
Tiga minggu berlalu.
Reyhan sudah menjadi CEO yang sesungguhnya, ia tidak lagi diajari oleh Cristian karena mertuanya itu sudah pergi kejepang sejak satu minggu yang lalu. Reyhan sudah bisa mengelola perusahaan itu dengan kemampuannya sendiri, dan sesekali ia bertanya pada Gunawan selaku sekretarisnya bila ada yang tidak ia mengerti.
Berbeda dengan kariernya yang melambung, hubungan ia dan Larissa justru diam ditempat alias tidak ada kemajuan. Harapan Reyhan setelah bulan madu bisa membuat hubungannya dan Larissa membaik nyatanya justru tidak. Mereka bahkan jarang sekali bertemu, karena Larissa kerap kali pergi kebutik pagi-pagi bahkan mereka jarang sekali makan bersama, hanya malam mereka bisa bertemu saat makan malam bersama dan tidur bersama.
Meski hubungan mereka tidak baik-baik saja tapi Larissa tidak bisa menolak saat Reyhan menyentuhnya. Reyhan tidak menyerah ia terus berusaha membuat istrinya mencintai dirinya.
"Besok aku antar kamu kebutik ya" tawar Reyhan.
"Tidak usah, aku bisa berangkat sendiri" tolak Larissa.
"Kamu itu istriku Rissa, apa salahnya aku ingin mengantarmu sesekali" ucap Reyhan.
"Ingat Reyhan meski kamu itu suamiku tapi kita ini hanya menikah kontrak dan akan seperti itu hingga kontrak berakhir lalu kita bercerai" ucap Larissa.
Saat ini mereka hendak bersiap untuk tidur. Seperti biasa Wanita itu tidur selalu memunggungi suaminya, sedangkan Reyhan ia hanya menatap punggung istrinya itu hingga keduanya sama-sama terlelap.
Hubungan mereka berlanjut seperti itu hingga pernikahan mereka berusia dua bulan. Bukan tidak ada perkembangan dengan hubungan mereka melainkan Larissa lah yang menekan perasaannya pada Reyhan agar tidak jatuh cinta, padahal dilubuk hatinya yang paling dalam ia mencintai pria itu.
Pagi-pagi sekali Reyhan terbangun dari tidurnya karena dikejutkan dengan suara seseorang dari dalam kamar mandi.
Hoeekk. Hoeekk.
Dihampirilah oleh Reyhan kedalam kamar mandi ternyata suara itu berasal dari Larissa yang sedang memuntahkan isi perutnya.
Hoeekk. Hoeekk.
"Kamu kenapa Larissa?" tanya Reyhan sesaat ia masuk kedalam kamar mandi.
Reyhan hendak membantu Larissa memijitkan tengkuknya namun diurungkan karena wanita itu menolaknya.
"Jangan sentuh aku!" ucap Larissa.
Tangan Reyhan yang sudah terulur hendak memijit tengkuk wanita itu segera ditariknya kembali. Larisaa terduduk dilantai kamar mandi karena merasa lemas.
__ADS_1
"Apa kamu sakit?" tanya Reyhan sembari meletakan punggung tangannya dikening istrinya itu.
"Tidak panas" ucap Reyhan, ia menjawab pertanyaannya sendiri.
Larissa buru-buru menepis tangan Reyhan yang menyentuh keningnya, ia perlahan bangkit sembari mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
Wanita itu memilih keluar dari kamar mandi dan masuk keruang ganti untuk berganti pakaian kemudian keluar dari kamar.
Reyhan hanya memperhatikan Larissa dari ambang pintu kamar mandi, ia sangat mengkhawatirkan istrinya itu dan kemudian ia segera menyusul Larissa yang sudah berada dilantai satu.
Grep.
Reyhan mencekal pergelangan tangan Larissa yang sedang berjalan.
"Kamu mau kemana?" tanya Reyhan.
"Bukan urusanmu!" jawab Larissa.
"Ini menjadi urusanku Larissa, kamu ini istriku kamu sedang tidak baik-baik saja jadi" ucap Reyhan.
Perdebatan keduanya berlanjut cukup lama hingga Larissa mencium bau masakan dan tak tahan lagi ingin memuntahkan isi didalam perutnya. Larissa segera berlari menuju washtafel yang ada didapur.
