
Almira dan rombongan Oliv duduk melingkar, saling bersisihan tanpa ada batasnya. Meski celotehan mereka terdengar bar-bar tapi mereka anak penurut, ah apa mungkin penurut dengan Oliv saja. Entahlah.
Almira mengajak mereka berkenalan satu per satu sekedar tanya nama saja. Hingga dia mulai menunjuk satu per satu anak untuk menceritakan 'dirinya dengan matematika'.
"Bagiku matematika itu musuh, karena dipastikan gak bisa matematika maka gak bisa mata pelajaran lain," cetua Mita, siswi yang duduk di sebelah kiri Almira. Begitu percaya diri mengakui ketidak sukaannya dengan matematika. Dari nada bicaranya saja terbersit rasa kesal yang tertahan.
"Kalau aku, hidup tidak bisa diukur dengan kesuksesan menghitung matematika, karena Matematika Tuhan tentu berbeda hasilnya dengan perhitungan matematika manusia," terang Leo yang diangguki oleh teman-temannya. Sangat setuju, namun dalam hidup kita pasti dikelilingi matematika. Hal paling dasar adalah perputaran uang.
"Aku gak suka matematika, karena aku suka olahraga. Otakku gak berkembang cerdas, tapi ototku berkembang dengan baik," lanjut Si Rangga, siswa yang badannya kekar layaknya binaragawan. Posturnya pun lebih besar daripada anak lain.
Satu per satu mereka menjelaskannya dengan antusias, bahkan tak ada yang malu menunjukkan kekurangannya. Mungkin mereka berpikir, ngapain malu orang yang ikut rombongan Oliv otaknya miring semua dengan matematika.
"Kalau Mbak Al kenapa pintar matematika?" tanya Oliv mewakili tatapan temannya yang mupeng dengan keenceran otak Almira.
"Terpaksa," jawab Almira santai.
"Haaaaa?" kompak sekali mereka merespon jawaban Almira yang tak pernah ia duga, "Kok bisa?" lanjut Leo spontan.
"Ya bisa dong. Orang kalau terus-terus dicekok in matematika ujung-ujungnya harus mau belajar matematika," jawab Almira menyampaikan pengalamannya yang sejak kecil dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran khususnya matematika.
"Heiii....gak benar tuh, Mbak!" sangkal Leo. "Buktinya kita, dicekok in matematika dengan model guru apapun tetap aja oleng."
__ADS_1
"Kita? Lo aja kali," ledek Rangga yang langsung ditonyor kepalanya oleh Leo. Kelakuan keduanya berhasil menciptakan tawa. Almira ingin kembali ke dunia SMP, moment pubertas dengan segala kenakalannya. Seperti mereka yang meskipun tak bisa matematika, tapi bisa tertawa lebar dan menyadari dunia tidak akan runtuh kalau gak bisa matematika. So...hidup mereka di usianya sangat santai. Almira ingin seperti itu.
"Hidup Mbak pasti hanya mikirin matematika?" celetuk Lina, asal tebak aja tapi berhasil membuat Almira menganģguk cepat.
"Tiap hari les, Mbak Al iri loh sama kalian yang punya sohib seperti ini. Karena sejak dulu Mbak Al temannya buku."
Ungkapan jujur Almira hanya direspon dengan bibir mereka yang melongo, sumpah kalau ada yang melihat pasti ngakak. Wajah mereka konyol habis.
"Eh kenapa?" tanya Almira bingung, melihat rombongan Oliv sangat kompak melongo. Serasa ruangan hanya berisi hewan jangkrik...krik...krik..krik
"Serius teman Mbak Al cuma buku?" tanya Rangga memastikan dan dijawab Almira anggukan.
"Mbak Almira juga gak punya bestie somplak seperti mereka?" tanya Oliv menunjuk Lina dan Mita bergantian, dan dijawab sebuah gelengan.
"Gak pa-pa, Leo. Memang kenyataannya hidup Mbak Al sangat monoton, dan itu berlangsung sejak kecil hingga kuliah. Sudah kerjakan Mbak Al cuma belajar, sekolah, les, ikut lomba."
Diva menggelengkan kepala seraya melambaikan tangan, "Kenape lo?" sahut Oliv tak sabaran.
