
"Rencana kamu bagaimana?" tanya Pak Muhtar pada Radit ketika sudah di ruang kerja. Keduanya begitu leluasa bicara tanpa ngotot dan berdebat. Pak Muhtar mungkin menyadari, kehadirannya dalam mendidik anak-anak tidak begitu penting karena selama ini meyakini beliau bertugas pencari nafkah saja. Oleh sebab itu, untuk kasus ini beliau sangat terbuka akan ide Radit.
"Bicara dengan Mbak Almira akan keinginannya apa, itu jalan satu-satunya mengatasi depresi. Mbak Al sangat takut bila melanggar perintah mama."
"Papa juga heran kenapa mama bisa berubah sekeras ini," Pak Muhtar memijat pelipisnya yang mendadak pening, teringat sikap sang istri.
"Mungkin niat mama baik, hanya salah langkah yang berakibat fatal. Tanpa mama dikte seperti itu, Mbak Al tuh udah idaman sekali loh, Pa. Bahkan ada guru muda di sekolah kami naksir berat sama Mbak Al." Radit berusaha mencairkan suasana hati papanya dengan menggosip sebentar. Namun niatnya dikatakan fatal juga, ada nada tak suka mendengar kata naksir pada anak gadisnya. Insting seorang bapak langsung main, kalau ditaksir laki-laki baik gak masalah, tapi kalau kebalikannya bisa innalillah. Apalagi guru muda, pikiran negatif Pak Muhtar mendadak ke kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab pada muridnya.
"Siapa orangnya? Udah melakukan apa aja sama Almira?" tanya Pak Muhtar beruntun dan terdengar nada tak suka.
"Dia orang baik kok, Pa."
"Baik apanya, guru kok naksir murid."
"Ya wajar naksir, Pa. Saat beliau masuk ke sekolah kami baru fress graduate, paling usia 21 atau 22, lah Mbak Al saat itu masih 17 tahun, terpaut 4-5 tahun kan ideal buat jadi pasangan, lagian gak ada salahnya juga naksir murid." Radit sepertinya tim sukses hubungan Sultan dan Almira, bahkan ia tak sadar kalau sang papa sudah muak dengan pembahasan lawan jenis untuk Almira.
"Siapa bilang, kamu masih kecil gak usah sok-sok an dukung guru itu buat deketin Mbak Al. Kelihatan gak bener deh tuh guru."
Radit berdecak sebal, ternyata papa dan mamanya setipe, tak mau dibantah dan mendengar orang lain. "Kalau saja beliau gak bener, Mbak Al pasti sudah diajak kawin lari."
"Ngomong apa kamu," sentak Pak Muhtar tak terima.
"Papa tahu orang yang menjadi tempat curhat Mbak Al selama ini siapa? Pak Guru itu. Papa tahu siapa yang menemani Mbak Al menangis tengah malam, pak guru itu. Dan Papa tahu, beliau berkata apa pada Radit, kalau seandainya papa dan mama kamu tidak bisa membahagiakan Almira, biar dia saya nikahi karena saya sanggup membahagiakannya."
Pak Muhtar terdiam seketika. Sebagai laki-laki yang pernah melamar anak gadis orang tentu tahu level keseriusan pemuda itu. "Papa tahu, Radit pernah menggoda Mbak Al dengan menyebut nama guru itu, rona bahagia dan malu-malu Mbak Al jelas terlihat. Dia bisa tertawa puas hanya karena mendengar nama beliau disebut. Pa...Mbak Al sudah beranjak dewasa, hidupnya tidak harus melulu tentang belajar. Ia sudah bisa merasakan ketertarikan pada lawab jenis, biarkan saja mereka memiliki perasaan itu. Lagian papa juga harus tahu, beliau dan Mbak Al hanya berhubungan via chat dan telpon. Di sekolah tidak pernah berduaan apalagi kencan bersama, dan papa pasti tahu alasan Mbak Al membatasi kedekatannya dengan beliau karena apa, meski jiwa muda untuk kencan begitu menggelora."
