Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 38 Perhatian Reyhan


__ADS_3

Reyhan keluar dari kamar sikembar setelah mengantarkan Larissa kekamar dan gadis itu tertidur.


"Mba Larissa sakit mas?" tanya Alena.


"Iya Al kayaknya Larissa masuk angin, tadi aku ajak kepantai dan telat makan sampai tadi dia baru makan siang" jawab Reyhan.


"Kenapa mas Reyhan nggak ngingatin mba Rissa untuk makan?" tanya Alena.


"Aku sudah ngingatin tapi dianya saja yang tidak mau" jawab Reyhan.


"Ya sudah mas biar aku saja yang merawat mba Rissa" ucap Alena.


"Tidak Al biar aku saja yang merawatnya, kamu dan Elena istirahat saja" ucap Reyhan.


"Ya sudah mas kalau begitu kami istirahat" ucap Alena kemudian masuk bersama Elena kekamarnya dan merebahkan tubuhnya.


Reyhan segera pergi keapotek untuk membelikan Larissa obat. Disana ia menyebutkan apa saja gejala yang dialami oleh Larissa yakni muntah-muntah, tubuh panas dan tubuh yang lemah.


Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkan Larissa, Reyhan segera pulang kerumah.


Pria itu mengetuk pintu kamar adiknya dimana Larissa juga ada didalamnya sedang beristirahat.


"Apa Larissa belum bangun?" tanya Reyhan pada Elena, pasalnya yang membukakan pintu tersebut adalah Elena.


"Sudah mas baru saja mba Rissa bangun, tadi sempat muntah-muntah lagi tapi cuma sebentar" ucap Elena.


"Boleh mas masuk?" tanya Reyhan.


"Boleh mas" ucap Elena kemudian membuka lebar pintu kamarnya.


Reyhan masuk kedalam kamar para gadis, ia menghampiri Larissa yang masih berbaring.


"Aku sudah membelikanmu obat, ayo diminum" ucap Reyhan menyerahkan obat yang berada ditangannya untuk Larissa.


Larissa menggeleng ia tidak mau minum obat, namun Reyhan terus membujuknya dan pada akhirnya gadis itu mengangguk tanda setuju dengan permintaan Reyhan untuk minum obat.


Reyhan membantu Larissa duduk untuk meminum obatnya. Gadis itu menengguk obat tablet dan meminum air mineral. Setelah selesai Larissa minum obat Reyhan segera membantu gadis itu untuk kembali berbaring.


"Mana yang sakit?" tanya Reyhan.


"Disini" jawab Larissa sembari menunjuk kepalanya.


Reyhan memijat perlahan kepala Larissa agar gadis itu meras lebih baik. Reyhan juga membaluri minyak kayu putih dikaki gadis itu. Larissa jadi teringat saat masih berpacaran dengan Marcell, saat itu Larissa sedang sakit juga dan berharap kekasihnya datang untuk merawatnya. Namun harapan Larissa pupus selama ia sakit jangankan Marcell merawatnya, pria itu bahkan tidak mengunjunginya sama-sekali.


Marcell mengunjunginya saat ia membutuhkan uang atau sesuatu agar dibelikan oleh Larissa.


Reyhan benar-benar pria yang tulus dengan segudang perhatian yang ia berikan pada gadis itu, namun sering kali perhatiannya itu tidak dihargai oleh Larissa bahkan tak pernah dilihat olehnya.

__ADS_1


"Kamu tidur lah lagi, aku tidak jadi ke toko ibu jadi aku akan merawatmu" ucap Reyhan.


Larissa mengangguk dan ia kembali memejamkan matanya kemudian terlelap lagi.


Setelah Larissa tidur Reyhan segera menghentikan pijatannya, ia kemudian bangkit dan menuju dapur membuatkan Larissa bubur ayam.


Waktu satu jam Reyhan gunakan untuk membuat bubur ayam dan makanan lainnya.


Setelah bubur itu masak Reyhan segera meletakan dimangkuk dan akan memberikan pada Larissa saat gadis itu sudah bangun agar buburnya tidak terlalu panas.


Sepuluh menit berlalu ternyata Larissa sudah bangun dan ia hendak pergi kekamar mandi.


"Ayo aku bantu" tawar Reyhan namun Larissa menolaknya.


"Tidak usah Rey aku masih bisa sendiri" tolak Larissa kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk masuk kekamar mandi dan Reyhan tak mencegah apa yang dilakukan gadis itu.


