MENTAL

MENTAL
PANTANG MENYERAH


__ADS_3

Selepas shubuh nyonya Anggraini langsung menuju rumah sakit tempat Almira dirawat. Semalaman ia sudah menyusun kalimat yang tepat dan tidak mengundang emosi sang suami. Yah...egonya harus ditekan agar keutuhan keluarga tetap terjaga.


Pintu kamar inap Almira masih tertutup, lorong gedung VIP itu juga sangat sepi. Berkali-kali, beliau menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya memegang gagang pintu kamar inap Almira.


"Kamu!" ucap Pak Muhtar yang hendak keluar terkejut, mendapati sang istri sudah dihadapannya di pagi buta ini.


"Pa!"


"Jangan masuk!"


"Oke, mama gak masuk, tapi mama mau bicara sama papa!"


"Kita ke kantin sekarang!" ajak Pak Muhtar segera mengajak sang istri menjauh dari kamar Almira. Khawatir saja, kondisi gadis cantik itu kembali drop kalau mendengar suara mamanya.


Tanpa gandengan dan langkah sejajar pasangan suami istri itu menuju kantin rumah sakit yang tampak masih sangat sepi. Hanya memesan secangkir teh dan kopi keduanya duduk berhadapan.


Masih ada kilat amarah di sorot mata Pak Muhtar, namun sebisa mungkin ia tahan. Tujuannya sekarang hanya fokus pada kesembuhan Almira, sedangkan tingkah laku sang istri tak digubris lagi. Sudah ada tekad kalau tidak ada niatan baik dari sang istri, maka Pak Muhtar akan melepas sang istri. Baginya, buat apa memiliki istri yang terlalu egois, sampai kesehatan jiwa anak terganggu.


"Ada apa?" tanya Pak Muhtar ketus.


"Aku...aku ..."


"Ngomong yang jelas, menemani Almira jauh lebih penting daripada mendengar pembelaanmu."


Nyonya Anggraini hanya bisa memejamkan mata, menahan rasa sesak yang entah bagaimana hatinya sekarang. Sekali lagi mendapat kalimat pedas dari sang suami, terlebih lagi sang suami yang terkesan mengabaikannya, tak mau menatapnya sekalipun. Miris sekali.

__ADS_1


"Baiklah, beri aku waktu 10 menit saja."


"Aku minta maaf karena bersikap otoriter dan egois pada Almira. Tak ada niatanku sekalipun menghancurkan hidupnya. Aku sangat menyanyangi dirinya. Aku ingin membahagiakannya, dan aku ingin membantunya meraih masa depan cerah. Oleh sebab itu aku melakukan itu semua padanya. Menjadikannya gadis cerdas, dan idaman bagi setiap orang. Aku tidak mau dia disepelekan orang layaknya aku yang sampai sekarang selalu dipandang sebelah mata oleh keluargamu."


Baru saja nyonya Anggraini menyebut keluargamu , Pak Muhtar sontak meliriknya dan menaikkan alis, heran atau tak suka, entahlah.


"Selama 20 tahun menjadi istrimu, aku selalu menerima sindiran oleh keluargamu akan masa laluku yang memang anak dari keluarga miskin hingga akhirnya menjadi yatim piatu. Sejak awal aku sadar, keluargamu memang tak suka. Aku pun berusaha menempatkan diriku agar bisa diterima oleh keluarga besarmu. Namun apa mau dikata, meski menjadi dokter kecantikan hingga membuka klinik, keluarga besarmu masih mencemoohku. Dan yang kamu lakukan selama ini selalu bilang aku harus sabar, oke aku terima. Selain keluarga papa, ibumu yang paling membuatku sakit hati."


"Cukup!" pinta Pak Muhtar tegas. "Bukan ini yang aku mau, kamu masih tetap sama, selalu menyalahkan orang lain."


"Memang seperti itu kan, ibumu sangat ketus padaku, dan kamu selalu tidak terima bila aku berkata jujur. Tolong dong, sebagai suami perhatikan hatimu, ajak istrimu bicara. Apa masalah yang sedang aku hadapi!" ketus nyonya Anggraini tak kalah ketus. Padahal ia sudah menekan ego dan mengontrol emosinya saat bicara, tapi suaminya itu tetap saja memancing emosinya. Sudah, cukup 20 tahun ia diam. Meski sakit, ia akan jujur apapun itu. Terima tak terima nyonya Anggraini akan mengungkap apa yang menimpanya.


