
"Besok papa, Radit, dan Bima mau ke sana, Mbak!" ucap Pak Muhtar ketika video call anak gadisnya selepas makan malam bersama klien, bahkan beliau masih di dalam mobil. Komunikasi dengan Bu Puguh maupun dokter Ibram pun tetap terjalin.
"Boleh, Pa. Tapi kok cuma bertiga, mama?"
"Kamu mau bertemu mama?" tanya Pak Muhtar, beliau tak mau membahas sang istri bila Almira tidak memancingnya dulu. Khawatir histeris atau kembali sendu. Kata dokter Ibram dan Bu Puguh, Almira tidak bisa mengendalikan emosi bila teringat kronologi depresinya.
Almira terdiam sejenak lalu menggeleng, "Masih belum siap, Pa!"
"Baiklah, kalau kamu belum siap bertemu. Kamu mau dibawakan apa? pudingnya mangga Mbok?"
Almira hanya mengangguk, dalam hatinya sangat ingin bertemu dengan mamanya, ia kangen. "Mbak, dengerin papa ya. Mbak Al, anak baik disayang papa. Jangan pernah takut untuk bicara sesuatu, ayo...Mbak mau sembuh kan. Coba jujur sama papa!" bujuk Pak Muhtar agar sang anak lebih leluasa mengungkapkan perasaannya.
"Almira kangen rumah aja," masih menutupi akan kerinduan pada mama.
"Udah gak betah tinggal di pondok?"
"Betah kok, Pa. Di sini nyaman."
"Oh, ya? kalau hari ini Almira ngapain aja?" selalu Pak Muhtar menanyakan keseharian Almira sesuai saran dokter Ibram. Metode paling tepat untuk mengembalikan kondisi mental Almira adalah mengajak komunikasi tentang apapun, agar Almira lebih terbuka dan mau berbagi keluh kesah dan bahagianya.
"Almira hari ini main voli, mencuci baju lanjut menulis."
"Oh sekarang merambah dunia kepenulisan nih, nulis apa?"
"Nulis rumus matematika."
Pak Muhtar tertawa, bayangan Pak Muhtar Almira menulis cerpen atau puisi, nyatanya yang dia kerjakan malah menulis rumus matematika.
"Habis Almira suka dengan matematika, Pa. Almira bantu Hilda, anak pondok kelas XII," ujar Almira. Untuk sekolah, anak pondok memang sekolah umum di dekat pondok, ada yang SD seperti Lila, SMP seperti Denok, Arga, dan Mei, sedangkan SMA ada Hilda dan dari pondok putra.
"Lalu?"
"Almira jadi tutor, Pa," adunya bangga. Namun detik berikutnya ia tertunduk lesu, "Semoga jawaban mereka betul ya, Pa. Maklum tutornya gila."
Pak Muhtar menghela nafas berat, "Ayo gak boleh berpikir seperti itu, kamu anak sehat sayang."
__ADS_1
"Pa....Almira takut, Pa. Kalau Al gila, siapa yang menemani Almira?" air mata Almira turun dengan deras. Bahkan ia sesenggukan, sampai detik ini tidak ada yang tahu kondisi kejiwaan Almira kecuali Bu Puguh.
"Mau sembuhkan? kata Bu Puguh gimana biar Almira sembuh?" tanya Pak Muhtar, sebisa mungkin beliau harus tegar menghadapi Almira, jangan sampai lemah atau bersedih. Ia harus kuat dan sabar mendukung kesembuhan Almira.
Isk...isk...isk....isakan Almira masih terdengar. Memang kondisi Almira masih belum stabil, apapun momentnya akan dihubungkan dengan gangguan mentalnya. Inilah yang membuat perkembangan Almira masih stagnan.
"Anak papa yang cantik, yang kuat, jangan nangis dong."
"Iy...iya, Al gak nangis."
"Besok papa jenguk kamu, ya. Kita jalan-jalan, refreshing biar gak suntuk di pondok."
Tak lama sambungan video call terputus, Almira pun kembali menangis sendiri, berkecil hati akan kondisi mentalnya. Alam bawah sadarnya selalu ditekankan bahwa ia bisa sembuh. Banyak orang yang menyanyangi. Buruk sangka dibuang jauh.
Kamu bisa, Al. Sisi baik alam bawah sadarnya menyemangati.
