kadang juga berbicara pada perut istrinya.
Tanpa ia sadari ternyata air matanya menetes.
Rani masih berharap bisa bersama Reyhan. Pernah ada terbesit didalam pikirannya ingin merebut Reyhan namun melihat pria itu sudah bahagia dengan orang lain membuatnya berfikir ulang.
"Sudahlah Ran. Berapa kali bapak sudah ingatkan jangan mengharapkan Reyhan. Dia sudah menikah dan kamu lihat sendirikan dia itu sudah bahagia" ucap mang Agus.
Pria paruh baya itu tentu saja mengetahui kalau putrinya mencintai Reyhan maka dari itu ia berbicara demikian. Mang Agus juga bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh putrinya.
Rani tak menyahuti, ia memilih kembali kedapur dan melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan mang Agus segera mengantarkan mie ayam yang sejak tadi ditunggu oleh Larissa.
Pria paruh baya itu meletakan satu mangkuk mie ayam didepan Larissa dan satu mangkuk didepan Reyhan.
Mang Agus juga membuatkan teh hangat untuk keduanya lalu mempersilhkan Reyhan dan Larissa menyantapnya.
Larissa memulai memakan mie ayam itu. Ia benar-benar lahap hingga memasukan banyak-banyak kedalam mulutnya.
Sedangkan Reyhan, ia hanya memandangi istrinya yang sedang makan seraya tersenyum.
"Pelan-pelan makannya aku tidak minta" ucap Reyhan.
Larissa mengangguk sembari mengunyah mie ayam yang ada didalam mulutnya.
Tidak butuh waktu lama ibu hamil itu sudah menghabiskan semangkuk mie ayam. Ia kemudian melirik pada mangkuk mie ayam dihadapan Reyhan yang masih utuh.
Larissa ingin memintanya namun belum sempat ia meminta, Reyhan sudah menyodorkan mangkuk tersebut.
"Habiskan" ucap Reyhan sembari menyodorkan mangkuk berisikan mie ayam.
Larissa tersenyum. Ia kemudian memakan mie ayam milik Reyhan hingga habis tak tersisa.
"Maaf ya Rey, kamu jadi tidak makan" ucap Larissa.
"Tidak apa-apa, aku masih bisa makan dirumah" ucap Reyhan.
Keduanya kemudian bangkit dan memutuskan untuk pulang. Reyhan membayar makanan serta minuman tersebut namun ditolak oleh mang Agus. Katanya gratis khusus buat ibu hamil lagi ngidam.
Kedua orang tersebut masuk kedalam mobil dan Reyhan segera melajukan mobilnya menuju rumah.
Namun baru setengah perjalanan Larissa meminta Reyhan menghentikan mobilnya.
"Rey berhenti disitu" pinta Larissa sembari menunjuk taman kota.
Bukan taman kota yang sebenarnya Larissa tunjuk, melainkan menunjuk penjual bubur ayam.
"Kamu mau ketaman?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Bukan. Aku ingin makan bubur ayam" jawab Larissa.
Reyhan yang mendengar itu kemudian menoleh pada Larissa dan turun melihat perut sang istri. Reyhan mengusap perut istrinya itu.
Ia senang bila Larissa mau makan banyak seperti itu. Tidak seperti kemarin-kemarin yang sulit sekali untuk makan karena rasa mual dan muntah yang mengakibatkan Larissa tidak selera untuk makan.
"Kamu mau makan bubur ayam?" tanya Reyhan.
"Iya Rey" jawab Larissa.
Reyhan kemudian menepikan mobilnya didekat penjual bubur ayam. Pria itu keluar dari mobil lebih dulu kemudian membantu Larissa keluar dari mobil.
Keduanya kini sudah duduk dikursi pedagang bubur ayan untuk menunggu pesanan mereka jadi.
"Aku pagi ini makan banyak ya Rey?" tanya Larissa.
"Tidak apa-apa yang penting kamu sehat" jawab Reyhan.
"Tapi nanti aku gendut gimana?" tanya Larissa.
"Aku tidak perduli kalau kamu gendut. Mau ramping atau gendut aku tetap mencintai kamu" jawab Reyhan.
Larissa tersipu dengan ucapan Reyhan. Reyhan benar-benar bisa mengerti dirinya.
Tidak lama kemudian bubur ayam pesanan mereka sudah jadi. Reyhan dan Larissa sama-sama menyantap makanan itu.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah selesai memakan bubur ayam itu.
