
Reyhan merasa lega mendengar perkataan Cristian, bila Dion akan dikembalikan keposisi sebelumnya yakni CEO Royal Darwin.
Bukan tanpa sebab Reyhab merasa lega. Pasalnya, selama ia menghandle 2 perusahaan besar bersamaan, ia jadi kurang memiliki waktu untuk sang istri. Pria itu ingin selalu ada disetiap Larissa membutuhkan dirinya.
Kehamilan Larissa akan semakin besar, maka Reyhan harus siaga kapan pun dirinya dibutuhkan.
Ketiga pria yanga berada diruangan itu kini berbincang kecil membahas keluarga mereka.
Cristian juga membahas, Jhonatan dan Marisha yang akan mendekam dipenjara hingga masa tahanannya selesai.
"Maafkan mommy dan daddy om, Rey. Aku tahu mereka melakukan semua itu karena ingin menguasai seluruh harta keluarga kita. Mereka juga ingin menguasai harta om, dan menganggap tante Karina serta Larissa sebagai penghalang tujuan mereka," ucap Dion menyesal.
"Om dan keluarga sudah memaafkan mommy dan daddy kamu Di. Hanya saja untuk hukuman akan tetap berjalan sebagaimana yang seharusnya mereka dapatkan," ucap Cristian.
Iya.. Cristian dan keluarga memang sudah memaafkan kedua orang tua Dion. Hal itu juga menjadi pembelajaaran bagi dirinya serta yang lain, agar tidak serakah pada sesuatu hal.
Keserakahaan akan menguasai diri kita dan menghalalkan segala cara agar mencapai tujuan tersebut.
"Iya om tidak apa-apa," ucap Dion.
Ia mengerti dengan keputusan Cristian. Pria itu tidak akan meminta orang tuanya dibebaskan. Ia akan menerima apa yang sudah menjadi keputusan Cristian.
Dion juga sudah meminta maaf pada Reyhan. Ia sebenarnya tidak pernah memiliki masalah dengan suami sepupunya itu.
Hanya saja, karena membantu Marcell ia jadi seperti itu, ikut-ikutan membenci serta dan memusuhi Reyhan yang menjadi musuh sahabatnya.
Lama mereka berbincang diruangan itu, hingga tiba jam makan siang.
Cristian mengajak menantu dan keponakannya makan siang direstoran bintang lima. Ia akan mentraktir kedua pria itu sebagai perayaan atas membaiknya hubungan mereka.
Pria paruh baya itu sengaja memesan banyak makanan untuk mereka makan. Tak lupa juga Cristian memesan seafood asam manis untuk menantu tersayang.
"Ayo kita makan yang banyak," ajak Cristian kemudian menyendokan salah satu makanan keatas piring Reyhan dan Dion.
"Eh, tidak usah repot-repot diambilkan om. Aku bisa ambil sendiri," ucap Dion dengan sungkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Di, daddy memang seperti itu," ucap Reyhan.
"Tuh, dengar apa yang dikatakan oleh menantu om. Jadi jangan sungkan," ucap Cristian.
Dion tersenyum, seraya menganggukan kepalanya. Ia merasa menjadi pria yang paling beruntung saat ini.
Andaikan waktu bisa diputar kembali, Dion tidak ingin bermasalah dengan Reyhan. Iya merasakan ketulusan dari pria itu, dan ia akui Reyhan memang pantas menjadi menantu omnya itu.
Mereka akhirnya memulai makan siangnya, sembari berbincang dan sesekali tertawa bersama karena membahas hal lucu.
"Dion itu kekanakan sekali dad, masa mobil daddy dicoret-coretnya," ucap Reyhan menertawakan Dion.
"Ooh, jadi Dion yang nyoret-nyoret mobil kesayangan om?," tanya Cristian.
"Iya om. Aku dan kedua temanku yang merusak mobil om. Saat itu kami kesal dengan Reyhan. Reyhan bisa mengalahkan kami bertiga, padahal dia hanya sendirian saat itu," jawab Dion
"Wahh, benarkah Rey. Apa kamu sejago itu?," tanya Cristian pura-pura tidak tahu.
