MENTAL

MENTAL
CHAT


__ADS_3

Almira memasuki kamarnya usai sarapan bersama, melirik ponsel yang tergeletak manis di ranjang. Ingin menyentuhnya dan segera mengirim chat pada sang mama, sesuai anjuran dokter Ibram. Hanya saja kedua kakinya terpaku di tempat, bahkan untuk melangkah sejengkal pun tak kuasa. Ya Allah.....


Mata masih fokus pada benda pipih itu, perang batin dimulai. Otak ..hati, tiba-tiba terbagi menjadi tim sukses dan tim pemberontak. Sungguh, Almira dilema.


Tak perlu WA...kalau sayang harusnya mama cari kabar aku. Sisi negatif untuk memberontak masih mendominasi.


Tapi mungkin mama gak mau aku kumat lagi, giliran sisi positif mematahkan rayuan pikiran negatif tadi.


Almira tak kuasa, badannya tiba-tiba bergetar, tangannya meraba tembok mencari pegangan. Matanya dipaksa terpejam, namun sayang bayangan mama mendikte hidupnya berlalu lalang. Air mata sudah berderai, sebentar lagi dirinya akan down lagi.


Almira mengikuti alur sesuai keinginan hatinya, ingin menangis, oke...Almira pun menangis. Bahkan sekarang sudah terduduk dengan melipat kedua kakinya. Wajah sendu sudah bertengger di kedua lututnya. Miris. Gadis cantik sedang melawan depresinya. Almira sesenggukan entah berapa lama, hingga dekapan lembut menyadarkannya.


"Budhe!" ucap Almira langsung menghamburkan pelukan kepada wanita baik itu. Ia menangis kembali bahkan lebih keras. Dalam hatinya bersyukur, di saat dirinya mulai oleng, seseorang datang dengan penuh perhatian. Ia tidak membayangkan bila masih di rumah sakit, siapa yang akan datang tepat waktu seperti ini, meskipun ada suster tapi Almira merasa tidak senyaman dengan Bu Puguh.


Beliau memeluknya sembari menepuk punggung, tak banyak bicara. Yah Almira hanya membutuhkan tempat bersandar, kalau dirinnya sudah tenang akan membuka suara.


"Jangan nangis, papa dan kedua adik kamu sudah di depan!" ujar Bu Puguh lembut, usai Almira mengurai pelukan dan mengusap air matanya.


"Ce-cepat sekali datang!" ucap Almira diiringi sesenggukan yang masih tersisa. Wajah cantik tanpa polesan begitu menyejukkan hati bagi siapa saja yang menatapnya. Bu Puguh tersenyum tipis kala menatap intens Almira, ucapan Kang Aqil melintas tiba-tiba.


Bunda, Aqil ingin ta'aruf dengan Almira.


"Budhe!" panggil Almira sembari menggoyangkan lengan Bu Puguh pelan.

__ADS_1


"Eh...Budhe melamun, Al. Habisnya terhipnotis sama wajah kamu. Cewek kok cantik banget, sedap di pandang." Beliau meniru ucapan Aqil beberapa hari yang lalu. Baru kali ini Bu Puguh melihat ponakannya tertarik pada perempuan.


"Lah...Budhe kok jadi menggombal?" Almira menaruh curiga, pasalnya kalimat yang diucapkan Bu Puguh lebih cocok diutarakan laki-laki kepada perempuan.


"Diajari Aqil."


"Hah?"


"Udah-udah, ayo temui papa kamu, cuci muka dulu biar segar!" ucap beliau sambil menepuk pundakku, lalu beranjak keluar kamar. Almira menatap punggung wanita baik itu hingga hilang dari pandangan. Gadis cantik itu menunduk lesu, meraba hatinya.


Hey Hati, sudah kubilang jangan membuatku was-was.


Tak mau sang ayah cemas karena dirinya tak kunjung menemuinya. Almira sudah berganti pakaian memakai celana jeans, rambut digerai saja, tak lupa memakai cardigan rajut dan sepatu sneaker, seperti janji sang papa akan mengajak Almira jalan-jalan.


"Cantiknya," gumam Kang Aqil yang baru saja keluar dari kamarnya bertemu dengan Almira yang berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu tak sadar sedang diperhatikan Aqil.


"Astagfirullah, dokter sableng!" protes Aqil tak terima, lebih tepatnya malu karena kepergok menganggumi calon tulang rusuknya. Ia pun memilih menghindari Ibram yang masih mesam-mesem gak jelas, khawatir diledek berkepanjangan sampai matahari muncul esok pagi. Aqil memutuskan lewat pintu samping yang langsung tembus garasi, tak percaya diri saja bila melintasi ruang tamu dan bertemu calon papa mertuanya, Eh.


"Yakin gak mau ketemu camer?" goda dokter Ibram sembari cekikikan. Beginilah dokter muda kalau bersama keluarga, rese' abis.


"Dokter Sableng!" ejek Aqil sambil berlalu.


Sepeninggal Aqil, dokter Ibram beranjak menuju ruang tamu, dan menyapa keluarga Almira. Dilihatnya Almira memang pagi ini berbeda, pantas saja Aqil berbinar menatapnya tadi.

__ADS_1


"Alhmdulillah sehat Pak Muhtar!" jawab dokter Ibram sembari tersenyum ketika Pak Muhtar bertanya kabar.


"Saya kira praktik di rumah sakit hari ini?" tanya Pak Muhtar basa basi.


"Kebetulan pagi ini libur, baru siang nanti ada acara!"


Setelah basa basi, dokter Ibram pun mulai menjelaskan perkembangan Almira baik secara medis maupun aktivitas sehari-hari yang dipantau langsung oleh ibunya. Bahkan, Almira berhasil tidak minum obat tidur ketika malam hari.


"Syukurlah, Almira tampak lebih segar juga," ucap Pak Muhtar sembari menatap sang putri yang lagi bermain ponsel dengan Bima, dibanding Radit, Bima baru kali ini ikut mengunjungi sang kakak. Otomatis, Almira sangat merindukan adiknya itu.


Kini, pasukan keluarga Pak Muhtar sudah duduk anteng di mobil, dengan Radit yang menyetir. Almira sengaja bermain ponsel Bima, entah kenapa tiba-tiba muncul ide yang di luar ekspektasinya. Memang ilham muncul tanpa diduga.


Ma. Tulis Almira menggunakan ponsel Bima.


Iya Bim. Kamu sudah bertemu Mbak Al?Poto dong! Mama kangen.


Tangan Almira gemetar seketika. Ponsel Bima seketika jatuh, dan ia langsung memeluk adik bungsunya. Radit dan papa ikut terkejut, bahkan Radit langsung membanting setir ke kiri tanpa sign, otomatis umpatan pengendara lain terdengar nyaring dan Radit pun hanya bisa menganggukkan kepala sungkan.


"Mbak?" tanya Bima yang bingung, pelukan sang kakak begitu erat diiringi sesenggukan.


"Al,"


"Mbak Al?"

__ADS_1


Papa dan Radit pun ikut memanggil Almira, namun Radit langsung pindah ke belakang, ikut memeluk Almira yang masih menangis. Papa dan Radit memang diberitahu Bu Puguh, bila Almira menangis bahkan histeris, cukup peluk tanpa bicara.


"Mama!" ucap Almira di tengah isakan tangis.


__ADS_2