Tapi orang akan mengatakan aku mantan gila. Kali ini sisi jahat alam bawah sadarnya on. Sering kali Almira mengalami perang batin dalam benaknya. Di satu sisi dia ingin sembuh, tapi dia juga memikirkan tanggapan orang lain bila tahu dirinya pernah dirawat di rumah sakit jiwa dan mengalami depresi.
"Al," panggil seseorang di luar kamar Almira sembari mengetuk pintu. Barulah Almira mendongakkan kepala dan segera menghapus air matanya. Ia sadar itu suara Bu Puguh yang pasti sudah mendapat laporan dari papa.
"Iya, Budhe?" tanya Almira sembari tersenyum menatap wanita paruh baya di depannya.
Almira mengangguk, dengan mempersilahkan ibu dokter Ibram itu masuk ke kamarnya. Kamar minimalis yang hanya terdiri dari ranjang, lemari, dan meja rias mini. Bu Puguh duduk di tepi ranjang, beliau menyuruh Almira duduk di sebelahnya kemudian.
"Budhe pasti disuruh papa cek keadaan Almira ya?" tebak Almira yang langsung diangguki pemilik pondok ini.
"Mau cerita?" todong Bu Puguh to the point. Dari awal Almira datang dan tidur bersama beliau, sudah menyarankan agar terbuka. Apapun itu, tinggal di pondok ini diharapkan setiap anak didiknya mendapat kenyamanan, bahkan tak sungkan untuk cerita masalah pribadi.
"Sebenarnya tidak ada hal yang perlu diceritakan, Budhe. Hanya saja Almira capek tiba-tiba merasa rendah diri. Almira terlalu takut mendapat cibiran dari orang alin bahwa Al gila."
Bu Puguh dengan sabar membelai rambut Almira, menatap pilu anak didiknya yang punya gangguan mental ini. "Sudah melakukan cara yang disarankan Budhe?" tanya Bu Puguh yang beberapa hari lalu memberikan opsi pada Almira untuk menenangkan diri, seperti menulis keluh kesahnya pada diary.
Almira mengangguk, "Sudah, Budhe."
"Lalu apa yang kamu rasakan setelah menulis?"
__ADS_1
"Plong sih, cuma ya gitu ketika berhadapan dengan orang lain atau setelah melakukan sesuatu, Almira merasa khawatir akan tanggapan orang lain bahkan mungkin menghina Almira."
"Siapa emang orang itu?"
Almira terdiam dan tak lama kemudian mengedikkan bahu. "Keluarga kamu sangat sayang sama kamu, mama dan papa kamu merahasiakan kondisi kamu dari siapapun. Bahkan keluarga besar kamu mungkin tidak tahu."
Almira mengangguk, "Iya hanya tante Widya yang tahu kondisiku."
"Teman kampus kamu pun tidak ada yang tahu kondisimu saat ini," cetus Bu Puguh kalem dan Almira mengangguk kembali.
"Almira memang dari dulu tidak punya teman dekat, wajar mereka tidak tahu Budhe."
"Nah, kalau begitu tidak akan ada yang tahu kamu mengalami hal ini. Sejak awal Budhe tidak sependapat dengan Ibram, kamu tuh tidak sakit hanya perlu orang dan lingkungan yang nyaman."
"Almira memang tidak nyaman dengan hidup Almira budhe, karena Almira hidup sesuai arahan mama. Almira sangat takut pada mama."
Bu Puguh memang sudah mendengar riwayat depresi Almira dari dokter Ibram, bahwa sang mama menjadi penyebab depresinya Almira.
"Kenapa kamu tidak mengungkapkan apa keinginan kamu?"
"Karena Al takut mama marah."
"Mama kamu memang marah?"
"Pernah."
"Marah ke kamu langsung?"
Almira menggeleng, "Ke guru BK Al saat SMA. Mama sebenarnya tidak pernah marah atau membentak hanya saja mama selalu melarang dan ini dan itu."
Bu Puguh mengangguk, "Kamu berarti belum pernah berontak pada mama kamu?"
Almira menggeleng.
"Berontaklah dengan kalimat santun, agar apa yang ada di hati dan keinginanmu tersampaikan, urusan diterima atau tidak itu belakangan yang penting kamu sudah berusaha melepas beban di hati kamu."
__ADS_1
Almira terdiam. Memang selama ini dia hanya terima tanpa berani melawan atau protes seperti kedua adiknya.
"Karena sejatinya apapun penyakit berawal daei kesempitan hati dan pola pikir," tutur Bu Puguh bijak.