MENTAL

MENTAL
DITAKSIR


__ADS_3

Sudah satu minggu Almira tinggal di pondok, setiap selesai sholat dia selalu mendapat telfon dari Radit ataupun papa. Yah....Almira juga diperbolehkan membawa ponsel sekaligus laptopnya di pondok, Pak Muhtar ingin anaknya mulai menata kembali kehidupannya di pondok dulu. Dengan berbekal dua gadget itu diharapkan Almira mulai membuka pemikirannya dan tidak terkungkung pada pemikiran negatif yang selama ini ia rasakan.


Sore itu, hujan turun dengan deras. Almira duduk di depan jendela kamar, wajah cantiknya sesekalu terkena percikan air hujan. Tangannya erat memegang ponsel, sudah hampir dua minggu dia tidak beetukar kabar dengan sang mama. Almira rindu, tapi takut untuk memulainya.


Tok


Tok


Tok


Almira menoleh dan mempersilahkan seseorang yang mengetuk kamarnya masuk. Tampak gadis kecil membawa boneka kelinci, dia menbuka pintu lalu tersenyum pada Almira. Di kamar itu, Almira sementara tidur sendiri, dia sekarang memilih tidur di area pondok putri, belajar berbaur dengan anak pondok lain.


"Ada apa, Lil?" tanya Almira pada Lila yang sekarang berjalan mendekatinya.


"Mau nemenin Mbak Al, karena Lila tahu, Mbak Al suka hujan."


Almira tersenyum mendengar celotehan gadis berusia 10 tahun yang masih suka main boneka. "Mbak Al lagi menunggu telpon?" Lila yang peka akan genggaman erat Almira pada ponselnya.


"Iya, tapi kayaknya orangnya sibuk."


"Pacar Mbak Al ya?" goda Lila sambil mencolek lengan Almira.


"Sok tau! Mbak Al gak punya pacar kali."


Lila menatap wajah cantik Almira, lalu terkekeh, "Gak percaya, Mbak Al cantik gini. Kang Aqil aja katanya naksir sama Mbak Al."


Almira langsung menoleh dan mengerjap bingung, Kang Aqil? ponakannya Bu Puguh yang biasa menjadi imam sholat naksir dirinya. Waduh bumi gonjang ganjing nih. "Eh kata siapa?" Almira penasaran dari mana sumber gosip itu.

__ADS_1


"Mbak Dena dan Mbak Ratmi."


"Masa' sih?" Almira tak percaya namun wajahnya tampak merona. Aduh...Kang Aqil mah idola anak pondok putri kali. Bahkan saat lihat TV beberapa anak bahas ponakan pemilik pondok ini. Tapi mereka hanya penganggum saja, sadar diri juga kalau mereka tak mungkin dilirik anak orang kaya.


"Dih gak caya. Kata Mbak Dena pernah dengar Kang Aqil tanya Bunda (panggilan untuk Bu Puguh oleh anak pondok kecuali Almira yang sampai sekarang memanggil Budhe)."


"Tanya apaan?"


"Almira itu umur berapa, terus kok bisa dekat dengan dokter Ibram, gitu kayaknya."


"Dih...kamu kecil-kecil tukang gosip deh. Dosa tau. Lagian cuma tanya gitu doang masa' dibilang naksir."


Pukkk


Lengan Almira dipukul Lila dengan boneka, "Ih...Mbak Al gak tau sih, Kang Aqil tuh gak pernah tanya-tanya anak pondok putri dari dulu, Lila aja nih yang paling bontot gak pernah tuh disapa. Wajar lah banyak yang mikir Kang Aqil naksir Mbak Al."


Almira menghela nafas pendek, "Mbak Al gak pantes lagi ditaksir laki-laki seperti Kang Aqil, masih banya perempuan baik di atasku."


Almira melirik tajam Lila, dia jadi curiga kenapa anak kecil ini begitu getol jadi mak comblang. Pasti ada udang di balik rempeyek. "Lil, ngaku deh kamu disuruh siapa sih promosiin Kang Aqil?" tuduh Almira sambil menunjuk wajah Lila yang tiba-tiba gelagapan.


"Enggak ada, idih Mbak Al suudzon sama Lila," ucap Lila sambil mencebikkan bibirnya.


