Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 82 Klien Penting


__ADS_3

Setibanya dikantor Reyhan degera menuju ruangannya. Meski tubuh terasa lelah, namun ini adalah tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan.


Terhitung sudah hampir seminggu ia kurang istirahat karena harus menjaga dan merawat Larissa. Belum lagi urusan Jhonatan dan Marisha yang ia jebloskan kepenjara.


"Apa klien kita belum datang?" tanya Reyhan pada Gunawan.


"Belum pak, mungkin sebentar lagi" jawab Gunawan.


Kini mereka tengah menunggu klien diruang meeting sembari Reyhan memeriksa pekerjaan yang selama hampir seminggu ini ia serahkan pada Gunawan.


Tidak lama kemudian klien penting itu datang yang ternyata adalah Marcell si perusuh.


Iya. Memang sudah sejak lama perusahaan Darwin Properties bekerja sama dengan Sanjaya Group perusahaan penyedia perlengkapan rumah tangga dari Singapura yang tak lain adalah milik Marco Sanjaya ayah dari Marcell.


Meski demikian namun Reyhan tidak pernah tahu bila Marco Sanjaya adalah ayah dari Marcell. Karena memang selama ini Marcell tidak diekspose didunia bisnis.


Marcell yang sudah datang segera masuk kedalam ruangan meeting dan duduk dikursi dengan menghadap Reyhan.


Marcell tidak datang sendirian, ia juga membawa sekretarisnya untuk bertemu dengan CEO Darwin Properties.


"Apa kabar Rey?" tanya Marcell seraya tersenyum miring.


Melihat Marcell yang masuk keruangan meeting, Reyhan segera menghentikan memeriksa berkas dan menutupnya.


"Apa anda perwakilan Sanjaya Group?" tanya Reyhan.


Meski tidak suka dengan kedatangan Marcell namun sebisa mungkin Reyhan bersikap profesional.


"Tentu saja. Seminggu yang lalu saya resmi menjadi CEO Sanjaya Group" ucap Marcell ia juga bersikap profesional.


"Baiklah karena CEO Sanjaya Group sudah datang lebih baik kita mulai saja meetingnya. Saya harap kita sama-sama profesional dalam kerja sama ini" ucap Reyhan.


Marcell lagi-lagi tersenyum miring seolah-olah meremehkan kemampuan Reyhan.


Sedangkan Reyhan, ia tak akan terpengaruh hanya dengan Marcell meremehkannya asalkan jangan menyakiti keluarganya.


Meeting akhirnya dimulai dengan Reyhan yang menjelaskan permintaan perlengkapan rumah tangga. Perlengkapan itu akan diisi keapartement yang baru saja rampung dibangun.


Kebutuhan jumlahnya kemudian dijelaskan oleh Gunawan secara terperinci.


"Bagaimana, apa Sanjaya bisa memenuhi permintaan kami?" tanya Reyhan sesaat setelah Gunawan selesai menjelaskan.


"Tentu saja, kapan kami bisa mengirim permintaan anda?" tanya Marcell.


"Saya minta bulan depan permintaan kami sudah bisa terpenuhi" jawab Reyhan.


Marcell setuju. Meeting yang berlangsung sekitar satu jam itu akhirnya selesai.


Marcell meminta sekretarisnya untuk meninggalkan dirinya diruangan itu sedangkan Gunawan kembali ketempat kerjanya.

__ADS_1


Kini diruang meeting hanya tinggal Marcell dan Reyhan yang masih duduk dengan saling berhadapan.


Tatapan mata kedua orang itu sama tajamnya seolah-olah bisa menusuk satu sama lain. Namun keduanya sama-sama tidak ada yang takut.


"Gue denger Larissa pendarahan ya?" tanya Marcell masih dengan senyum menyebalkannya.


"Iya. Tapi sekarang dia sudah baik-baik saja" jawab Reyhan.


"Itu bukti kalo lo nggak bisa jaga dia" ucap Marcell.


Reyhan mengepalkan kedua tangannya yang berada dibawah meja. Ia menahan diri agar tidak menghajar pria menyebalkan dihadapannya itu.


"Saya tidak minta pendapat anda" jawab Reyhan.


"Cih!" decih Marcell.


Marcell juga merasa sebal dengan kepercayaan diri yang dimiliki Reyhan.


"Bila tidak ada hal penting yang ingin anda sampaikan anda boleh pergi karena saya masih banyak pekerjaan" ucap Reyhan masih bersikap profesional.


Reyhan bangkit dari tempat duduknya untuk kembali keruang kerjanya. Namun baru dua langkah ucapan Marcell berhasil menghentikan langkah kakinya.


