Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 97 Menjemput Larissa


__ADS_3

Marvel telah berhasil melacak keberadaan Marcell yang membawa Larissa pergi.


Saat ini Larissa masih berada di Sydney, karena Marcell masih menunggu 15 anak buahnya yang terakhir.


Mereka akan pergi bersama-sama menuju Paris untuk mengawal Larissa.


Meski Marcell telah menyewa tim IT agar tidak bisa terlacak, namun kemampuan detektif Marvel jauh lebih unggul darinya.


Macell yang menyewa tiga jet dengan rute yang berbeda, agar bisa mengelabui Reyhan, tetap saja keberadaannya bisa ditemukan oleh Marvel.


Hanya membutuhkan waktu 7 jam, akhirnya Marvel berhasil melacaknya.


Sejak tadi Reyhan tidak pergi kemana-mana. Ia belum tenang, bila istrinya belum ditemukan.


Mengetahui detektif yang ia sewa berhasil melacak keberadaan Larissa. Reyhan dan tim detektif Marvel segera menyusun rencana.


"Marcell baru saja tiba di Sydney bersama bu Larissa. Ia memiliki anak buah berjumlah 30 orang. Namun 15 orangnya masih berada di Singapura. Hal itu adalah kesempatan bagi kita untuk menjemput bu Larissa," ucap Marvel.


"Kamu benar Marvel. Secepatnya kita harus menjemput Larissa, jangan sampai terjadi sesuatu padanya. Setelah berhasil mengamankan Larissa, aku ingin Marcell dan anak buahnya dipenjarakan," ucap Reyhan.


"Baik Pak. Kalau begitu kita berangkat sekarang," ucap Marvel.


Reyhan mengangguk. Pria itu berjalan bersama Marvel dan timnya untuk masuk kedalam mobil, lalu segera menuju landasan pesawat. Mereka akan menggunakan pesawat Jet, untuk memudahkan penjemputan Larissa.


Berbeda dengan Marcell yang menyewa jet pribadi. Reyhan justru memiliki sendiri pesawat jet tersebut.


Jet itu sebenarnya hadiah dari Cristian, untuk pernikahan dirinya dengan Larissa. Namun hanya dirinya sajalah yang diberitahukan hadiah itu.


Sedangkan Larissa sama sekali tidak tahu.


Ini pertama kalinya Reyhan akan menggunakan jet pemberian dari mertuanya itu. Hal itu ia lakukan agar memudahkan dirinya menjemput Larissa.


Setibanya dilandasan pesawat. Reyhan dan tim detektif Marvel masuk kedalam pesawat jet.


Marvel hanya membawa 15 anak buahnya, dikarenakan kapasitas jet tersebut tidak banyak.


"Anak buahku hanya sedikit. Jadi kita harus segera menolong bu Larissa sebelum sisa anak buah Marcell tiba disedney," ucap Marvel memperingatkan lagi anak buahnya.


"Baik Pak," jawab serentak anak buah Marvell.


Kurang lebih tujuh setengah jam waktu yang ditempuh Reyhan bersama tim detektif Marvel untuk tiba di Sydney.


Setibanya disana mereka bergegas menuju rumah yang Marcell sewa.


Reyhan dan tim detektif Marvel sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menjemput Larissa, agar wanita itu tetap aman.


Dilihat oleh mereka, rumah yang disewa oleh Marcell sangat ramai dijaga oleh anak buah pria itu.


Meski begitu tapi tidak mengurungkan niat mereka untuk menjemput Larissa.


Dua orang anak buah Marvel masuk lebih dulu dengan memanjat pagar gerbang rumah itu.


Brukk.


Kedua orang itu melompat dari pagar.


"Siapa itu?!," tanya anak buah Marcell.


Bugh.


Tanpa aba-aba anak buah Marvel berhasil memukul lawannya pada titik vital.

__ADS_1


"Akkhh!" teriak orang itu.


Bugh.


Pukalan berikutnya mampu membuat pria itu tidak sadarkan diri.


Satu orang yang berada dipagar rumah sudah tumbang.


Anak buah Marvel tersebut kemudian membukakan pintu gerbang.


Tidak lama kemudian masuklah Reyhan dan tim detektif Marvel yang sejak tadi menunggu diluar gerbang.


"Marvel, kamu urus semua anak buah Marcell. Aku akan masuk mencari Larissa," ucap Reyhan.


Marvel menganggukan kepalanya. Pria itu sangat setuju dengan perintah Reyhan.


Mengetahui diluar rumahnya diserang. Marcell segera menyingkap gorden jendela kamar.


Sejak tiba dirumah itu, Marcell sama sekali tidak meninggalkan Larissa dikamt itu sedikitpun.


