
Seorang pemuda hanya bisa menghela nafas berat, berkali-kali ingin menyapa seorang gadis yang pagi ini sangat cantik, menggunakan dress floral sangat pas membelit tubuhnya, sedang membantu bagian dapur menyiapkan sarapan.
"Mbak, nanti aku didahulukan!" pinta Lila dengan mencangklong tas.
"Duduk dulu cantik," pinta Almira sembari menggelar karpet, lalu menerima satu per satu piring dan sendok untuk makan bersama.
"Aku sudah 2 hari loh gak speak-speak sama Mbak!"
"Habis isya Mbak longgar kok," sahut Almira kemudian.
"Nanti abis isya juga longgar?" tanya Aqil menyela, sengaja biar nyambung aja obrolannya.
"Makan dulu semua," ajak dokter Ibram dengan menyeringai licik. Sengaja juga agar Aqil kesal karena tak mendapat jawaban dari Almira.
Semua anggota pondok makan dengan tenang, tanpa obrolan menghabiskan menu sarapannya. Setelah itu bergilir mencuci piring dan segera pamit ke Bu Pugu, dokter Ibram dan Aqil. Almira mengantar Lila hingga ke depan, mengajukan kesepakatan agar jam belajarnya setelah maghrib saja dan Lila pun setuju.
"Gak usah bantu dulu, ikut saya!" pinta dokter Ibram yang sudah beranjak ke ruang TV. Setelah anak pondok pergi ke sekolah, pondok terasa sepi hanya ada beberapa ART yang lalu lalang membersihkan rumah utama.
"Gimana sekarang?" tanya dokter Ibram membuka sesi terapi. Menanyakan perasaan Almira hingga saat ini. Apalagi kemarin ia berhasil menjadi tutor plus psikiater. Semua kegiatan Almira terpantau oleh Bu Puguh dan dilaporkan pada dokter Ibram. Otomatis, sekecil apapun perubahan sikap Almira dokter ganteng itu tahu.
"Alhamdulillah baik, Dok!" jawab Almira tegas. Wajahnya pagi ini tampak bahagia dan senyuman pun tak lepas dari bibirnya. Sedikit dokter Ibram terpesona. Namun segera ia tepis, masih bocah dan inceran sang sepupu. Gak mungkin dong menikung, eh tapi sah juga sih.
"Lalu mau tinggal di sini berapa lama lagi? Gak kangen rumah?" tanya dokter Ibram dengan memperhatikan perubahan raut wajah Almira.
"Belum, masih betah di sini. Boleh kan?"
dokter Ibram mengangguk, toh Pak Muhtar bilang terserah Almira, sampai gadis cantik itu memutuskan sendiri untuk pulang, maka akan dijemput dari pondok.
"Boleh dokter tahu alasan kamu betah di sini?"
Almira terdiam lalu mengangguk, " Almira nyaman di sini. Almira dibebaskan untuk melakukan apapun di sini. Bahkan Budhe mengizinkan Almira mengajari rombongan Oliv."
"Kamu suka jadi guru?"
Almira menggeleng, "Sebenarnya jadi guru bukan prioritas sih, tapi Al sangat merasa puas jika bisa bantu orang lain. Kebetulan aja Almira diberikan kesempatan bisa mengerjakan soal matematika," jelasnya merendah. "Lagian nih, Dok. Entah kenapa saat bertemu anak pondok, Bu Romlah CS, maupun rombongan Oliv, Al tuh terasa gak sendiri. Bisa tertawa dan bebas mau ngomong aja sangat berbeda dengan di rumah."
__ADS_1
"Ya karena dalam mindset kamu sudah tertanam di rumah kamu horor dengan tuntutan mama kamu."
"Betul!" jawab Almira menyetujui. Dalam otaknya rumah orang tua sebagai momok yang perlu dihindari. Setiap membayangkan sudut rumah atau paling sederhana bayangan di kamarnya sendiri, membuat tubuh Almira bergetar. Potongan kejadian di mana ia berkutat dengan buku, mengerjakan tugas dan juga jari telunjuk mama yang selalu menuntut ini dan itu.
"Kamu sangat berbeda dengan tiga bulan lalu loh, Al."
Almira kembali mengangguk, "Almira dulu penuh dengan topeng kepura-puraan. Pura-pura bahagia, pura-pura pintar, pura-pura patuh dengan mama, tapi dalam hati sangat tidak suka."
"Di rumah sakit juga kamu tampak stagnan, gak mau sembuh juga!"
"Sengaja!"