Semenjak obrolan dengan Lila, Kang Aqil menampakkan gelagatnya yang naksir Almira. Setiap Almira beraktivitas, ia selalu mencuri pandang pada gadis itu, dan banyak anak pondok yang menangkap gelagat pemuda yang sedang mengambil jenjang S2 itu. Biasanya Kang Aqil hanya berkutat di lab komputer, musholla saja tapi sekarang menambah ikut bermain voli kalau tidak ada aktivitas di luar pondok.


"Masak Apa, Al?" tanya Kang Aqil yang tiba-tiba ikut masuk ke dapur sedangkan Almira yang siang ini bertugas untuk memasak dan menyiapkan makan siang cukup terkejut dengan kedatangan ponakan pemilik pondok. Mbak Ina yang kebetulan di dapur langsung milirik kepo.


"Hah? oh masak sayur asem, ikan goreng, tahu tempe, lalapan, sama sambel bajak, Kang!" ujar Almira yang sempat tergagap akan kedatangan Kang Aqil.

__ADS_1


"Kang Aqil sudah pulang dari kampus?" tanya Mbak Ina mencairkan suasana karena Kang Aqil yang terdiam begitu saja, mungkin bingung mau memulai obrolan lebih lama.


"Sudah, Mbak In," jawab Kang Aqil singkat dan sedikit tegas. Almira malah tak menggubris, ia menata piring dan sendok.


"Almira dicari Kang Aqil kok diam saja," goda Mbak Ina sengaja. Kang Aqil hanya mengangkat alis, tak suka dengan candaan Mbak Ina, meski tujuannya ke dapur memang menemui Almira. Maksud hati ingin sembunyi-sembunyi, apalah daya kekuatan netizen yang super canggih.


"Eh...Kang Aqil memang cari Almira ya?" tanya Almira polos, sembari tersenyum canggung pada Kang Aqil.


"Lah,Qil, tumben ke dapur?" Bu Puguh malah semakin membuat Aqil menahan malu. "Oh cari neng geulis," goda Bu Puguh yang langsung dijawab tawa Mbak Inah.


"Apa sih, Budhe!" jawab Aqil yang langsung beranjak pergi.


"Dari panggilan saja udah sama loh, jodoh mungkin ya, In?" Bu Puguh semakin semangat menggoda Almira hingga gadis itu tertunduk malu. Percayalah, seorang wanita itu pintar sekali mempermainkan hati. Di hadapan orang saja bilangnya enggak, atau apaan sih, tapi dalam hati bahagia dan penasaran, kalau bisa digoda terus ya Kang. He...he.


"Budhe loooooh," rengek Almira menahan malu.


"Gak pa-pa, wajar itu, tapi jangan sampai kebablasan. Apalagi kalian tinggal serumah."


"Eh..Almira tinggal di pondok putri loh," sangkal Almira.


"Tidurnya doang, tapi aktivitas kan banyak di pondok utama," sahut Mbak Ina sambil terkekeh.


"Wah, kamu pantas jadi makcomblang, In," seloroh Bu Puguh..


"Wah, Bunda. Buat Ina aja kali Kang Aqilnya kalau Almira gak mau. Biasanya makcomblang yang justru jadi pasangan target, siap-siap ya Al," goda Mbak Ina semakin gencar.


Almira terbengong, rasanya dia belum siap mendapat perlakuan istimewa dari lawan jenis, pikirannya mendadak teringat Pak Sultan, guru muda yang dekat dengannya. Tak sadar juga, jantung Almira berdegup kencang, bukan karena Kang Aqil tapi bayangan dia terpuruk menangis bahkan curhat dengan Pak Sultan. Bayangan dirinya mulai mengalami depresi melintas begitu saja.

__ADS_1


"Al, kamu baik-baik saja?" tanya Bu Puguh khawatir. Benar saja, Almira langsung memeluk Bu Puguh dan menangis, lagi-lagi dirinya merasa tertekan dan langsung down. Sedangkan Bu Puguh sudah bisa menebak Almira kambuh, yang bisa ia lakukan membalas pelukan Almira, menepuk punggungnya lembut, dan membacakan ayat suci. Bu Puguh tidak serta merta memberikan obat penenang, meski dokter Ibram selalu meresepkan untuk Almira. Beliau ingin Almira mulai membiasakan hidup tanpa obat penenang.


"Kamu bisa, Al," lirih Bu Puguh memberi semangat.


__ADS_2