MENTAL

MENTAL
VERSI PAK GURU-2


__ADS_3

Moment saat hujan hari itu menjadi awal keberanian Sultan mengakui lerasaan tertariknya pada Almira, meskipun ingin lebih dekat, Sultan sangat menjaga intensitas bertemu. Guru muda itu memilih menjadi pengagum rahasia, hanya bisa mengamati Almira dari kejauhan, saat Almira berjalan sendiri ke perpus, saat dia olahraga, ataupun saat dijemput. Yang membuat Sultan semakin penasaran tidak ada teman yang menemaninya, saat di ekskul pun ia hanya bicara sebatas dengan tim selebihnya diam saja. Sultan pun mulai mencari tahu siapa sosok Almira plus nomor ponselnya dengan sedikit memaksa guru BK yang seumuran dengannya, Bu Niken.


Awalnya Niken tak mau, karena ia sudah mencurigai modus yang akan dilayangkan Sultan pada Almira, bahkan Niken mengingatkan profesionalisme seorang guru, jangan sampai dianggap cabul. Sultan pun mengiyakan dan setuju, toh sejauh ini ia hanya memandam dalam diam, mengaku pada Niken hanya sekedar kagum saja melihat kecantikan dan kepiawaiannya smash.


Setelah mendapat nomor ponsel, layaknya seorang bujang lapuk, Sultan mengirim pesan pada Almira, PDKT via dunia maya dulu sebelum ekskusi di dunia nyata. Lagi-lagi Sultan dibuat penasaran dengan tingkah Almira, gadis itu membalas pesan tak tahu waktu. Pesan dikirim kapan dibalas kapan, sangat tidak sinkron, dan Almira hanya membalas singkat saja. Ia seperti membatasi pergaulan.


Merasa kesulitan menembus tembok pertahanan Almira, Sultan pun mengurangi intensitas mengirim pesan maupun modus datang ke lapangan voli bila Almira ekskul. Harga diri sebagai laki-laki merasa diremehkan karena secara tidak langsung menolak perasaannya.


Mungkin hanya sebatas kagum dan penasaran, Sultan pun mudah move on dari Almira. Ia memutuskan menganggap Almira sebagai murid, pure murid. Namun keputusan yang masih labil itu berbuah manis kala Almira tiba-tiba mengirim pesan pada Sultan. Sunggu di luar ekspektasi Sultan.


Assalamualaikum wr wb, maaf Pak mengganggu. Maaf juga kemarin tidak sempat membalas pesan yang Bapak kirim. Pak....Almira mau tanya pandangan Pak Sultan sebagai guru bila melihat siswanya terpuruk.


Senyum bahagia Sultan sirna seketika membaca kalimat terakhir Almira. Terpuruk? Dia lagi ada masalah? begitu pikir Sultan. Oke sebagai laki-laki yang pintar membaca situasi dan diberi kesempatan untuk dekat Almira atau inikah nikmat cinta yang akan dirasakan sebagai buah usahanya selama ini? entahlah, masih ada gengsi untuk membalas Almira secepat mungkin. Sultan pun mengikuti mode Almira beberapa menit lalu, mengabaikan pesan siswanya hingga beberapa hari kemudian.


Sultan semakin tak tega ketika tengah malam, Almira mendadak menelponnya. Mau tak mau ia mengangaktnya, khawatir juga karena di luar kebiasaanya.


Hallo?" sapa Pak.Sultan dengan cemas.


Tak ada jawaban, tak ada salam, Sultan hanya mendengar Almira menangis. Seketika tubuhnya terpaku begitu saja, merasa iba dengan anak didiknya, penasaran juga masalah apa yang membuat Almira tengah malam menangis seperti ini. Tangisan pilu itu berlangsung hampir satu jam, dan menyisakan isakan kecil.


Saat Almira sudah bisa mengontrol emosinya, dia minta maaf sudah mengganggu waktu Pak Sultan.

__ADS_1


"*Sekali lagi saya minta maaf, Pak! ucap Almira sambil terisak.


"Kamu kenapa tiba-tiba menangis begini, ada masalah?" tanya Pak Sultan to the point. Bukan jawaban yang didengar malah tangisan lagi, beliau menjambak rambutnya frustasi. Almira ini kenapa?


