
Keesokan harinya.
Larissa ditemani oleh Reyhan untuk memeriksakan kandungannya kerumah sakit.
Kandungan Larissa baik-baik saja, semuanya normal seperti yang diharapkan oleh sepasang suami istri itu.
Sebenarnya, jenis kelamin janin mereka sudah bisa dilihat. Namun baik Reyhan maupun Larissa, tidak ingin tahu lebih dulu. Biarlah menjadi surprise nantinya saat lahir.
Tak lupa juga mereka membesuk kedua supirnya, yang harus dirawat intensif untuk beberapa hari kedepan.
Setelah dari rumah sakit, Reyhan dan Larissa segera ketempat kelas hamil.
Disana sudah banyak orang yang hendak mengikuti kelas hamil.
Kedatangan Reyhan dan Larissa tentu saja membuat mereka menjadi pusat perhatian. Mereka adalah sepasang suami istri yang sangat serasi.
"Selamat siang pak Reyhan, bu Larissa. Silahkan bergabung dengan yang lainnya, kita akan segera memulai kelasnya," ucap pembimbing disana.
Larissa dan Reyhan menganggukan kepalanya. Disana mereka ikut bergabung dengan peserta yang lainnya.
Dalam kelas hamil kali ini, ibu hamil serta suaminya diajarkan cara memandikan bayi, mengganti popok, memakaikan baju, bedong dan lain-lain.
Pasangan Larissa dan Reyhan, membuat takjub semua orang disana. Bukan Larissa yang menakjubkan, melainkan Reyhan.
Pria itu ditunjuk pembimbing kelas hamil untuk maju kedepan bersama Larissa.
Disana Reyhan diminta untuk memperaktekan semua yang sudah diajarkan oleh pembimbing itu.
"Silahkan pak Reyhan untuk mempraktekan apa yang sudah saya ajarkan," ucap Pembimbing itu.
"Baik bu," ucap Reyhan.
Reyhan mempraktekan dengan baik, apa saja yang sudah diajarkan pembimbing itu. Ia bisa memandikan, memasangkan baju, popok, bedong dan lain-lainnya.
Bukan hanya peserta yang ada disana takjub dengan Reyhan, melainkan Larissa juga.
Wanita itu benar-benar tak menyangka bila suaminya bisa selihai itu.
"Ya ampun mas, kamu lihai sekali mengerjakannya," ucap Larissa dengan takjub.
"Apa sih yang nggak aku bisa. Bikin anak bisa, ngurusnya juga harus bisa dong," ucap Reyhan percaya diri, sembari mengedipkan sebelah matanya pada Larissa.
Larissa tersipu, lalu menganggukan kepalanya. Ia kemudian merangkul lengan Reyhan, dan berbisik.
"Aku makin-makin cinta kamu mas," bisik Larissa seraya tersenyum dengan kedua pipinya merona.
Mendengar bisikan cinta dari sang istri, Reyhan tersenyum sumringah.
Pria itu memajukan wajahnya hendak mencium bibir Larisssa. Hanya tersisa jarak satu centi lagi, dan akhirnya ia tersadar, kalau mereka sedang ditempat umum.
"Eits, pak bu, silahkan dilanjutkannya nanti setelah sampai rumah ya," ucap pembimbing kelas hamil.
Interaksi sepasang suami istri itu sontak saja membuat para peserta kelas hamil tergelak dan ikut baper dibuatnya.
...****************...
Seminggu berlalu setelah kejadian penculikan terhadap Larissa.
__ADS_1
Marcell beserta anak buahnya sudah mendekam dipenjara.
Ia akan dihukum sesuai dengan apa yang sudah dilakukannya.
Kasus yang ia alami yakni, pemutusan hubungan kerja sepihak, serta Penculikan terhadap Larissa.
Pria itu tinggal menikmati proses hukum yang akan ia lalui. Meski pengacara dari keluarga Marcell membelanya, namun tidak cukup untuk membebaskan pria itu.
"Bagaimana mas, kelanjutan kasus Marcell?," tanya Larissa pada Reyhan yang baru saja mendatangi Marcell dikantor polisi.
"Marcell terbukti bersalah, dia akan mendekam dipenjara sesuai dengan kesalahannya," ucap Reyhan.
"Syukurlah mas, berarti tidak ada lagi orang yang akan merusak kebahagiaan kita," ucap Larissa.
Reyhan tidak langsung menjawab, namun ia memeluk istrinya dengan erat dari belakang.
Saat ini mereka tengah berada dibalkon kamar, sembari melihat pemandangan kompleks perumahan.
"Maaf ya sayang, karena aku lengah kamu jadi dalam bahaya," ucap Reyhan dengan lirih.
