
Obrolan dengan dokter Ibram benar-benar membuat Almira bimbang, labil dan semakin bingung tak terarah. Mau dibawa ke mana hidupnya. Selama ini ia sangat bergantung dengan mama, beginilah negatifnya kalau orang tua terlalu mengatur kehidupan anak. Kebiasaan warga 62+ tidaj suka bila anak melakukan kesalahan oleh sebab itu, anak kurang mengeksplore. Takut mengambil resiko dan akhirnya berada di zona aman yang tidak siap menghadapi kenyataan pahit.
Almira menunduk lesu, menempelkan pipi di atas meja, merasa putus asa, merasa rendah diri bagaimana gadia yang berprestasi di sekolah dulu tidak berdaya menentukan masa depannya sendiri.
Ting
Sebuah pesan dari Kang Aqil, cukup mengejutkan karena pemuda ini tidak terlihat di pondok saat ini.
Jadi guru cantik yang ramah ya😄
Pesan yang mengandung banyak makna, membuat senyum Almira mengembang. Entahlah apa yang hatinya rasakan sekarang, setiap mengingat Aqil, teringat juga sosok guru muda nan perhatian padanya, apa kabar beliau? mungkinkah masih menunggu kabar dari Almira atau melupakan begitu saja.
"Mbak," panggil Lila sambil melongokkan kepalanya. Gadis SD itu selalu menjadi urutan pertama sebagai murid. PR nya tidak banyak hanya saja dia selalu meminta jatah waktu yang lama untuk belajar conversation. "Ayo!"
"Iya sebentar, kamu mau belajar apa?" ucap Almira sambil mengambil laptop, notebook dan pulpen.
"Matematika doang!" ucapnya sedikit kesal. Dirinya tak suka kalau Almira lebih memperhatikan anak lain, apalagi Intan juga mulai dekat dengan gadis cantik anak hoyang kaya ini.
"Kok gak speak-speak?" goda Almira mengajak Lila keluar kamar menuju aula pondok. Lila membawa boneka kesayangannya hanya mencebik kesal.
__ADS_1
"Tak tau saja, yang minat siang ini itu banyak. Sampai anaknya bu Romlah pun ada, Mbak Al yang mengundang uler keket itu?" tanya Lila ketus, sepertinya ada yang panas dengan kehadiran sosok gadis berkuncir kuda, tampak manis kesan awal memang. Almira hanya mengikuti arah pandang Lila namun mengulum senyum juga melihat tingkah kesal bocah SD gitu.
"Anak kecil gak boleh punya musuh ah," Almira mencolek pipi Lila, dan segera menyapa anak didik dadakannya yang berjumlah sepuluh orang. Kebetulan tingkat SMP semua jadi enak untuk membahas pelahajaran, Lila yang SD diminta mengerjakan PR dulu nanti akan dikoreksi oleh Almira.
Di awali soal dari Intan pembelajaran hari itu cukup lancar, Almira terbawa suasana hingga pikiran tentang cuan, ucapan dokter Ibram, pesan Kang Aqil serta Pak Sultan menguap begitu saja. Ia lebih tertarik pada celoteh anak SMP yang mendapatkan trik lebih mudah menyelesaikan soal matematika. Memang tak ada yang sia-sia kalau soal ilmu. Dulu Almira rasanya sudah bosan tiap hari les melulu, dan sekarang bisa berbagi ilmu dengan orang lain. So excited!!
Benar kata dokter Ibram, mengamalkan ilmu tanpa embel apa-apa rasanya plong, tanpa beban, berbagi ilmu pun mengalir tanpa emosi berlebihan. Mungkin ini yang dirasakan setiap guru saat mendidik seorang murid di sekolah, dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena memang semenyenangkan ini. Belum lagi yang diajari usianya mudah, tentu sebagai guru biar tidak dianggap membosankan juga harus tahu perkembangan kehidupan anak muda, makanya guru adalah salah satu profesi yang membuat seseorang awet muda.