Hoeekk. Hoeekk.
Melihat Larissa berlari menuju washtafel Reyhan segera mengikutinya. Ia melihat istrinya itu sedang dipijit tengkuknya oleh bi Lia sembari masih memuntahkan isi perutnya.
"Biar aku saja bi" pinta Reyhan.
Bi Lia segera menyingkir dari kedua orang itu.
Reyhan menggantikan bi Lia memijit tengkuk Larissa namun wanita itu melepaskan tangan Reyhan dari tengkuknya.
Larissa kemudian mencuci mulutnya setelah merasa perutnya lebih baik. Ia bergegas pergi keapotek untuk membeli tespek, ia menduga kalau dirinya sedang mengandung karena seminggu terakhir ini ia merasakan perutnya seperti ada yang berbeda dan ia merasa lebih sensitif. Bukan hanya itu saja, ia juga mengalami gejala-gejala ibu hamil lainnya.
Reyhan sudah melangkah menyusul Larissa namun ia dipanggil oleh bi Lia karena Cristian menelepon melalui telepon rumah.
__ADS_1
"Den ini pak Cristian mau bicara" ucap bi Lia.
Reyhan yang sudah melangkah untuk menyusul Larissa segera menghentikan langkahnya dan bergegas menuju telepon rumah berada.
"Hallo dad" ucap Reyhan sesaat setelah menerima telepon rumah itu dari bi Lia.
"Hallo juga Rey, tadi daddy menghubungi diponselmu tapi tidak dijawab dan daddy menghubungi Larissa sama juga tidak dijawab. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Cristian dari sebrang telepon.
"Iya dad kami baik-baik saja, bagaimana kabar daddy dan mommy disana?" tanya Reyhan balik.
Kedua pria itu saling mengobrol melalui sambungan telepon, menanyakan kabar dan membicarakan perusahaan hingga tak terasa Reyhan melihat Larissa yang sudah kembali dari luar dan sedang menaiki anak tangga.
Reyhan mengakhiri pembicaraan disambungan telepon dengan Cristian dan ia segera menyusul Larissa kekamar. Pria itu mencari keberadaan Larissa dikamar namun tidak menemukannya. Ia menduga kalau istrinya itu ada dikamar mandi. Pria itu kemudian mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup.
Tok tok tok
"Larissa kamu tidak apa-apa?" tanya Reyhan.
Larissa yang berada didalam kamar mandi tidak menjawab panggilan dari suaminya itu. Ia saat ini sedang menggunakan tespek dan menunggu hasilnya.
Dilihat oleh Larissa alat tes kehamilan itu bergaris dua yang menandakan ia positif hamil. Tubuh Larissa terduduk dilantai ia bingung harus seperti apa, tapi ia tak mungkin menolak kehadirannya. Wanita itu kemudian bangkit dan berdiri didepan cermin besar yang ada didalam kamar mandi itu. Pandangannya beralih melihat pantulan dirinya dan tertuju pada perut yang masih rata.
"Aku hamil" ucap Larissa sembari mengusap perutnya.
Wanita itu masih saja menatap pantulan dirinya didepan cermin besar itu.
"Aku hamil anakmu Rey" ucap Larissa.
Ia berbicara sendiri tanpa ada yang bisa mendengar ucapannya.
Larissa kemudian membereskan peralatan yang tadi ia gunakan agar tidak dilihat oleh Reyhan. Wanita itu memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya pada Reyhan. Ia tak mau karena kehamilannya itu membuatnya semakin terikat dengan suaminya itu.
Ceklek.
"Kamu tidak apa-apa Rissa?" tanya Reyhan sesaat Larissa keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Larissa tak menjawab, ia hanya mengangguk kemudian berlalu menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya disana. Ia memilih beristirahat lebih dulu barulah agak siangan ia pergi kerumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya seorang diri.
Melihat Larissa memejamkan matanya dan terlelap lagi, Reyhan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh lagi. Pria itu memilih menyiapkan makanan untuk Larissa sarapan dan barulah ia bersiap untuk pergi kekantor meski sudah terlambat.