"Sialan! Bagaimana bisa Reyhan tahu aku dan Larissa disini," ucap Marcell geram.


Larissa yang mendengar umpatan Marcell, segera melihat kearah pria itu.


Dilihat olehnya wajah Marcell yang terlihat marah.


"Sudah aku katakan. Kita tidak akan pernah bisa menikah!" ucap Larissa sembari tersenyum.


Marcell yang mendengar ucapan Larissa, semakin geramlah dia.


Pria itu segera menghampiri Larissa yang masih duduk bersandar disandaran ranjang.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Reyhan tidak akan aku biarkan memilikimu juga!" Tegas Marcell.


"Apa yang kamu lakukan Marcell?!," tanya Larissa.


Pasalnya Marcell menarik Larissa menuju balkon kamar.


Brakk.


belum tiba dibalkon, bertepatan dengan pintu kamar didobrak oleh Reyhan.


"Cih!, cepat sekali kau sampai disini," ucap Marcell berdecih.


"Lepaskan Larissa dan biarkan dia kembali padaku!," Tegas Reyhan.


Pria itu maju selangkah demi selangkah masuk kedalam kamar. Namun Marcell justru tersenyum miring. Pria itu terus memundurkan langkahnya menuju balkon.


"STOP DISANA REYHAN!. Kalau kamu maju selangkah lagi, maka aku akan loncat bersama Larissa dan janin yang dia kandung," ucap Marcell mengancam.


Reyhan tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman Marcell.


Ia terus melangkahkan kakinya hingga semakin dekat dengan Marcell yang mengkram Larissa.


"Akkhh, sakit Mas" ringis Larissa karena dicengkram kuat oleh Marcell.


"LEPASKAN ISTRIKU, BRENGSSEK!" Teriak Reyhan.


Bugh.


Bukan hanya berteriak, namun Reyhan juga menendang Marcell.

__ADS_1


Tendangan Reyhan itu mampu membuat Marcell mundur beberapa langkah lagi, dan spontan melepaskan cengkramannya pada Larissa.


"Sayang," panggil Reyhan kemudian menarik Larissa kedalam pelukannya.


"Mass, aku takut" lirih Larissa dan saat itu air matanya jatuh.


"Tidak apa-apa sayang. Aku datang untuk menjemputmu," ucap Reyhan meyakinkan Larissa.


Larissa mengangguk, kemudian menyeka air matanya.


Pelukan itu tidak berlangsung lama, karena Marcell segera membalas tendangan Reyhan.


Bugh.


Tendangan Marcell itu mengenai punggung Reyhan yang sedang memeluk Larissa.


"Mass!" panggil Larissa.


Ia seperti merasakan juga tendangan dari Marcell. Namun Reyhan yang terkena tendangan dari Marcell, tidak merasakan apa-apa.


"Menjauhlah sayang. Aku akan memberi pelajaran pada pecundang itu," ucap Reyhan.


Larissa menganguk. Wanita itu kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Reyhan dan Marcell.


Setelah memastikan Larissa menjauh, Reyhan segera membalikan tubuhnya, dan melayangkan tendangannya tepat mengenai ulu hati.


Bugh.


Brakk.


Tubuh Marcell yang terkena tendangan dari Reyhan jatuh dan terbentur besi pembatas balkon.


"Apa masih kurang, tendanganku?," tanya Reyhan menyeringai.


"Cih, kalau begitu mari kita bertarung," ajak Marcell menantang.


"Baiklah," jawab Reyhan santai.


Marcell yang sudah terjatuh perlahan bangkit lagi. Meski ia sudah menduga akan kalah oleh Reyhan, namun Marcell tidak akan menyerah.


Ia akan menggunakan cara lain untuk mengalahkan Reyhan.


Marcell yang sudah berhasil bangkit, kemudian mengeluarkan bellati yang ia simpan dibalik bajunya.


Kini bukan Reyhan lagi yang menyeringai, melainkan Marcell.


"Ayo majulah," ucap Marcell meremehkan Reyhan.


"Meski dengan senjata atau pun tidak, kamu akan tetap kalah oleh ku," balas Reyhan meremehkan Marcell.


"Kalau begitu, kita lihat saja nanti," ucap Marcell masih menyeringai.


Pria itu menodongkan bellatinya pada Reyhan sembari memajukan langkah kakinya.


Sedangkan Reyhan yang waspada dengan bellati itu, segera memundurkan langkahnya.


Reyhan yang sedang memundurkan langkahnya itu, secepat mungkin dimanfaatkan oleh Marcell.


"Akkhh!" teriak Larissa.


Marcell rupanya berlari kearah Larissa dan meletakan bellatinya di leher wanita itu.

__ADS_1


"Sayang!" panggil Reyhan.


__ADS_2