Kini keduanya sedang berjalan kaki mengelilingi taman tersebut. Disana Larissa bisa melihat ada beberapa jenis bunga yang menghiasi taman tersebut.
"Rey, ada bunga mawar" ucap Larissa sembari menunjuk gerombolan bunga mawar.
"Kamu mau kesitu?" tanya Reyhan.
"Iya Rey" jawab Larissa sumringah.
Larissa digandeng oleh Reyhan menuju gerombolan bunga mawar tersebut.
"Rey, aku jadi teringat saat kita bulan madu waktu itu" ucap Larissa.
"Iya. Tapi saat itu kamu masih membenciku" ucap Reyhan.
Mendengar ucapan Reyhan Larissa segera menolehkan kepalanya agar menghadap Reyhan.
"Maaf" Lirih Larissa dan raut wajahnya berubah sedih.
Mendapati perubahan dari raut wajah Larissa, Reyhan segera merangkul tubuh wanita itu dari samping.
"Jangan minta maaf lagi, aku sudah memaafkanmu" ucap Reyhan.
Larissa mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya kedada Reyhan. Sedangkan Reyhan semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya.
__ADS_1
Reyhan kecup puncak kepala Larissa dalam-dalam dan dielusnya rambut panjang wanita itu.
"Rey aku sangat mencintai kamu" ucap Larissa.
"Aku juga mencintai kamu sayang" ucap Reyhan.
Lama mereka menikmati waktu ditaman tersebut hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang kerumah.
Diperjalanan menuju pulang, Larissa teringat pada Reyhan yang memiliki trauma.
"Bagaimana dengan trauma kamu Rey?" tanya Larissa.
"Sudah sembuh" jawab Reyhan.
"Kapan?" tanya Larissa lagi.
"Dua minggu sebelum kita bertengkar aku terakhir memeriksakan diri ke psikiater dan hasilnya aku dinyatakan sembuh 100%" jawab Reyhan.
"Syukurlah" ucap Larissa lega.
Reyhan terus melajukan mobilnya hingga akhirnya tiba dikediaman Cristian.
Iya. Memang selama menikah dengan Larissa, Reyhan tinggal dirumah Cristian, namun tidak untuk selamanya.
Tanpa sepengetahuan Larissa, Reyhan sedang membangun rumah untuk keluarga kecil mereka yakni, Reyhan, Larissa dan anak mereka.
Pembangunannya baru dikerjakan sejak setelah Reyhan menanyakan pada Larissa rumah apa yang wanita itu inginkan. Pembangunan rumah itu kini sudah berjalan 30% dan masih kurang 70% lagi hingga rumah jadi.
Sepasang suami istri itu kini sedang berjalan masuk kedalam rumah. Mereka juga ditawari oleh bi Lia untuk sarapan namun keduanya mengatakan 'sudah kenyang'.
Setibanya disana Larissa langsung berbaring, sedangkan Reyhan menerima telepon karena Gunawan sekretarisnya yang menelepon.
Gunawan menyampaikan pada Reyhan bila hari ini ada jadwal meeting dengan klien penting yang harus dihadiri pemimpin perusahaan dan tidak bisa diwakilkan.
Setelah panggilan terputus, Reyhan segera mengganti pakaiannya dengan stelana kantor.
"Kamu mau kerja Rey?" tanya Larissa.
"Iya sayang. Aku harus kekantor dan mengurus om Jhon serta tante Marisha" ucap Reyhan.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Larissa.
"Boleh, tapi nanti tunggu kamu benar-benar sembuh" jawab Reyhan.
Larissa mengerucutkan bibirnya. Ia tak suka bila dirinya ditinggal Reyhan pergi bekerja. Ia ingin selalu didekat Reyhan, kalau bisa kemanapun Reyhan pergi Larissa ingin ikut bersamanya.
Cup. Reyhan mengecup bibir Larissa yang cemberut.
"Jangan cemberut dong. Aku kekantor hanya sebentar karena ada meeting yang tidak bisa diwakilkan" jawab Reyhan.
"Pekerjaanmu pasti banyak dan melelahkan ya Rey?" tanya Larissa.
__ADS_1
"Iya, tapi aku menikmatinya" jawab Reyhan.
Pria itu kemudian pamit lagi pada Larissa dan menuju kantor terlebih dahulu baru kemudian kekantor polisi.