
Sudah lebih dari satu bulan Cristian berada dijepang, perusahaan yang baru ia bangun sudah berkembang pesat dengan nama D'Properties. Belum lagi perusahaan diindonesia yang dikelola oleh menantunya membuat nama Cristian dan Reyhan menjadi populer didunia bisnis.
Hal itu berbanding terbalik dengan perusahaan Royal Darwin yang nyaris bangkrut. Beberapa investor sudah menarik sahamnya karena Jhonatan tidak mau bila perusahaannya dipimpin oleh orang lain meski itu untuk kepentingan perusahaan.
Saat ini ia baru saja mengadakan rapat dengan para investor agar tidak lagi ada yang menarik sahamnya namun rapat itu tidak berpengaruh apa-apa karena hampir separuh saham perusahaan ditarik oleh investor.
"Dad bagaimana ini?" tanya Dion.
"Kamu mikir dong Di!, ini semua karena kamu tidak becus memimpin perusahaan" ucap Jhonatan.
"Daddy menyalahkan aku? Sejak awal aku sudah menolak menjadi CEO karena itu bukan keahlianku dad, aku tidak menyukai bisnis tapi daddy memaksa aku untuk menyukainya dan sekarang hasilnya seperti ini daddy menyalahkan aku?" ucap Dion tersenyum miring.
"Kalau bukan kamu yang memimpin lalu siapa lagi Di? Tidak ada Di, maka dari itu daddy memaksamu untuk menyukainya dan mau belajar mengelola perusahaan kakekmu itu" ucap Jhonatan.
"Tapi hasilnya justru seperti ini kan dad, perusahaan bangkrut dan aku yang disalahkan" ucap Dion.
Ia lama-lama muak dengan orang tuanya karena terus-terusan mengaturnya. Bila ia tidak mau maka ia akan dipaksa dan bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya maka ia akan disalahkan.
Pria itu bergegas pergi meninggalkan Jhonatan yang masih terdiam karena ucapannya tadi.
Dion melajukan mobilnya tanpa tujuan kemana ia hendak pergi karena merasa kesal dan ingin menenangkan diri. Ia terus melajukannya hingga mobil itu cukup jauh pergi dari kantor Royal Darwin dan tidak terasa mobilnya itu mati dengan sendirinya karena kehabisan bahan bakar.
Arrgghh. Bugh. Bugh.
Teriak pria itu sembari memukul setir mobil karena kesal dengan orang tuanya dan juga kesal mobilnya kehabisan bahan bakar.
Hahh.
Dion menghela nafasnya kasar kemudian ia mengedarkan pandangannya kesekitar mobilnya berhenti, ternyata ia sedang berada disebrang rumah sakit. Dion terus mengedarkan pandangannya hingga tidak sengaja pandangannya itu menangkap seseorang yang ia kenali. Seorang wanita dengan mengenakan masker dan juga kacamata baru saja turun dari mobil. Dion bisa mengenalinya kalau itu adalah Larissa.
"Bukannya itu Larissa? Mau apa dia kerumah sakit?" gumam Dion bertanya pada dirinya sendiri.
Rasa kesalnya seketika hilang beralih dengan rasa penasaran. Pria itu bergegas turun dari mobil dan mencari Larissa yang masuk kedalam rumah sakit. Dion sudah masuk kedalam rumah sakit namun ia tidak menemukan keberadaan Larissa disana. Pria itu mengedarkan pandangannya keseluruh lobi rumah sakit hingga ia melihat Larissa yang sedang mendaftar.
__ADS_1
Dion mengamati Larissa dari kursi tunggu yang berada dilobi rumah sakit, hingga akhirnya Larissa diarahkan oleh perawat menuju ruangan dokter kandungan.
Dion mengikuti Larissa hingga ia kini berdiri didepan pintu ruangan dokter kandungan yang baru saja tertutup oleh Larissa yang masuk kedalamnya. Pria itu kemudian bertanya pada perawat yang tadi mengantarkan Larissa.
"Mba" panggil Dion.
"Iya, mas panggil saya?" tanya perawat tersebut setelah membalikan tubuhnya menghadap seseorang yang memanggil dirinya.