Dokter Ibram terkejut, "Hah? jadi saya kamu kelabui?"
"Gak semuanya, Dok! ada masa saya down banget, di situ saya memang benar-benar tertekan dan saya akui otak saya geser banget. Dalam alam bawah sadar saya, saya ingin tidur saja. Gak usah bangun, dan ketemu mama. Tapi sejak dokter lebih intens mengajak saya bicara, ada dorongan dalam diri saya untuk tetap menjadi gila. Saya sempat mendengar percakapan dokter dengan papa dan mama, bahwa perkembangan saya membaik, dan saat itu mama terdengar sumringah. Otak saya langsung tersambung dengan diktean mama, dalam hati pun lebih memilih jadi gila ketimbang tinggal di rumah lagi."
"Lalu, ke depannya kamu mau apa?" dokter Ibram tampak mengisi form dalam tablet beliau.
"Sementara aku ingin berinteraksi dengan rombongan Oliv saja. Sepertinya menarik."
Almira mengedikkan bahu, "Aku gak ngerti passionku apa karena selama ini bakat dan minatku terhambat. Hanya saja, aku ingin mencari suasana lebih hidup, bergaul dengan anak yang sedikit melenceng gak ada salahnya kan?"
Giliran dokter Ibram mengangguk, "Karena kamu dulu anak rumahan gitu, makanya memilih mereka yanh kelewat aktif?" tebak dokter Ibramnyang diangguki Almira.
"Memangnya nanti kalian mau ngapain?"
"Emang harus laporan ke dokter ya?"
"Iyalah harus, siapa tahu mereka memberikan efek buruk ke kamu."
"Dih, dokter suudzon deh. Ini kan kawasan milik dokter, mereka gak mungkin berbuat onar."
"Semoga saja."
keduanya terdiam sesaat, namun dokter Ibram beberapa kali melirik Almira sekilas, "Aqil gimana?"
__ADS_1
"Hah?"
"Sikapnya ke kamu?"
"Hem...emang ada perubahan ya?"
Dokter Ibram menggeleng, perempuan gak oeka atau memang kehadiran Aqil gak penting. Duh kasihan deh ponakan Bu Puguh itu, tapi kok pengen ketawa ya.
"Lah emang beberapa hari ini menyapa kamu?"
Almira berpikir sejenak, mengingat tingkah Aqil yang memang agak sedikit berbeda namun Almira memang gak ngeh dengan perubahan itu, cuek aja. Wajar juga setelah ditolak kemudian Aqil menghindar. Almira tak mau ambil pusing untuk memperbaikinya. "Gak sih, tapi wajar lah, emang kita gak perlu terlalu dekat."
"Kamu gak mau dekat dengan dia?"
"Bukan gak mau dekat, tapi gak mau berhubungan lebih jauh aja. Fokusku sekarang adalah ingin membuktikan aku bisa sukses tanpa harus menjadi dokter. Bukan cinta-cintaan."
"Gak mau jadi dokter, tapi mau kan jadi istri dokter?" tanya dokter Ibram iseng, lalu dia malah tertawa sendiri. Almira sampai mengerutkan dahi dengan tingkah dokter jiwa pagi itu. "Udah, saya juga gak mungkin nikung sepupu sendiri."
"Hah?" Almira tidak paham sama sekali. Tak lama dokter Ibram pun pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Saat Almira akan masuk ke lapak Bu Puguh, dia berpapasan dengan Aqil yang sepertinya menunggu kehadiran Almira. "Bisa ngomong sebentar?" tanya Aqil sedikit takut.
Almira hanya mengangguk, dan mengikuti Aqil ke ruang tamu. "Duduk, Al," titahnya dengan nada serius. "Maaf ya!" ucap Aqil dengan tulus.
"Untuk?" tanya Almira memastikan karena sepemahaman Almira justru dirinya yang seharusnya minta maaf telah menolak Aqil.
"Sikapku beberapa hari ini. Mau kan maafin aku?"
Almira terbengong sebentar namun kemudian mengangguk, "Kang Aqil seharusnya tak perlu minta maaf, ditolak ataupun diterima sebenarnya hal biasa."
"Jadi kita bisa berteman lagi kan?" Aqil terpaksa harus menyimpan perasaannya. Memang lebih baik berteman dulu karena melihat kondisi Almira yang baru saja stabil (ingat pesan dokter sableng kemarin)
"Bisa kok!"
"Mulai dari 0 ya?" canda Aqil seperti petugas pom bensin dan disahuti dengan tawa manis si gadis.
__ADS_1