__ADS_1
Radit berhasil membungkam sang papa. Usia Mbak Al sudah 19 tahun, wajar merasakan cinta pada Pak Sultan. Papa Radit harusnya bersyukur karena Mbak Al normal, bisa tertarik pada lawan jenis. "Ya tapi gak guru juga kali, Dit."
"Kenapa sih, papa tuh sama loh kayak mama, suka menjudge profesi orang. Untung Mbak Al menyadari."
"Maksudnya?"
"Mbak Al gak mau menerima perasaan beliau karena takut tak mendapat restu, sudah terlanjur cinta tapi papa dan mama menolak, mungkin karena beliau guru tidak sekaya papa."
"Bukan masalah harta, Dit. Ya gak wajar aja guru menyukai muridnya."
"Gak wajar bagaimana sih Pa, emang papa bisa memerintah hati buat suka atau tidak sama seseorang. Enggak kan?"
Lagi-lagi sang papa dibuat terdiam, permainan kata Radit memang benar dan tidak ada yang salah. Semakin kagum saja Pak Muhtar pada sang putra yang sepertinya tidak bisa disetir orang. Punya pendirian lebih tepatnya. Mungkin inilah ciri anak zaman sekarang, open minded terhadap sesuatu dan berani mengungkapkan pendapat.
"Kamu yakin dia orang baik?"
Radit mengangguk, "Setahu Radit baik dan jadi incaran banyak guru perempuan."
"Playboy dong."
"Hadeh, Papa. Incaran bukan mengincar."
Pak Muhtar terkekeh, "Kapan kami bisa bertemu?"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Papa mau bertemu dengan Pak guru yang naksir dengan anak gadis papa."
"Papa gak menyuruh Pak guru itu buat mundur, kan?" tanya Radit menatap sang papa curiga.
Pak Muhtar sontak menepuk lengan Radit, "Suudzon kamu sama Papa."
"Wajarlah, dari tadi papa kesannya udah gak rela kalau Mbak Al naksir dan ditaksir cowok," cicit Radit mencibir.
"Kalau kamu sampai membela kayak gini, berarti kamu juga rela kan Mbak Al sama pak guru itu?"
Radit mengangguk, " Melihat ekspresi bahagia Mbak Al dan rentetan kalimat curhat yang dikirim Mbak Al pada Pak Sul---" hampir saja Radit keceplosan menyebut nama Pak Sultan, karena memang sengaja Radit menyembunyikannya. Takut kalau sudah tahu nama, mama atau papa akan bertindak menjauhkan keduanya. Bukan suudzon, tapi waspada saja, mengingat betapa tingginya harapan mama (terutama) akan masa depan Almira.
"Halah...pakai keceplosan segala. Buruan kasih tahu papa siapa namanya," desak Pak Muhtar tak sabar.
Radit yang jahil hanya menggeleng dan menggoyangkan jari telunjukknya pada sang papa, "Rahasia!"
Keduanya tertawa, tak menyangka karena masalag Almira keduanya bisa sedekat ini layaknya teman. Ah...Pak Muhtar semakin bersalah pada ketiga anaknya yang hanya digelontorkan materi, tapi tidak untuk perhatian darinya. Mulai saat ini, ia berjanji untuk mengedepankan perhatian pada ketiga anaknya.
Baru saja suasana ceria hadir di tengah pasangan ayah dan anak itu, kini keduanya dibuat tegang bahkan Pak Muhtar serasa mati berdiri kala mendengar penjelasan dari suster Devi.
Maaf, Pak. Nona Almira drop. Badannya mendadak dingin dan kaku. Matanya terbuka lebar dan hanya bisa menatap langit kamar, serta mengeluarkan air mata terus menerus.
Mendengar kondisi sang putri, Pak Muhtar langsung menarik tangan Radit dan menyuruh Mang Wiryo mengendarai mobil menuju rumah sakit, tempat Almira di rawat.
Ada apa ini? kenapa Almira mendadak drop? batin Pak Muhtar berkecamuk. Beliau pun segera menghubungi sang istri yang beliau pikir kembali ke klinik.
__ADS_1