"Iya saya manggil kamu. Mau nanya mba, kalau orang yang datang menemui dokter kandungan itu apa artinya orang itu sedang mengandung?" tanya Dion.
"Belum tentu mas, bisa saja hanya ingin berkonsultasi" jawab perawat itu.
"Kalau wanita yang barusan mba anter itu sedang mengandung atau hanya ingin konsultasi?" tanya Dion.
"Maaf mas itu bukan ranah saya untuk menjawab, anda bisa saja tanya langsung dengan pasien itu" ucap perawat tersebut.
"Ck! Percuma nanya" ucap Dion kemudian memilih duduk dikursi tunggu yang ada disitu.
Dion masih setia menunggu Larissa dikursi tunggu diluar ruangan itu. Ia penasaran dengan Larissa yang mendatangi dokter kandungan.
"Jangan-jangan Larissa lagi hamil" gumam Dion.
"Tapi ko Reyhan nggak nganterin ya?" tanya Dion masih bergumam sendiri.
Diruangan dokter kandungan.
Setelah Larissa masuk kedalam ruangan itu, ia diberikan banyak pertanyaan mengenai tanda-tanda kehamilan.
"Mari saya periksa, silahkan berbaring" ucap dokter kandungan itu yang bernama Anne.
Larissa berbaring dibrangker ruangan tersebut dan langsung diperiksa oleh dokter Anne. Ternyata benar ia sedang mengandung dan perkiraan usia kandungannya sudah sekitar 5 minggu.
"Menghitung dari anda haid terakhir maka saya perkirakan usia kandungannya sudah 5 minggu dan untuk memastikannya lagi anda bisa datang dua minggu lagi untuk USG sekalian ajak juga suami anda ya bu" ucap dokter Anne.
__ADS_1
Larissa tak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya dan hal itu dianggap setuju oleh dokter Anne untuk mendatangkan suaminya saat pemeriksaan berikutnya.
"Apa anda baru merasakan tanda-tanda kehamilnya?" tanya dokter Anne.
"Iya dok, saya baru merasakannya seminggu terakhir ini" ucap Larissa.
Larissa juga mengatakan kalau dirinya mengalami mual dan muntah dan dijawab oleh dokter Anne itu adalah hal yang wajar bagi kehamilan trimester awal. Wanita itu diberikan resep oleh dokter Anne untuk mual dan juga vitamin untuk ibu hamil.
Pemeriksaan telah selesai dan Larissa bergegas untuk pulang kerumah. Melihat Larissa yang keluar dari ruangan itu Dion yang sejak tadi menunggu Larissa segera bangkit dan mengikuti wanita itu karena rasa penasarannya belum terjawabkan.
Sebelum pulang Larissa tentunya menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter Anne diapotek rumah sakit dan disitulah rasa penasaran Dion terbayarkan.
"Ini obat mualnya diminum sebelum makan 2 kali sehari, dan ini vitamin untuk ibu hamil diminum 1 kali sehari" ucap Apoteker tersebut.
"Terimakasih" ucap Larissa kemudian pergi.
'Ooh rupanya kamu sedang hamil Larissa' batin Dion yang sejak tadi mengikuti Larissa tanpa sepengetahuan wanita itu.
Larissa pulang kerumah bersamaan dengan Reyhan yang pulang untuk makan siang sekaligus melihat kondisi Larissa. Pria itu turun dari mobil dan bergegas menghampiri Larissa yang masih berada didalam mobilnya sendiri.
Larissa turun dari mobil dan mendapati Reyhan yang sudah berada disekat mobilnya.
"Dari mana Rissa?" tanya Reyhan.
"Berobat" jawab Larissa kemudian berlalu lebih dulu masuk kedalam rumah.
Reyhan mengejar Larissa yang masuk kedalam rumah, ia juga bertanya istrinya itu sakit apa dan dijawab oleh Larissa hanya masuk angin.
"Kalau begitu ayo makan siang dulu biar masuk anginnya cepat sembuh" ucap Reyhan.
"Kamu saja Rey aku sedang tidak selera" ucap Larissa.
"Kalau begitu kamu temani aku saja" pinta Reyhan.
__ADS_1