Sebelum ia menjodohkan Reyhan dan Larissa. Cristian sudah mencari tahu semuanya tentang Reyhan. Termasuk tentang pria itu yang menguasai ilmu bela diri.
"Tidak juga dad. Hanya saja Dion yang terlalu lemah," ucap Reyhan meremehkan.
Dion seketika mendelikan matanya. Bisa-bisanya Reyhan meremehkan dirinya, namun ia sadar bahwa apa yang dikatakan pria itu adalah benar.
"Heh, kamu ini Rey. Bukan aku yang lemah, tapi kamu yang terlalu jago," ucap Dion tidak terima.
"Menjadi pria memang harus seperti ini," ucap Reyhan dengan percaya diri.
Dion mengerucutkan bibirnya. Tingkah pria itu benar-benar kekanakan bahkan mirip dengan wanita.
Mengetahui Dion cemberut, mengingatkan Reyhan pada Larissa bila sedang kesal dan membuatnya semakin suka menggoda wanita itu.
Saat ini yang bertingkah seperti itu adalah seorang pria, yang tak lain adalah sepupu dari istrinya.
"Coba lihat wajahmu Di, mirip seperti wanita yang sedang kesal, hahaha," ucap Reyhan menertawakan Dion.
__ADS_1
Ia merasa geli sendiri melihat tinggkah pria yang seperti wanita.
Bukan hanya Reyhan yang tertawa melainkan Cristian juga. Ia baru menyadari kalau Dion bisa bertingkah seperti putrinya.
"Hahaha, Reyhan benar Di. Kamu seperti Larissa saja, bila marah wajahnya mirip dengan mu saat ini" ucap Cristian.
Mengetahui dirinya ditertawakan karena tingkahnya yang seperti wanita. Dion jadi ikut tertawa. Ia juga tak habis pikir, bisa-bisanya ia bertingkah seperti wanita.
Kini ketiga pria yang sedang makan siang itu tertawa bersama. Tawa lepas, tanpa ada paksaan dari siapapun.
Tak jauh dari tempat ketiga orang itu rupanya ada seseorang yang sejak tadi menguping dan memperhatikan ketiganya.
Marcell datang lebih dulu, ia juga ingin makan siang direstoran itu. Ia hanya makan siang seorang diri. Saat makanan pesaannya tiba, ia tak sengaja melihat kedatangan ketiga pria itu.
Ia kemudian pindah tempat duduk, mendekati tiga pria itu tanpa sepengetahuan mereka.
Marcell bisa mendengar apa saja yang dibicarakan ketiga orang itu. Ketiganya sangat akrab, bahkan mereka tertawa bersama.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, merasa telah dihianati oleh Dion.
"Gue ngubungin lo Di, tapi lo nggak pernah ngangkat. Ternyata lo ngehianatin gue," gumam Marcell pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.
Mendengar orang tua Dion masuk penjara, Marcell langsung menghubungi Dion untuk menanyakan kabar sahabatnya itu. Namun Dion tidak pernah mengangkatnya sama sekali.
Bukan tanpa alasan Dion tidak mengangkat panggilan telepon Marcell. Pasalnya, setiap Marcell menelpon dirinya, selalu saja yang dibahas itu adalah bantuan dari dirinya untuk membawa Larissa pergi dari Reyhan.
Dion sudah tidak ingin terlibat masalah lagi. Ia ingin berubah, ia juga ingin menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh keluarganya seperti Reyhan.
Sedangkan Marcell, pria itu mengkhawatirkan Dion, tapi orang yang dikhawatirkannya justru tengah bersama rivalnya dan sangat akrab. Saat itu juga ia anggap Dion telah berhianat.
Marcell tidak jadi makan siang. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan pembicaraan ketiga orang di belakangnya. Pria itu tidak selera lagi untuk makan. Ia memilih bangkit dan pergi dari restorant itu.
Marcell benar-benar kecewa pada sahabatnya itu. Ia sudah menganggap Dion sebagai saudaranya. Ia benar-benar kehilangan sahabat tebaiknya.
Setibanya diluar restorant, Marcell segera melajukan mobilnya dengan kencang.
__ADS_1
Mulai saat ini ia tak akan meminta bantuan Dion lagi. akan menjalankan rencananya seorang diri saja.