Larissa kemudian membalikan tubuhnya menghadap Reyhan, lalu menangkup wajah suaminya.
"Sudah ya mas kita tidak usah bahas itu lagi. Semua yang kita alami adalah ujian untuk hubungan kita," ucap Larissa.
Reyhan mengernyit, tumben sekali istrinya bicara sedewasa ini.
"Wah, wah, wah. Rupanya istriku ini sudah tidak kekanakan lagi ya," ucap Reyhan sembari menoel hidung Larissa.
"Iya dong mas, aku kan sudah mau punya anak," ucap Larissa.
"Apa kamu sudah dapat nama untuk anak kita?," tanya Reyhan.
"Aku belum dapat nama yang cocok, mas," ucap Larissa pada akhirnya.
"Kalau begitu aku saja yang memberi nama," ucap Reyhan.
"Memangnya mas sudah dapat namanya?," tanya Larissa.
"Sudah," jawab Reyhan.
"Siapa namanya mas?," tanya Larissa.
"Mau tahu aja, apa mau tahu banget?," tanya Reyhan.
"Iihh, aku mau tahu masss," jawab Larissa. Wanita itu bahkan mencubit pinggang suaminya.
"Awww, sakit sayang," ucap Reyhan.
"Mangkanya kasih tahu aku mas," pinta Larissa.
"Emmm, siapa ya," ucap Reyhan seolah-olah sedang berfikir sembari masuk kedalam kamar.
"Ayolah mas, kasih tahu aku," pinta Larissa. Wanita itu, mengikuti suaminya masuk kedalam kamar.
"Kesini sayang," ucap Reyhan, sembari menepuk pahanya, setelah ia masuk kedalam kamar dan duduk disofa.
Larissa yang mengikuti suaminya, melihat Reyhan menepuk paha, meminta dirinya duduk dipangkuan pria itu.
__ADS_1
Dengan semangat, Larissa bergegas menghampiri suaminya dan duduk dipangkuan Reyhan.
Reyhan merangkul pinggang istrinya dari belakang, ia juga mengusap perut istrinya itu.
"Aku sudah menyiapkan nama Brian dan Briana bila dia laki-laki dan perempuan," ucap Reyhan.
"Bagaimana kamu tahu kalau anak kita itu laki-laki dan perempuan?," tanya Larissa.
"Aku hanya menebak," ucap Reyhan.
"Lagi-lagi hanya menebak. Apa kamu seorang cenayang?," tanya Larissa.
Pertanyaan itu tentu saja membuat Reyhan tergelak.
Ia menggeleng, tidak habis fikir pada Larissa yang mengira dirinya cenayang.
"Kamu ini ya," ucap Reyhan menoel hidung Larissa.
"Kalau bukan cenayang, lalu kamu tahu dari mana anak kita laki-laki dan perempuan?," tanya Larissa.
"Feeling seorang ayah, sayang," ucap Reyhan.
Larissa memberengutkan wajahnya, ia merasa ini tidak adil. Kenapa suaminya bisa memiliki feeling itu, lalu kenapa dia tidak.
Pukk.
"Iih nggak adil," ucap Larissa. Sembari memukul dada Reyhan.
"Kenapa nggak adil?," tanya Reyhan heran.
"Kamu bisa merasakan anak kita laki-laki dan perempuan, tapi kenapa aku tidak. Aku kan ibunya, aku yang mengandungnya," ucap Larissa.
"Ini hanya feelingku sayang. Bisa benar dan bisa aja salah," ucap Reyhan.
Larissa tidak menanggapi lagi ucapan Reyhan. Ia memilih bangkit dan berjalan menuju ranjang.
Direbahkanlah tubuhnya menghadap kekiri sembari mengelus perutnya sendiri.
"Hufft, apa aku salah bicara ya?," tanya Reyhan pada dirinya sendiri. Ia bahkan menghela nafasnya.
Pria itu mendekati Larissa, ikut berbaring diranjang, dan memeluk lagi dari belakang.
Ia berusaha merayu sang istri agar tidak marah lagi padanya.
"Sayang, maaf ya kalau aku salah bicara," ucap Reyhan.
Larissa tidak menjawab, ia hanya mendengarkan apa saja yang akan Reyhan katakan.
"Sayang," panggil Reyhan.
Pria itu membalikan tubuh Larissa agar menghadap dirinya.
Cup. Reyhan mengecup bibir istrinya.
"Maaf ya. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita jalan-jalan," ucap Reyan.
"Kemana?," tanya Larissa pada akhirnya.
__ADS_1
"Kita berkunjung kerumah mommy dan daddy di Jepang, bagaimana?," tanya Reyhan.