
Merasa nyaman dengan usapan Larissa, Reyhan kemudian melepas sepatunya dan naik keatas ranjang.
Pria itu merebahkan tubuhnya disana. Meletakan kepalanya dipangkuan Larissa yang masih duduk bersandar.
Usapan tangan Larissa yang tadi sempat berhenti, kini mulai mengusap lagi. Mengusap sayang rambut Reyhan.
Reyhan yang sudah berbaring akhirnya memejamkan mata karena sudah tidak tahan dengan kantuknya.
"Tidurlah Rey, aku tahu kamu pasti lelah" ucap Larissa.
Reyhan menganggukan kepalanya yang masih berada diatas pangkuan Larissa dan mencoba untuk terlelap.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Reyhan terlelap karena memang tubuhnya benar-benar lelah.
Ia bukan robot yang tidak merasakan lelah. Meski lelah tubuhnya tidak ia herankan karena kesibukan mengelola dua perusahaan besar sekaligus.
Belum lagi masalah-masalah lainnya yang harus ia hadapi seperti menaklukan hati putri kaya yang ia nikahi. Namun kini satu masalah terselesaikan, Reyhan sudah berhasil menaklukan hati istrinya.
Melihat Reyhan yang sudah terlelap, hati Larissa berkedut nyeri. Ia jadi teringat dirinya yang menyakiti Reyhan.
Meski berulang kali Reyhan meminta dirinya agar tidak mengingat lagi masa lalu, namun semua itu sulit sekali ia lakukan.
Larissa kemudian membuka laci nakas disebelah kirinya. Meraba isi didalam laci. Setelah menemukan yang ia cari Larissa segera mengeluarkannya.
"Surat Perjanjian Nikah Kontrak" ucap Larissa membaca judul surat tersebut sembari tersenyum kecut.
Dibaca lagi oleh Larissa secara keseluruhan dan dirobeknya kertas tersebut.
Srett. Srett.
Dua lembat surat perjanjian nikah kontrak Larissa robek. Satu surat yang ia buat dan satu lagi surat yang Reyhan buat.
Setelah keduanya berkomitmen untuk saling mencintai dan menjalani hidup baru, Reyhan menggabungkan surat perjanjian nikah kontrak tersebut dan memberikan pada Larissa.
"Gara-gara ini aku jadi menyakiti suamiku sendiri" geram Larissa.
Surat perjanjian nikah kontrak mereka kini sudah tidak berbentuk lembaran lagi melainkan menjadi serpihan kertas yang kecil.
Dikumpulkannya robekan kertas tersebut yang bertebaran diranjang bahkan ada juga yang mengenai wajah Reyhan yang sedang terlelap dipangkuan Larissa.
Reyhan yang sudah terlelap dengan nyaman tidak merasakan pergerakan istrinya sama sekali.
Larissa sudah berhasil mengumpulkan robekan surat tersebut, kemudian merematnya kuat sehingga menjadi seperti bola.
Bukk
dilemparnya bola kertas tersebut ketempat sampah yang ada didalam kamar.
Kertas tersebut masuk kedalam tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari ia duduk.
__ADS_1
"Mari kita tinggalkan masa lalu dan jalani masa depan" gumam Larissa.
Wanita itu beralih menatap Reyhan yang sedang terlelap dipangkuannya mengecup sekilas bibir suaminya itu.
Cukup lama Reyhan tertidur dipangkuan Larissa sehingga membuat Larissa tak tahan untuk memejamkan matanya.
Larissa ikut terlelap sembari tubuh setengah berbaring dan masih memangku kepala Reyhan.
Pukul satu siang Reyhan membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. Reyhan melihat Larissa yang tidur dengan posisi setengah duduk sembari masih memangku kepalanya.
Hai itu seketika membuat Reyhan bangkit dari tidurnya.
"Bisa-bisanya aku tertidur cukup lama dipangkuanmu" gumam Reyhan.
Pria itu kemudian membenahi tubuh Larissa agar berbaring diranjang, namun pergerakan Reyhan justru membuat Larissa terbangun.
"Rey, kamu sudah bangun?" tanya Larissa.
"Maaf aku tidurnya terlalu lama. Kakimu pasti pegel ya?" tanya Reyhan.
"Nggak ko Rey. Aku tidak apa-apa" jawab Larissa.
"Kemari, aku pijiti kakimu" ucap Reyhan.
Larissa segera menjulurkan kakinya kedepan Reyhan dan segeralah dipijit kakinya oleh pria itu.