"Gak kuat gue hidup kayak Mbak Al. Pasti sudah melambaikan tangan ke kamera!" sahut Diva dengan wajah melasnya. Memikirkan seumur hidupnya hanya bertemankan buku. Oh tak sanggup Fergusso.
"Mbak Al gitu suka?" prediksi mereka Almira pintar matematika, awal terbiasa hingga terpaksa pasti suka dengan kondisi bertemankan buku dan hidup monoton.
__ADS_1
"Enggak!" Jawab Almira tegas. "Namanya anak pasti pengen main terus, kalau bisa sekolah 10% main 90%!" lanjut Almira membayangkan presntase hidup yang khayal.
"Wahhhhh betulll itu, gue setuju. Mbak, kalau Mbak maju jadi menteri pendidikan auto gue coblos," serobot Rangga dengan semangat 45, tapi malah mendapat toyoran keras dari arah belakang dan samping oleh sahabat somplaknya.
"Sejak kapan menteri pendidikan ikutan dicoblos juga. Beg* jangan kebangetan lo!" sentak Mita ketus.
"Emang benar ya kalau otot gede gak jamin otaknya gede juga," sindir Leo dengan melirik sekilas dan disambut tawa meledek mereka. Almira pun ikut tertawa dan sedetik kemudian dia kembali serius, ingin menggali dunia SMP yang tak pernah ia lalui.
"Omongan kalian sekasar ini gak ada yang sensitif terus sakit hati gitu?" tanya Almira polos, sedangkan mereka saling lirik sembari menutup bibirnya. Di sekolah sudah banyak yang kena mental dari mereka. Khususnya anak yang cupu dan gak mau diajak kerja sama saat ulangan. Auto dibully deh. "Bisa-bisa penyebab perundungan atau bullying dari omonga kalian gini, eh benar gak sih?" Almira belum punya pengalaman bullying atau apalah, karena ia pendiam dan lingkungan sekolah sejak kecil berada di sekolah elite yang daya saingnya ketat, dan individualisnya tinggi. Mindset hidup mandiri bagi Almira sudah menjadi makanannya setiap hari.
"Ya pernah sih, duh auto ingat dosa gue!" jawab Mita yang terkenal cewek bar-bar dan tak takut dengan kakak kelas sekalipun. Almira sangat bersyukur tidak punya teman seperti mereka saat SMP, bisa-bisa gila kuadrat kali ya. Di sekolah ditekan oleh omongan bar-bar mereka, di rumah ditekan oleh tuntutan mama, nudzubillah.
"Kasihannya korban bullying kalian," desis Almira mendadak sendu. "Kalian pernah mikir gak sih, kalau sudah gede mau jadi apa dengan sikap bar-bar kalian kayak gini?"
Tidak ada yang menjawab, pertanyaan Almira saat ini cukup menusuk relung hati. Betapa omelan kedua orang tua tak digubris malah ditinggal main PS. Nah kalau seperti itu terus, memang mau jadi apa mereka nanti? hanya mengandalkan harta orang tuanya?
Rombongan Oliv yang statusnya anak orang kaya pun menggeleng, "Ayo dong cerita, ouh atau mau dengar ceritaku?" mereka mengangguk kompak.
"Mbak Al ingin bertemu mama!"
Mereka langsung menunduk lesu, apalagi pembahasan mama. "Mungkin Mbak Al nasibnya sama kayak kalian, gak nurut sama mama. Mbak Al gak mau jadi dokter tapi mama menyuruh jadi dokter. Kalau kalian jadi aku, apa yang akan kalian lakukan?"
__ADS_1
Mereka terdiam. "Mbak Al, takut banget ketemu mama karena mbak Al gak mau jadi dokter," keluh Almira dengan memaksakan tersenyum dan menahan air mata. Cerita soal mama sangat mempengaruhi emosi mereka, "Mbak Al takut banget, kalau tiba-tiba mama meninggal dan Mbak Al belum bisa jadi orang sukses," lanjut Almira yang sukses membuat mereka tiba-tiba menangis.
"Hebat," gumam seseorang yang memperhatikan mereka dengan bersandar di gawang pintu.