"Kalau kamu ada masalah, cerita saja ke saya insyaAllah saya siap mendengarkannya!" lanjut Sultan tanpa ada niatan modua atau apapun, murni membantu mengatasi permasalahan sabg murid. "Sekarang mau cerita ke Bapak?"


"Tidak, Pak. Saya tidak mau merepotkan Bapak!" tolak Almira belum sadar saja kalau tindakannya yang mendadak seperti ini sudah merepotkan gurunya.


"Ya sudah sekarang kamu tidur, sudah lega kan habis nangis?"


"Alhamdulillah sudah. Kalau begitu saya tutup dulu, Pak. Terimaksih dan maaf. Assalamu---"


"Hubungi saya kalau kamu ada masalah," pinta Sultan sebelum mengucap salam dan memutuskan sambungan telpon itu*.


"Maaf karena sudah lancang menjalin kedekatan dengan kakakmu, Almira. Tidak ada maksud tertentu, kami di sekolah murni guru dan murid, tapi kami tertutama saya tidak menyangkal kalau saya sudah tertarik dengan Almira layaknya pria menyukai wanita." Sultan pun memposisikan dirinya sebagai laki-laki yang serius untuk Almira.


"Jadi, Pak Sultan dan Mbak Almira pacaran?"


Pak Sultan menggeleng sembari menyeruput cappucino pesanannya. "Lalu?" tanya Radit penasaran.


"Sebagai laki-laki lebih dewasa dari Almira tentu saya tidak punya pikiran mau pacaran, saya pun ingin menikah dengan Almira dan saya siap menunggu dia hingga lulus kuliah, tapi--"

__ADS_1


Sultan berhenti sejenak, mengambil nafas berat, tak sanggup sebenarnya untuk berkata jujur, beliau tersenyum sekilas, lalu berkata, "Saya ditolak kakak kamu."


Radit mengerutkan dahi, tak percaya sang kakak berani menolak perasaan gurunya. "Kok bisa?"


Beliau menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Radit dengan seksama, "Mama kalian alasan utamanya."


"Mama tahu hubungan Anda dengan Mbak Almira?"


"Almira sering sekali bilang kalau dia sedang les pelajaran, les renang, les piano ke salon sebagai alasan menolak kencan dengan saya, tapi bukan alasan juga karena Almira memang melakukannya. Saya sempat protes, meski hubungan kita tanpa status, saya juga ingin diperhatikan Almira, kencan atau sekedar saya main ke rumah lah, tapi Almira bilang dia gak mau membuat mamanya marah. Dia sudah capek menghadapi mama yang terus menuntut sempurna, Almira juga ingin berkencan sama dengan saya layaknya sepasang kekasih, ingin jalan-jalan ke mall tapi mama melarang, beliau selalu memposisikan saat dirinya muda yang begitu semangat, kerja keras dan pantang menyerah untuk mencapai cita-cita, beliau bilang pun jadilah perempuan yang punya atittude dan otak agar hidupmu bahagia, bahkan lelaki mana pun bisa takluk karena pesonamu." Pak Sultan menjelaskan panjang dan tanpa cela, seperti mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.


"Mama," gumam Radit geram, sekali lagi mama yang otoriter disebut dalam kisah hidup Almira.


"Dan kamu tahu kalimat apa yang dipakai Almira menolak saya?" Pak Sultan tersenyum sumbang.


"Apa?"


"Almira minta maaf, karena tak mau menyakiti saya nantinya. Dia tahu karakter sang mama, soal jodoh pun akan diatur oleh mama, dan Almira tidak punya keberanian untuk menolak titah sang mama. Menurutnya, daripada sudah saling cinta, ternyata mama tidak merestui malah menyakiti satu sama lain, saya pun ditolak."


Radit terdiam, sekali lagi cerita Almira menyebut mama. "Dit," panggil Pak Sultan kemudian.


"Kalau Almira memang menghindari saya, tolong jaga dia, buatlah dia bercerita kepadamu, karena saya merasa saat kelas XII batas kesabaran Almira pada mama kalian sudah habis. Apalagi masalah dengan Bu Endah (guru BK lain)."

__ADS_1


"Masalah apa?" tanya Radit heran.


__ADS_2