Mendengar permintaan Larissa tentu saja membuat Reyhan senang. Itulah yang ia harapkan selama ini. Menjadi suami yang diharapkan kehadirannya disaat susah maupun senang.
"Benarkah aku boleh ikut?" tanya Reyhan memastikan.
"Iya mas kamu boleh ikut" jawab Larissa.
"Sebentar. Coba ulangi kamu panggil aku apa tadi?" tanya Reyhan tak percaya.
"Mas. Aku panggil kamu mas tadi" jawab Larissa.
Reyhan tersenyum lebar mendengar panggilan 'Mas' yang keluar dari mulut istrinya.
"Bolehkan aku panggil kamu mas Reyhan?" tanya Larissa.
"Tentu saja sayang" jawab Reyhan.
Keduanya sama-sama tersenyum, saling pandang satu sama lain. Pandangan yang begitu dalam mengartikan kalau mereka saling mencintai.
"Aku beruntung bisa jadi istri kamu Rey" ucap Larissa kemudian memeluk Reyhan.
Reyhan membalas pelukan istrinya itu hingga beberapa saat. Pria itu kemudian mengurai pelukannya dan mengajak Larissa untuk makan siang.
Larissa makan sudah tidak lagi dibawa kekamar. Ia ingin makan bersama suami dan melayaninya. Sepasang suami istri itu kini makan bersama dimeja makan.
__ADS_1
Seminggu berlalu.
Hubungan Larissa dan Reyhan semakin membaik. Larissa juga kerap kali ikut Reyhan kekantor hanya untuk sekedar menemani suaminya bekerja.
Larissa juga sudah menyerahkan jabatan sebagai Manager operasional kepada Reyhan agar bisa digantikan orang lain.
Kini wanita itu benar-benar meninggalkan kariernya. Ia memilih fokus pada kandungan dan suaminya.
Hari ini Larissa tidak ikut kekantor dikarenakan ia hendak menyiapkan makan siang untuk suaminya dan barulah saat jam makan siang ia akan membawakan kekantor.
Larissa memasak nasi goreng, karena hanya itu makanan yang bisa ia masak. Beruntung Larissa sudah tidak merasakan mual dan muntah jadi ia sudah bisa mencium aroma masakan.
"Sudah selesai non?" tanya bi Lia.
Sejak tadi bi Lia hanya memperhatikan Larissa yang memasak nasi goreng. Ia menawarkan bantuan namun Larissa melarang untuk dirinya dibantu.
"Sudah bi" jawab Larissa setelah selesai memasukan nasi goreng ketempat bekal.
"Wahh, non Rissa sudah bisa masak ya sekarang?" tanya bi Lia.
"Iya bi, tapi hanya nasi goreng yang benar-benar bisa aku masak" jawab Larissa.
"Kalau begitu non Rissa belajar saja dengan bibi" ucap bi Lia.
"Beneran bibi mau ngajarin?" tanya Larissa.
"Iya non" jawab bi Lia.
Larissa seketika tersenyum. Ia kemudian mengatakan akan belajar besok-besok lagi. Belajar masakan yang lain terutama seafood asam manis makanan kesukaan Reyhan.
Wanita itu kemudian pamit pada bi Lia untuk kekamar berganti pakaian dan akan langsung pergi kekantor Reyhan untuk mengantarkan makan siang.
Larissa keluar dari kamar setelah selesai berganti pakaian. Wanita itu mengenakan dress selutut berwarna putih tulang dengan bagian rok yang lebar. Sepatu flat dengan warna senada dan rambut panjang yang ia gerai kebelakang.
Larissa menuruni tangga perlahan dan berjalan kearah dapur untuk mengambil bekal makan siang Reyhan dan membawanya kekantor.
Wanita itu meminta Herman untuk mengantarkannya kekantor.
Tidak lama kemudian Larissa tiba dikantor dan bergegas menuju ruangan Reyhan.
Diperjalanan menuju ruangan Reyhan. Larissa bertemu dengan beberapa karyawan yang ia lewati seperti resepsionis dan satpam yang sedang berjaga.
"Selamat siang bu"
"Mau bertemu pak Reyhan ya bu?"
Itulah sapaa-sapaan yang dilontarkan oleh karyaean yang ia lewati. Larissa membalas sapaan dan senyuman karyawan yang menyapanya.
Ia sudah tidak seperti dulu, menjadi wanita angkuh dan sombong.
__ADS_1