MENTAL

MENTAL
BERAKHIR


__ADS_3

Dua orang yang dulunya saling mencintai dan saling berjuang membangun keluarga di atas penolakan ibu Pak Muhtar, kini tinggal sorot mata penuh tatapan cinta hilang dengan sendirinya. Keduanya saling menyalahkan tanpa ada yang mau mengalah.


"Lebih baik memang kita berpisah," cetus Nyonya Anggraini dengan tatapan menyalang. Di sudut hatinya serasa sakit sekali berkata seperti itu, masih ada niat untuk mempertahankan rumah tangga, meskipun Pak Muhtar enggan memulainya. Apalah dirinya, kalau pun berusaha tentu Pak Muhtar akan menolak, dan ia yakin keluarga besar Pak Muhtar kini menghasut untuk segera bercerai.


"Iya," jawab Pak Muhtar pasrah juga. "Lagian Almira juga menolak kehadiran kamu," lanjut Pak Muhtar ketus. Hatinya masih diliputi ego untuk terus menyudutkan Anggraini, meski ia juga kadang merasa andil dalam sakitnya Almira.


"Kita buat kesepakatan malam ini," ujar Nyonya Anggraini mantap. Beliau sudah merasa ini saatnya menunjukkan harga diri seorang wanita. Moment yang tepat untuk membuka pikiran kaum adam, bahwa ia bisa menjadi wanita hebat jauh dari kata cengeng. Biarlah dianggap a..b...c...d...oleh orang lain, karena sejatinya hidup untuk mencari kebahagiaan hati.


Nyonya Anggraini bersikap keras dan sangat disiplin pada Almjra juga punya alasan kuat. Ia tak serta merta mendidik anak dengan cara seperti itu kalau tidak punya tujuan untuk kebahagiaan sang putri. Katakanlah dia salah, membatasi semua gerak Almira, tapi lihatlah sekarang, sakit mentalnya sembuh secara perlahan tapi pasti. Almira menampakkan sosok yang cerdas dengan keanggunan dan kecantikan serta atitude yang luar biasa bagi siapa saja yang dekat dengannya. Tapi apa, tak ada yang memberikan ucapan terimakasih atas usaha Nyonya Anggraini selama ini. Hanya cemooh dan kalimat pedas menyudutkannya.


Pak Muhtar yang diharapkan menjadi penengah, dan peredam segala emosi dalam rumah tangga ternyata tak mampu mengatasinya. Bahkan memilih berpisah dengan wanita yang dianggap biang masalah. Entah apa yang dipikirkan, tapi yang jelas Nyonya Anggraini sudah muak disalahkan. Ia sangat percaya akan adanya pelangi kebahagiaa. Ia pun menanamkan hal positif bahwa pasti ada hikmah saat Almira tak mau bertemu dengannya saat ini, biar semua orang tau peran besar nyonya Anggraini pada hidup Almira seperti apa, pun bagi kedua putra mereka. Tinggal tunggu waktunya saja.


"Kamu mau apa? Harta gono-gini?" tantang Pak Muhtar. Nyonya Anggraini hanya tersenyum sinis, sembari menggelengkan kepala, masih belum yakin orang yang duduk di depannya adalah suami yang dulu begitu sayang pada dirinya.

__ADS_1


"Anak," sebut Nyonya Anggraini tegas. "Aku ingin hak asuh ketiga anakku."


Pak Muhtar tertawa sinis, seolah mengejek keinginan Nyonya Anggraini yang tak masuk akal. "Hak asuh anak? Biar semua anak tunduk pada mu lalu mereka menjadi gila, iya?"


Giliran Nyonya Anggraini yang tertawa sinis, "Sebegitu pendeknya pikiranmu," sindir dokter kecantikan itu.


"Lalu apa untungnya kamu meminta hak asuh anak, kalau sikapmu sendiri tak bisa diatur begini."


"Aku ibu mereka, aku yang merawatnya, aku yang mengandung mereka, jadi itu sangat wajar aku minta. Toh aku punya penghasilan untuk menghidupi mereka tanpa harta gono gini dari kamu."


Nyonya Anggraini mencoba tenang, menahan segala amarah dengan mengepalkan tangan saja. Jangan sampai ia menampar wajah lelaki yang masih berstatus suaminya ini. Ia juga harus menata sikap agar tidak ada catatan hitam yang menghalanginya mendapatkan hak asuh nanti.


"Sampai saat ini pun keegoisanmu sangat tinggi. Bahkan kamu tak pernah berpikir bagaimana perasaan ketiganya kalau kita sepakat berpisah. Selama ini aku menggaungkan kata pisah berharap kamu akan berubah dan mengajak damai, memperbaiki hubungan dan komunikasi keluarga kita."

__ADS_1


Deg!


Nyonya Anggraini sangat terkejut dengan ucapan sang suami. Tak menyangka kalau sang suami hanya menguji kesanggupannya membina rumah tangga dengan Pak Muhtar.


Aneh.


Kalau mau memperbaiki hubungan jangan terus-terusan menyalahkan orang. Plin-plan, batin Almira protes.


"Dan kamu sendiri, ngapain nguji segala. Hubungan kita sedang kritis, gak usah lah pakai menguji ini itu, to the point saja agar semua bisa legowo dengan keadaan." Nyonya Anggraini masih saja membalasnya, seperti tak mau dikalahkan dan siapapun harus mematuhinya, sikap inilah yang membuat Pak Muhtar semakin mendalami peran menjadi antagonis dalam rumah tangga keduanya, menjadi pencetus putusnya hubungan suami istri yang tak lama lagi sepertinya akan terjadi.


"Kadang seorang suami hanya membutuhkan kata, maaf Pa, aku salah. Dan kamu tak bisa mengucapkannya."


"Salah lagi," sewot Nyonya Anggraini.

__ADS_1


"Ya sudahlah, titik temu kita sudah tercapai. Besok aku akan mengurus ke pengadilan secepatnya. Aku pamit."


Pak Muhtar pun siap beranjak dengan tatapan lurus pada Anggraini yang kian menunduk, "Anggraini istriku, mulai detik ini aku talak engkau dengan talak satu," ucap Pak Muhtar tegas dan lugas, memberikan kalimat penutup yang begitu menyakitkan. Air mata nyonya Anggraini pun tanpa dikomando mengalir deras mengiri langkah Pak Muhtar keluar dari cafe.


__ADS_2