MENTAL

MENTAL
KEPUTUSAN AKHIR


__ADS_3

"Semua egois, mementingkan Mbak Al semua tanpa tahu perasaanku ataupun Mas Radit, sana pisah semua," Bima masih teriak diiringi air mata. Anak SMP itu langsung menangkup wajahnya di pegangan sofa, bahunya naik turun menandakan hatinya sedang terluka.


Nyonya Anggraini mengelus pundak si bungsu, tak bisa berkata apa-apa hanya menghela nafas berat. Memang lebih baik dirinya tak di rumah ini. Toh sudah tak dianggap juga. Komunikasi sudah tak berjalan baik, untuk apa.


Egois, memang. Tapi sakit hati selama 20 tahun juga tak pernah dihiraukan. Rumah tangga toxic malah melukai semua pihak. "Adik, dek. Dengerin mama!" pinta nyonya Anggraini dengan suara berat. Sebagai seorang ibu tentu tak rela melihat anaknya terluka di depan matanya sendiri, apalagi ini untuk kedua kalinya. Sungguh miris.


"Mungkin ini lebih baik, Dek!" pinta dokter cantik itu dengan lembut. Tak ada paksaan seperti pada Almira dulu, hanya sebuah kesabaran untuk anak-anaknya. "Mama memang banyak salah pada keluarga ini, daripada sikap dan kehadiran mama menyakiti semua pihak, lebih baik mama mundur."


Sorot mata Pak Muhtar menatap sang istri, ada gurat sedih saat mendengar dokter kecantikan itu mengaku mundur. Bukan hatinya tak ada cinta, tapi ego yang ingin menunjukkan paling peduli pada ketiga putranya.


"Iya, mama gak pa-pa mundur, Dek. Batin mama juga sudah lama terluka. Sikap keluarga besar papa sampai saat ini tidak ada yang menghargai mama. Kasihan mama, Dek. 20 tahun hidup di keluarga toxic." Radit ikut menenangkan sang adik yang tangisannya sangat memilukan. Anak bontot yang baru saja puber kini dihadapkan masalah rumah tangga yang sangat berat, dan dipaksa untuk menerimanya.

__ADS_1


Pak Muhtar hanya diam melihat pemandangan di depan mata. Tak ada niatan untuk ikut menenangkan Bima. Ia membiarkan saja sikap kedua anaknya. "Bima tetap anak papa dan mama, anggap saja mama sedang keluar kota. Yakin deh, mama tidak akan membiarkan Bima sendirian."


"Drama memilih ikut siapa juga berlaku pada kita, Ma?" tanya Radit yang baru sadar ketika perceraian terjadi. Nyonya Anggraini pun mengangguk. Giliran Radit yang tersenyum sinis, menatap kosong lemari kaca dan guci sambil menggelengkan kepala, lalu menepuk pelan paha Bima dua kali. "Kita bisa, Dek. Kita bisa menjadi anak kuat, daripada hidup dari orang tua yang toxic."


Radit beranjak dari ruang keluarga, Pak Muhtar tak melarang putranya pergi. Biarkan, sudah terlanjur hancur, mungkin sekalian saja hancur semua. Pria paruh baya itu juga sakit, tapi hanya bisa menyimpan dalam hati. Mana ada seorang suami yang tega mengusir istrinya sendiri, meskipun untuk menyelamatkan kebahagian sang putri. Topeng yang dipakai Pak Muhtar sangat tebal, polesan kesedihan sudah tak tampak sama sekali. Remuk hati beliau hanya dirasa sendiri. Mengadu sana sini apalagi kepada keluarga justru akan memperkeruh suasana. Bayangan sang ibu mencaci Anggraini sebagai menantu tak tau diri tentu akan membuat hati Pak Muhtar semakin hancur. Ya...masih ada cinta untuk Anggraini namun tak bisa membelanya demi bakti seorang anak laki-laki pada ibunya.


"Mumpung kita di sini, sekalian saja membahas anak dan harta bersama," ide nyonya Anggraini yang sepertinya sudah mantap untuk pisah. Pak Muhtar menatap sendu wanita cantik itu, namun apa mau dikata, ucapannya meminta keluar sang istri dari rumah sudah sangat melukai hati dan harga diri. Ia paham betul bagaimana Anggraini menjadi wanita cerdas dan berkelas. Tentu lebih baik mengorbankan hubungan yang sudah tak sehat daripada harga dirinya diinjak.


"Untuk tempat tinggal mereka bertiga kita serahkan saja pada mereka. Tak mungkin kita memaksa. Kita sudah membuat citra buruk tentang rumah tangga. Kita tak perlu debat lagi, sudah cukup saat ini."


"Baiklah," untuk terakhir kalinya Pak Muhtar akan menuruti semua keinginan sang istri. Ditatapnya wajah cantik itu, yang masih setia membujuk sang putra. Ingin sekali memeluknya dan meminta maaf namun, kaki rasanya tertancap tak bisa bergerak, dibelenggu oleh ego.

__ADS_1


"Siapa yang akan menggugat?" tanya dokter Anggraini tegar. Bahkan ia berani menatap wajah tampan pria yang akan menjadi mantan suaminya.


"Biar aku saja, akan lebih cepat prosesnya!" Pak Muhtar bersikap sangat datar, inilah keputusan terberat dalam hidupnya, dan justru dirinya yang memberikan penawaran. Brengsek sekali jadi bapak dan suami. Astaghfirullah.


"Baik, oke ada yang mau dibahas lagi. Untuk urusan Almira memang sepenuhnya kamu handle, tapi aku harap suatu saat bisa menemuinya," ucap Nyonya Anggraini dengan perasaan bersalah.


"Iya," Pak Muhtar hanya mengiyakan, hubungan ibu dan anak tak bisa diputus mau sampai kapan pun, menunggu keadaan Almira bisa menerima kehadiran sang mama.


"Oke aku tunggu prosesnya," pamit Nyonya Anggraini tanpa beban. Ia pun dengan santainya beranjak, mengantar Bima ke kamarnya tanpa perasaan bersalah pada sang suami. Mungkin untuk saat ini keputusan seperti inilah yang terbaik.


Maaf, bila membuatmu pergi, batin Pak Muhtar.

__ADS_1


__ADS_2