Setelah Larissa keluar dari kamar mandi Reyhan segera menawari gadis itu makan bubur ayam yang ia buat itu.


"Nanti saja Rey, aku belum ingin makan" tolak Larissa.


"Baiklah tapi kalau kamu lapar dimakan ya" ucap Reyhan yang diangguki oleh Larissa.


Reyhan kemudian meninggalkan Larissa yang sedang duduk dikursi meja makan dan bertepatan dengan datangnya Cristian, Karina serta Mayang sehabis pulang dari toko.


"Kamu sakit Ris?" tanya Karina.


"Ya sudah kamu makan yang banyak agar cepat sehat sebentar lagi kamu harus mempersiapkan pernikahan kalian" ucap Karina.


"Iya mom" ucap Larissa.


Larissa akhirnya memakan bubur buatan Reyhan dan menghabiskan satu mangkok penuh kemudian kembali untuk istirahat.


...****************...


Ditempat yang berbeda.


Sehabis menghubungi Larissa menggunakan nomor Dion dan ternyata wanita itu justru mengacuhkannya membuat Marcell semakin kesal.


Saat ini ia sedang berada dikantor Dion dikarenakan tadi ada meeting antara perusahaan Dion dan perusahaan tempat Marcell bekerja yang mengharuskan dirinya hadir karena kemarin ia tak masuk kerja.


"Apa dia menjawab teleponnya?" tanya Dion sesaat setelah keluar dari toilet.


"Iya dia jawab, tapi langsung dimatikan setelah tahu kalau aku yang nelpon" jawab Marcell.


"Bagaimana kalau kamu susuli aja kesemarang" saran Dion.


"Tidak tidak, aku tidak bisa menyusulnya. Aku akan menunggu dia kembali" tolak Marcell.

__ADS_1


Dion mengangguk.


"Marcell apa kamu ingin memiliki Larissa?" tanya Dion.


"Tentu aja Di" jawab Marcell.


"Kita memiliki misi yang hampir sama Cell, kamu menginginkan bisa memiliki Larissa dan aku menginginkan Larissa tidak jadi menikah dengan Reyhan" ucap Dion.


Marcell mengernyit tanda tak mengerti dengan ucapan Dion.


"Tidak menginginkan Larissa menikah dengan Reyhan? Kamu menyukai Larissa juga?" tanya Marcell.


Bugh.


"Aduh" ucap Marcell mengusap kepalanya yang di pukul Dion.


"Sembarang aja kamu ngomong. Aku dan Larissa itu saudara mana boleh aku menyukainya" jawab Dion.


"Terus kenapa kamu tidak menginginkan Larissa dan Reyhan menikah?" tanya Marcell.


"Ada urusan keluarga yang tak bisa aku bicarakan padamu" jawab Dion.


"Terserahmu lah aku mau pulang lagian sekarang sudah jam pulang, sampai jumpa nanti malam diclub" ucap Marcell sembari melambaikan tangannya.


Marcell melajukan mobilnya menuju apartementnya.


Sejak mengetahui Larissa sedang keluar kota bersama orang tuanya untuk menemui orang tua Reyhan dan membicarakan pernikahan, Marcell sama sekali tidak berkomunikasi dengan Aliya. Marcell tidak pernah mengirim pesan atau menghubungi Aliya lebih dulu, sedangkan Aliya terus menghubunginya lewat telepon atau pesan namun sama sekali tidak ditanggapi oleh Marcell.


Marcell kini merasakan dirinya terganggu oleh hubungannya dengan Aliya. Ia ingin memutuskan gadis itu secepatnya agar Larissa percaya kalau dirinya benar-benar mencintainya.


Tring. Tring.


Lagi-lagi ponsel Marcell berbunyi dan panggilan itu dari Aliya. Marcell malas untuk menjawab panggilan teleponnya ia memilih untuk mengabaikannya.


Tidak lama kemudian mobil Marcell tiba digedung apartementnya, pria itu bergegas turun dari mobil dan menuju apartemennya.


Ting.


Pintu lift terbuka dan Marcell keluar dari dalamnya. Langkah kakinya terhenti saat ia melihat seseorang yang sedang ia hindari.


"Marcell kenapa kamu tidak menjawab teleponku atau membalas pesanku?" tanya Aliya.


"Aku tidak ingin" jawab Marcell kemudian berlalu melewati Aliya dan bergegas masuk.


Aliya mengikuti Marcell masuk kedalam apartement pria itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2