Menikahi Putri Kaya

Menikahi Putri Kaya
BAB. 76 Pendarahan


__ADS_3

Satu bulan belalu sejak pertengkaran itu.


Hubungan Larissa dan Reyhan selalu diamati oleh Jhonatan dan Marisha. Kedua orang itu bahkan tahu kalau hubungan Larissa dan Reyhan sedang renggang.


Informasi itu mereka dapatkan dari membayar salah satu pelayan dirumah Larissa untuk memberikan apa saja informasi tentang Reyhan dan Larissa padanya.


Mereka tahu kalau Reyhan sudah satu bulan tinggal dikantor dan tidak pulang kerumah.


Hal itulah yang menjadi celah untuk kedua orang itu menyakiti Larissa.


Marisha meminta pelayan mata-matanya untuk memasukan obat peluruh kandungan kedalam minuman Larissa setiap harinya dengan dosis rendah agar suatu saat pendaran terjadi akan terlihat alami.


Larissa meminum itu sudah sekitar tiga hari dan pagi ini ia terbangun karena perutnya yang sakit dan terasa keram. wanita itu turun dari ranjang perlahan sembari memegangi perutnya.


"Rey aku butuh kamu" gumam Larissa.


Hiks hiks hiks


Ia bahkan menangis, merasakan kehampaan tanpa Reyhan disisinya. Itulah yang sebenarnya wanita itu rasakan. Namun ia enggan untuk mengutarakan karena rasa benci dalam dirinya yang mengendalikan.


Perutnya yang sakit semakin membuat air mata Larissa mengalir deras. Meski perutnya sakit namun Larissa memutuskan untuk berangkat kekantor.


"Saya antar ya non" tawar Herman.


"Tidak usah pak saya bisa berangkat sendiri" ucap Larissa kemudian berlalu meninggalkan Herman.


Larissa berangkat kekantor dengan perlahan dan tiba disana jam kerja sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu padahal Larissa berangkat pukul tujuh pagi.


Dengan tertatih, satu tangan memegangi perutnya dan satu lagi memegang pada dinding. Larissa berusaha berjalan menuju ruangannya.


Tadi saat didepan kantor Larissa sudah hendak dibantu oleh satpam dan resepsionis yang melihatnya namun ia menolak.


Ting.


Pintu lift terbuka, keluarlah Reyhan dan Gunawan dari Lift tersebut hendak meeting bersama klien.


Larissa yang sedang berjalan pelan sembari meraba dinding melihat dua orang tersebut dan berusaha memanggi suaminya.


"Rey" lirih Larissa memanggil Reyhan, namun diacuhkan oleh pria tersebut.


Sejak tinggal dikantor Reyhan memang mengacuhkan Larissa namun ia tidak benar-benar mengacuhkan.


Setiap pulang kerja Reyhan selalu mengikuti Larissa yang pulang kerumah, memastikan wanita itu baik-baik saja. Ia juga kerap kali mengurangi pekerjaan Larissa sebagai manager operasional agar wanita itu tidak kelelahan.


Saat ini juga ia tidak benar-benar mengacuhkannya. Dalam benaknya ia merasa khawatir melihat wajah istrinya terlihat pucat.

__ADS_1


"Pak. Bu Laris_" ucapan Gunawan dipotong oleh Reyhan.


"Biarkan saja" jawab Reyhan datar.


BRUUKK.


Larissa ambruk karena sudah tak kuat lagi menahan sakit diperutnya dan berpegangan pada dinding.


Ambruknya Larissa tentu saja mengejutkan Reyhan dan Gunawan sehingga keduanya berlari kearah Larissa.


"Larissa!" panggil Reyhan kemudian hendak membopong istrinya itu.


Tangan kanan yang memegang paha Larissa terasa basah dan dilihat oleh Reyhan tangannya basah karena darah.


"Pak, Bu Larissa pendarahan" ucap Gunawan panik karena melihat darah dirok Larissa dan ada juga dilantai.


Tanpa pikir panjang Reyhan langsung mengangkat tubuh Larissa dan membopongnya. Meminta Gunawan untuk menyupiri mereka menuju rumah sakit.


Larissa yang sayup-sayup mendengar Gunawan mengatakan dirinya pendarahan rasanya ingin menangis namun ia sudah tak memiliki kekuatan untuk itu dan akhirnya Larissa tak sadarkan diri.


Tiba dirumah sakit Larissa langsung ditangani oleh dokter Anne.


Cukup lama Larissa didalam ruangan tersebut sehingga membuat Reyhan semakin frustasi.