"Lalu sekarang mau apa? memperburuk Almira?"


Nyonya Anggraini menggelengkan kepala, "Aku sadar aku banyak salah dengan Almira, bahkan aku sadar kalau aku menjauh darinya itu akan lebih baik, aku terima tapi tolong percaya dengan ucapanku, aku pun bisa sakit hati karena ucapan ibu dan keluargamu."


Nyonya Anggraini seketika menangis, ucapan suaminya begitu lancar, seolah sudah terencana lama. Ia menyandarkan tubuhnya lemas, akhirnya cerita cinta yang dari dulu tidak mendapat restu orang tuanya kini akan berakhir. Menyerah? tentu tidak, enak saja kalau menyerah begitu saja. 20 tahun hidup dalam tekanan sadisnya lidah mertua kini mau dibuang saja. Oh God, kenapa hidup begini susahnya.


"Yakin kamu mau berpisah denganku?"


"Kalau sikap kamu masih egois seperti ini, why not?"


"Dan kamu begitu mudah mengucapkannya tanpa tahu penderitaanku?"


"Selama ini kamu bahagia, kamu begitu bebas berkarier, aku tak pernah sekalipun menghalangi kegiatanmu, bahkan pola asuhmu pada Almira pun aku lepas tangan, karena aku sangat percaya padamu."

__ADS_1


"Itulah wanita, sangat mampu dan begitu tegar menyimpan sakin hatinya, dan bisa menatap dunia dengan tawa meski hatinya penuh luka. Sekarang aku mau keputusan kamu, kita lanjutkan atau pisah?"


Pak Muhtar terkesiap. Sebenarnya ia hanya menggertak saja, tidak memprediksi balasan sang istri bisa begini. Ia tahu selama ini keluarganya selalu mempermasalahkan sang istri, bahkan keluarga besar atau bahkan ibunya sendiri pernah memintanya menikah lagi. Entah apa yang membuat keluarga besarnya tak tersentuh sekalipun dengan Anggraini. Ia berpikir, suatu saat nanti keluarga besarnya akan menyanyangi istrinya, namun hingga kini tak terwujud.


Berkali-kali ia menegur sang adik atau saudara lain untuk tidak menyindir sang istri, tapi sebuah sindiran untuk Anggraini adalah sebuah keharusan yang dilakukan keluarga besarnya. Pak Muhtar tak bisa berkutik banyak, apalagi dilihatnya sang istri tetap sabar, ia pun membiarkan begitu saja.


"Menurut kamu?" tanya Pak Muhtar balik, masih bernada sinis.


"Kita sudah melewati segala macam krikil kehidupan, kita juga masih cinta dan saling sayang. Tak usah ada kata pisah, kita perbaiki sikap masing-masing dan fokus pada penyembuhan Almira."


"Almira masih trauma dekat kamu," Pak Muhtar masih menjunjung tinggi gengsi untuk bersikap lembut pada istrinya.


"Aku akan menjauhinya, aku percaya kamu akan merawat dan menyembuhkannya lebih baik dari aku."


Pak Muhtar terdiam, sosok perempuan di depannya ini bukanlah istrinya yang mudah sekali menyerah. Biasanya Anggraini akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan keinginannya.


"Kamu gak mau tanggung jawab atas semua perbuatan kamu pada Almira?" tawar Pak Muhtar yang hanya basa basi saja. Dalam hatinya ia ingin mengajak istriya itu merawat Almira juga. Mau bagaimanapun, hati seorang ibu akan lebih tulus merawat anak gadisnya. Apalagi istrinya itu sudah minta maaf akan sikapnya selama ini.


"Caranya?"


"Carikan tempat yang dikelilingi tanaman hijau dan suasana yang asri agar jiwa Almira tenang."


"Hanya itu?"


"Memangnya kamu bisa apalagi?"

__ADS_1


"Aku masih ingin di dekatnya, aku ingin menemani Almira terapi. Jangan jauhkan aku dengan Almira karena aku tetap ingin menjadi ibu terbaik untuknya."


"Khayal," cetus Pak Muhtar sinis.


__ADS_2