"Di sekolah nih, Mbak Al. Aku tuh berasa anak yang bego banget dengan matematika. Entah otakku yang cetek, atau Pak Zul yang kelewat pintar sampai-sampai penjelasan beliau terbang entah ke mana!" seloroh Oliv cerewet, membuat Intan dan Lila manyun. Agak tak suka saja, gadia centil itu ikut belajar bareng di pondok. Gayanya yang dewasa sebelumnya membuat Lila dan Intan kurang suka dengannya. Parfum yang menyengat, bedak yang dirasa cukup tebal bagi gadis usia SMP ah jangan lupakan lip tint yang pink buanget, berasa menor mungkin itu yang ada di benak Lila dan Intan.
"Soalnya kamu pernah dihukum Pak Zul sih, makanya ilfill duluan sama guru, pelajarannya gak masuk deh," ejek Rama, salah satu anak pondok putra dan sekelas dengan Oliv.
Almira hanya menahan tawa mendengar celotehan dua anak SMP yang sedang mencatat penjelasannya. Ia pun berganti menemani Lila belajar.
"Mbak kok tahan sih mendengar celotehan uler keket itu," bisik Lila sambil melirik sekilas ke arah Oliv yang sedang mengibaskan kipasnya. Beuh...centil sekali.
Almira menoleh ke arah Oliv lalu menatap Lila, "Mbak Al suka punya teman banyak, hidup akan terasa ramai."
"Ya tapi pilih-pilih teman juga kali, Mbak. Yang gak centil kayak gitu," sahut Intan yang memilih duduk di dekat Lila, sengaja karena ia tahu Lila tidak suka dengan anak Bu Romlah itu, otomatis akan ada sesi menggosip.
__ADS_1
"Hush...gak boleh ejek orang. Nanti kualat loh," Almira tak mau terprovokasi dengan Lila ataupun Intan, selagi Oliv tidak melakukan hal aneh saat belajar bersama, Almira tidak akan menegurnya. Lagian Oliv ini memang wataknya berbeda dengan anak pondok, sehingga Intan dan Lila yang terbiasa diajarkan hidup sederhana merasa tak suka dengan tingkah Oliv.
"Mbak Al gak CS-lah sama Lila," lah si bocah SD malah merajuk, Almira malah tertawa, memaklumi mungkin karena anak seusia Lila memang butuh perhatian utama, otw puber gituloh, cari perhatiannya luar biasa.
Diskusi Almira dengan anak didiknya kembali berlanjut, kali ini sempat ada perbedaan jawaban antara Intan, Oliv dan Kaisar (teman Rama). Kaisar dan Intan jawabannya sama tetapi jawaban Oliv berbeda. Masing-masing ngotot dengan jawabannya, Almira sampai mengerutkan dahi, selama ia sekolah tak pernah tuh sengotot ini kalau beda jawaban, lah ini kalau Rama dan Kais tidak menghentikan Intan dan Oliv bisa jambak-jambakan.
"Kalian ini ada dendam kesumat deh," tebak Almira sembari bersidekap menatap Intan dan Oliv bergantian.
"Enggak," jawab keduanya kompak.
"Beda jawaban itu biasa guys, gak usah sewot gitu!" cibir Rama kembali meneruskan belajarnya, lebih tepatnya juga mencari jawaban yang benar.
"Oke daripada gontok-gontokan, kita bahas bareng ya!" ajak Almira berusaha memadamkan aura mencekam antara Intan dan Oliv. Rama, Kais, Hafsah, Randi ikut mendikte Almira dalam menyelesaikan. Oliv seketika berteriak, "Memang gue lebih pintar daripada kalian, yuhu!" semua mata memandang Oliv dengan tak suka.
"Kebetulan sekali aja bangga!" Lila gadis paling kecil ikut mengomentari tingkah Oliv yang terlalu sombong itu, namun tak lama kemudian Lila mengatupkan bibirnya rapat saat Oliv menatapnya tajam.
Almira yang merasa suasana sudah mulai panas, mengakhiri belajar bersama siang menjelang sore itu. Ia mengajak semuanya duduk melingkar, sengaja membangun bonding dengan lingkungan sekitar. Almira ingin mengikuti tips dari mbah gugel cara memikat perhatian siswa pada gurunya, salah satunya adalah berbicara dari hati ke hati. Sehingga anak merasa diperhatikan, sedangkan guru tidak hanya bertugas mencekoki mereka dengan pengetahuan saja melainkan memberi motivasi pula.
"Kalian tahu gak....," ucap Almira memulai sesi curhatan ala guru dan muridnya.
__ADS_1