"Apa yang terjadi denganmu Larissa?" gumam Reyhan sendiri sembari mengusap wajahnya kasar.


Pria itu bahkan menangis. Ia tidak bisa membayangkan bila harus kehilangan kedua orang yang ia sayangi.


Tidak lama kemudian dokter Anne telah selesai menangani Larissa dan segera keluar untuk mengabarkan pada Reyhan.


"Bagaimana dok keadaan istri dan calon anak saya?" tanya Reyhan.


"Kondisi keduanya lemah sekali pak tapi beruntung karena bapak sigap segera membawa kerumah sakit jadi bu Larissa dan janinnya selamat. Hanya saja butuh bed rest dan perawat hingga keduanya benar-benar kuat" jawab dokter Anne.


"Apa penyebab istri saya pendarahan ya dok?" tanya Reyhan.


"Bisanya karena kandungan lemah, stres, jatuh ataupun terpeleset. Jadi bapak harus lebih siaga lagi berada didekat istri anda dan selalu memastikan bu Larissa baik-baik saja" ucap dokter Anne.


"Baik dok terimakasih" ucap Reyhan.


Dokter Anne mengangguk kemudian meminta perawat utuk membawa Larissa kekamar rawatnya.


Reyhan mengikuti kemana arah branker Larissa didorong hingga memasuki kamar rawat wanita itu dan ditinggalah mereka berdua disana.


Reyhan meraih tangan Larissa dan dikecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Larissa maafkan aku" ucap Reyhan.


Larissa tidak merespon apa-apa. Wanita itu masih tertidur dibrangker rumah sakit dengan tubuh yang lemah.


Dibawah alam sadarnya Larissa bisa mendengar ucapan Reyhan namun ia tak bisa menjawabnya.


Wanita itu bermimpi masa lalu yang diputar kembali dalam ingatannya. Semua yang ada dalam mimpi itu lengkap tanpa ada satupun yang terlewatkan membuat ingatan Larissa kembali.


Larissa yang terlahir dari keluarga kaya. Perkembangannya sedari kecil hingga tumbuh remaja, kemudian dewasa berkuliah diluar negeri, kembali keindonesia, dijodohkan dengan Reyhan, mengenal pria itu dan keluarganya lalu ia mencintai Reyhan.


Deg.


Larissa tersentak dengan mimpi itu dan saat itu juga ia membuka matanya.


Dilihat Larissa, Reyhan yang sedang terjaga disebelahnya sembari mengusap punggung tangannya.


Larissa melihat sekeliling ruangan tersebut dan ia menyadari kalau dirinya berada dirumah sakit.


Ia kemudian teringat dengan janin yang ada dikandungannya apa masih ada ataukah tiada pasalnya sebelum pingsan ia mendengar Gunawan berkata kalau dirinya pendarahan.


Hiks hiks hiks


Tangis Larissa pecah yang membuat Reyhan terkejut.


Tentu saja Reyhan terkejut pasalnya Larissa sudah sadar tapi ia tidak tahu.


"Hei kenapa nangis?" tanya Reyhan pelan.


Pria itu mendekatkan wajahnya pada Larissa yang masih berbaring.


"Anak kita Rey. Hiks hiks anak kita Rey" ucap Larissa.


Wanita itu segera memeluk Reyhan, ia tak sanggup untuk berbicara lagi.


"Ssttt. Jangan nangis, kamu tenang ya. Anak kita tidak apa-apa, dia baik-baik saja" ucap Reyhan sembari menghapus air mata diwajah Larissa.


"Hiks hiks, benarkah Rey?" Tanya Larissa.


Reyhan mengangguk untuk meyakinkan wanita itu.


"Rey, maafkan aku sudah menyakitimu. Aku butuh kamu Rey, aku mencintai kamu. Hiks hiks" ucap Larissa sembari terus menangis.


"Sstt, sudah ya jangan menangis lagi. Aku sudah memaafkanmu, aku juga minta maaf karena sudah mengabaikanmu" ucap Reyhan.


"Tidak Rey, kamu tidak salah. Aku yang salah, kamu mengabaikan aku karena ucapanku. Aku menyesal Rey, hiks hiks. Aku mencintai kamu Hiks hiks" ucap Larissa.

__ADS_1


"Terimakasih kamu sudah bisa mencintai aku. Aku juga mencintai kamu Larissa. Mari kita mulai hidup baru dengan anak kita, dan akhiri perjanjian kontrak itu" ucap Reyhan.


Larissa mengangguk masih dengan sesegukan memeluk Reyhan lagi.


__ADS_2