
Suasana ruang tengah kediaman Pak Muhtar malam itu kian mencekam. Seorang nenek bersikap begitu angkuh dan menatap tajam pada seorang perempuan yang sedang menemani putranya belajar.
"Nek, nenek menginap di sini lama?" tanya Bima di sela-sela mengerjakan tugasnya.
"Bima, fokus dulu ke belajar kamu!" tegur nyonya Anggraini pelan. Niatnya hanya ingin agar pekerjaan Bima segera terselesaikan dan dia bisa mengobrol leluasa. Namun sayang, tegurannya menjadikan kesalahpahaman.
"Kamu itu masih tetap sama, suka sekali membatasi kedekatanku dengan cucuku. Pantas saja hanya kalian yang tak pernah mengunjungiku selain saat lebaran."
Nyonya Anggraini hanya menghela nafas berat, salah lagi. Memang ya...kalau dari awal sudah tidak suka mau bersikap bagaimanapun tetap saja salah.
"Wajarlah, Nek. Kami kan tinggal paling jauh dari rumah nenek, terus kami juga sekolah. Kalau kita liburan, nenek selalu gak mau diajak wisata. Ya jangan salahkan mama dan papa juga."
Bukan Anggraini yang menjawab, tapi Bima. Anak SMP itu begitu lancar tanpa takut kena omel sang nenek. Pembawaannya juga santai, ia tetap mengerjakan tugas sambil bicara pada sang nenek.
"Ih...kamu kok gitu, Bim. Pasti diajari mamamu buat ngomong seperti itu ke nenek, iya?" Bu Wita tak terima, sang cucu memberi sahutan yang menurutnya kurang sopan. Beliau pun melirik tajam pada Anggraini yang bersikap sangat santai.
Puk
Bima meletakkan penanya, menatap tajam kepada sang nenek, rasanya ia tak suka kalau sang mama dimarahi. "Nenek jangan marah ke mama, aku tuh anak pintar udah SMP jelas bisa ngomong tanpa diatur mama."
"Nah..nah...jawab lagi."
"Sudah-sudah, mama yang salah. Saya minta maaf, Bu. Saya tidak bermaksud membatasi obrolan Bima, biar dia selesaikan dulu tugasnya baru ngobrol dengan Ibu."
__ADS_1
"Halah, alasan saja kamu itu. Memang kamu tuh dari dulu gak suka kalau ibu ke sini." Bu Wita marah, beliau langsung beranjak dan masuk ke kamar yang biasa ia tempati kalau menginap di kediaman Pak Muhtar.
Bima hanya menggelengkan kepala, "Kenapa sih orang lebih tua itu selalu menginginkan dihormati tanpa melihat kepentingan sekitar."
Sontak saja nyonya Anggraini menoleh ke Bima, kaget saja anak remajanya bisa bilang gitu. "Bim, gak boleh ngomong gitu. Gak sopan."
"Ma, meskipun Bima dianggap semua orang anak kecil tapi Bima sudah remaja, Bima sudah tahu mana orang baik mana orang julid. Selama ini Bima tahu kalau mama sering dimarahi nenek, meski mama gak melakukan kesalahan. Kasihan mama," ucap Bima yang langsung memeluk sang mama. Siapa coba yang tidak terharu dengan rasa sayangnya anak bungsunya ini. Di saat semua menyalahkan dirinya, justru Bima memberikan kekuatan berupa pelukan seorang anak.
"Mama gak pa-pa, Bim." Masih saja nyonya Anggraini menyembunyikan sikap sang mertua di depan Bima. Ia tak mau memperburuk hubungannya dengan mertua. Terlebih, 20 tahun dia diminta sabar kan oleh sang suami. Hatinya sudah mati rasa menghadapi kalimat pedas itu semua.
"Tetap saja hormati nenek kamu, jangan diulangi."