"Gue pasti akan rebut Larissa dari lo!" ucap Marcell.


"Gue juga bakal nyingkirin anak lo" ucap Marcell lagi.


Reyhan yang sudah melangkahkan kaki hendak pergi segera membalikan tubuhnya dan melayangkan bogem pada wajah Marcell.


Brakk.


Hilang sudah pertahanan Reyhan untuk tidak menghajar Marcell.


Marcell yang sedang duduk dikursi seketika terjungkal kebelakang karena terkena pukulan Reyhan yang kuat.


Marcell yang terjatuh kemudian bangkit.


Darah segar keluar dari ujung bibirnya yang terluka. Meski wajahnya terluka namun Marcell tetap tersenyum seolah-olah memang ia menginginkan pukulan itu.


Iya. Memang Marcell sengaja memprovokasi Reyhan agar ia terkena pukulan dari pria itu. Hal itu akan ia gunakan untuk senjata pemutusan kerja sama antara perusahaan keduanya.


Tentu saja itu merugikan Darwin Properties.


"Jaga bicara anda bapak Marcell Sanjaya! Saya tidak akan membiarkan satu orangpun menyakiti anak dan istri saya!" tegas Reyhan.


Marcell masih menyunggingkan senyum miringnya.


"Kita lihat aja nanti" jawab Marcell.


Pria itu kemudian berlalu dari hadapan Reyhan tanpa membalas pukulan Reyhan seperti biasanya.

__ADS_1


Marcell sudah menduga bila ia membalas Reyhan maka ia yang akan kalah. Maka dari itu ia tidak membalasnya dan sengaja akan menjadikan senjata pemutusan kerja sama antara Darwin Properties dan juga Sanjaya Group.


Brakk.


Reyhan menggebrak meja didepannya.


Sedangkan Marcell yang sudah keluar dari ruang meeting, merasa rencananya berhasil. Pria itu bahkan berjalan sembari bersiul padahal ujung bibirnya berdarah.


Reyhan kembali keruang kerjanya. Disana ia melanjutkan mengecek berkas yang tadi belum selesai ia periksa.


"Gun, saya harus segera pergi kekantor polisi dan akan langsung pulang kerumah" ucap Reyhan setelah selesai memeriksa berkas dan menandatanganinya.


"Baik pak" jawab Gunawan.


Reyhan kemudian keluar dari ruangannya dan pergi menuju kantor polisi.


Setiba dikantor polisi rupanya Reyhan sudah ditunggu oleh Marvel dan polisi yang menangani kasus tadi malam Reyhan laporkan.


Laporan Reyhan akhirnya bisa diproses oleh pijak berwajib. Bukti-bukti kejahatan ketiga orang yang dilaporkan Reyhan sudah diamankam tinggal proses selanjutnya yang akan dilakukan oleh pihak kepolisian.


Tidak lama Reyhan berada dikantor polisi. Ia kemudian kembali kerumah karena sudah pasti Larissa sedang menunggunya.


Setiba dirumah Reyhan segera menuju kamar.


Ia ingin memastikan Larissa baik-baik saja dan ia juga ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah itu.


Ternyata benar dugaan Reyhan kalau Larissa menunggunya. Saat Reyhan membuka pintu kamar, dilihatnya Larissa sedang duduk bersandar disandaran ranjang sembari membaca buku kehamilan.


"Rey sudah datang?" tanya Larissa.


"Sudah sayang" jawab Reyhan kemudian mengecup kening Larissa.


Reyhan duduk ditepi ranjang, mengelus perut sang istri dan mendekatkan wajahnya pada perut Larissa kemudian mengajak berbicara.


"Hai anak daddy. Maaf ya tadi daddy tinggal kerja" ucap Reyhan.


Larissa tersenyum mendapati Reyhan yang berbicara pada calon anak mereka.


Larissa mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap rambut Reyhan kebelakang, lalu beralih mengusap rahang Reyhan yang tumbuh rambut halus disana.


"Rambutmu gondrong Rey, rahangmu juga sudah banyak rambut halusnya" ucap Larissa.


"Aku sibuk sekali akhir-akhir ini jadi tidak sempat cukur. Apa kamu tidak suka?" tanya Reyhan yang beralih menatap Larissa.


"Bukan seperti itu. Aku justru suka dengan rambutmu yang gondrong Rey. Lalu ini rambut halus dirahangmu membuat kamu semakin terlihat tampan" ucap Larissa.


"Benarkah aku tampan? Lalu tampan siapa aku dengan daddy Cristian?" tanya Reyhan.


"Emmm" Larissa berfikir sejenak.

__ADS_1


"Tentu saja tampan kamu Rey" ucap Larissa.


__ADS_2