Bima mengangguk. "Nanti minta maaf ke nenek ya, sekarang---"
"Tumben kamu pulang?" tanya Pak Muhtar, Bima dan mama langsung menoleh ke sumber suara. Tampak wajah lelah sang suami, begitu juga Radit yang berjalan di belakang Pak Muhtar.
"Baguslah, setidaknya kamu masih berguna menjadi seorang ibu."
Jleb
Nyonya Anggraini mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal mendalam. Kalau saja ucapan ibu mertuanya lewat begitu saja, tapi tidak untuk kata pedas dari sang suami. Begitu burukkah dia di depan sang suami. Seolah tak ada jasanya yang berbekas.
"Pa...gak usah mulai," tegur Radit tak terima. Sudahlah, mau buat keluarga ini hancur kalau masih mempertahankan ego. "Mama yang sabar ya, meski Radit kemarin kasar sama mama, Radit tetap sayang mama." Begitu datar raut muka Radit, lelah sekaligus ingin menghentikan luapan emosi yang baru saja papanya ciptakan.
__ADS_1
"Kenapa sih semua orang bertengkar dan menganggap salah. Tadi nenek, sekarang papa. Kalau mama sedih, bagaimana?"
"Nenek datang?" tanya Pak Muhtar kaget. Wajah beliau tegang seketika. Mati-matian menutupi masalah Almira dari sang ibu dengan berbagai alasan kini harus berakhir. "Di mana nenek sekarang?"
"Ada apa?" tanya beliau yang keluar dari kamar masih mengenakan mukenah. "Dari mana kamu, sejak tadi ibu hubungi gak diangkat, mau melupakan ibu juga? sudah terpengaruh dengan tabiat istri kamu."
Pak Muhtar menunduk lesu, ingin meraih tangan beliau dengan takzim tapi sudah diberondong omelan sang ibu. Apes.
"Pa, Dit, salim dulu," pinta nyonya Anggraini mengingatkan.
"Jangan sok sopan sama Ibu," cetus bu Wita sembari menatap nyonya Anggraini.
Bima langsung menggandeng tangan sang mama, "Ayo pergi, Ma. Hiduplah bersama orang yang mau menghargai mama."
Ucapan Bima sontak membuat Pak Muhtar mendongak menatap kepergian sang istri dan putra bungsunya. Heran saja, kenapa Bima bisa bicara seperti itu.
"Lihat anak bungsumu, sejak tadi bicara gak sopan sama ibu. Pasti itu didikan dari istrimu. Sejak dulu ibu gak pernah setuju dia sama kamu, tapi kamu ngotot terus. Rasakan itu hasil pilihanmu."
Sekali lagi Pak Muhtar ketiban tangga, mendapat omelan dari sang ibu. Kepalanya semakin cenat-cenut, satu masalah Almira sudah menemukan cara lain, sekarang datang lagi masalah yang akan timbul dengan kehadiran ibu di rumahnya.
Bukan menjadi anak durhaka, tapi Pak Muhtar ingin istirahat sejenak dari masalah pelik ini. Urusan Almira beres, ia sudah berencana akan mengajak istrinya bicara serius tentang keutuhan rumah tangga. Dropnya Almira kemarin merupakan puncak kesabaran Pak Muhtar terhadap nyonya Anggraini. Oleh sebab itu, kalau sang istri tidak dapat diatur lagi, oke...Pak Muhtar lebih baik melepasnya. Baginya, buat apa memliki istri yang tidak dapat diatur setelah melakukan pola asuh yang salah dan fatal.
"Nenek semakin membuat rumah ini panas," gumam Radit yang langsung beranjak menuju kamarnya. Pak Muhtar pun sependapat dengan Radit. Ia sudah memprediksi perang dunia ketiga akan muncul besok pagi saat sarapan.
__ADS_1
"Oke.....saatnya tidur saja, urusan besok dipikir besok!" ucap Pak Muhtar memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri. Beliau pun segera menuju kamarnya. Berharap bisa tidur nyenyak, mengumpulkan energi untuk menyambut pagi.
Nite.