MENTAL

MENTAL
KEDATANGAN MAMA


__ADS_3

Merasa diabaikan oleh anak istri sang mama yang sengaja mengurangi jam kerja di klinik, memutuskan mengunjungi Almira saja. Mau direspon atau tidak, nyonya Anggraini tak peduli yang penting perkembangan kondisi Almira beliau mengikuti.


"Selamat sore, dokter!" sapa Suster Devi yang kebetulan bertugas menemani Almira hari ini. Suster cantik itu baru saja menyisir rambut pasien VIP nya. Almira melihat kedatangan sang mama hanya melihat sekilas lalu terdiam di atas ranjang, dan memegang lengan suster Devi.


Suster Devi yang sudah memprediksi bahwa dokter kecantikan itu mempunyai andil besar dalam sakitnya Almira hanya bisa tersenyum pada Almira, sembari bergumam, "Gak pa-pa."


Nyonya Anggraini semakin mendekat ke ranjang Almira, maka cengkraman ke lengan suster Devi juga semakin kuat. "Bisa tinggalkan kami berdua?" pinta nyonya Anggraini agak ketus.


"Bisa, nyonya. Saya pamit dulu ke nona Almira!" jawab suster Devi ramah. Ia kemudian memegang cengkraman Almira, mengelusnya sebentar seolah memberikan ketenangan sebentar.


"Sama mama dulu ya, nanti suster datang lagi!" pamit suster Devi pelan. Emosi Almira sudah membaik sejak tadi, sudah bisa bercengkrama dengan dokter Ibram dan dirinya. Namun, raut cerianya berubah menjadi ketakutan di sore itu.


"Saya keluar dulu nyonya!" ucap suster Devi yang baru bisa melepas cengkraman Almira. Keluar dari rawat inap ada perasaan cemas, namun ia juga tak bisa menemani karena saran dari dokter Ibram biarkan pihak keluarga berinteraksi dengan Almira.


Selepas kepergian suster Devi, nyonya Anggraini mengelus rambut panjang sang putri, menatap sayu pada gadisnya. Sebagai ibu tentu merasa sangat sedih dengan keadaan sang putri, ingin sekali ia merawat putrinya sendiri tanpa ada tindakan medis, tapi itu mustahil. Respon Almira selalu menolak bila berdekatan dengannya, saat ini pun kepala Almira menoleh ke sisi sebelah, padahal sang mama menatapnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu ini minta apa sih, Mbak? Bilang sama mama gak usah pakai sakit seperti ini," tutur mama lembut, di balik kerasnya beliau mendidik Almira dengan peraturan ketat, beliau tetaplah seorang ibu yang sangat menyanyangi ketiga putra putrinya.

__ADS_1


"Kamu marah sama mama?"


"Mbak, mama minta maaf kalau memang mama yang menjadi penyebab kamu seperti ini. Sungguh, mama tidak punya niatan menyebabkan kamu depresi." Beliau bahkan sampai meneteskan air mata setelah mengatakan hal ini.


"Mama mendidik kamu lebih ketat daripada Radit dan Bima, karena kamu butuh akan hal itu apalagi dengan perkembangan zaman sekarang. Mama sengaja membatasi pergaulanan kamu, sudahlah kamu lebih baik menjadi gadia rumahan yang penuh prestasi dan segera menjadi dokter." Nyonya Anggraini tak peduli pembicaraan ini hanya searah, Almira tetap tak mau merespon sang mama.


"Mama gak mau kamu merasakan apa yang mama rasakan. Dicemooh, disindir di depan orang banyak oleh mertua, mama gak sanggup kalau kamu mengalaminya." Beliau menundukkan kepala kala mengingat sakit hati akan perlakuan keluarga Pak Muhtar dulu bahkan hingga sekarang masih ada yang menganggap nyonga Anggraini hanya memanfaatkan harta Pak Muhtar.


"Kamu tahu perjalanan karir mama seperti apa, tak ada satu peristiwa hidup yang dilewati mama dengan berjuang dan kerja keras. Begitu saja masih diperlakukan sebelah mata, apalagi kalau hanya mengandalkan wajah saja, habis mungkin mama di tangan keluarga papa kamu."


Beliau kembali mengelus rambut sang putri lalu berhenti di pundak Almira, menepuknya pelan. "Mama pikir menjadikan kamu seorang dokter akan menjadi nilai plus kamu saat sudah dewasa. Bayangan mama, kamu anak rumahan, terjaga pergaulannya serta punya otak cerdas dan berasal dari keluarga terpandang tentu akan banyak lelaki yang mengincar kamu dan siap menjadikan kamu pendamping, dan tak ada keluarga julid yang akan menilaimu cacat."


Almira tetap saja diam, apapun yang diucapkan sang mama rasanya hanya angin lalu untuknya. Sakit hati dan kecewa serta ada ketakutan membuatnya enggan membangun komunikasi dengan sang mama. Selama ini juga selalu memerintah, dan Almira juga selalu menjadi pendengar dan pelaku tanpa ada kesempatan memberikan pendapat. Saat Almira sehat saja begitu otoriter, dan sekarang saat Almira drop, depresi tak berkesudahan malah meminta untuk melawan segala hal negatif.


Orang lain berkata sangat mudah dalam menghilangkan pikiran negatif dengan melakukan hal yang menyenangkan, tapi tidak bagi penderita gangguan mental. Seluruh isi kepalanya hanya berupa pikiran negatif yang datang secara bersamaan.


Kalau ia melakukan ini bagaimana kalau sang mama marah? kalau ia diam saja sang mama akan melakukan apa, pasti marah juga? begitu seterusnya, ada rasa kecemasan berlebihan ketika dia melakukan sesuatu apalagi di dekat orang yang dianggap tak menyukainya.

__ADS_1


Nyonya Anggraini dianggap Almira sebagai mama yang tidak menyukainya. Tentu kepala Almira sudah mendoktrin bahwa sang mama akan menjadi monster dalam hidupnya, oleh sebab itu tak ada hal positif yang berlaku untuk nyonya Anggraini, Almira membencinya dan ingin menjauhi sang mama.


"Kamu mau kan memaafkan mama? niatan mama baik, Mbak. Mama gak mau kamu dicemooh calon mertua kamu nanti. Kalau kamu setuju dengan pola asuh mama, kamu pasti akan menjadi wanita idaman. Mau ya sembuh? kita lanjutkan perjuangan kamu, mama yakin kamu kayak gini hanya ingin perhatian mama dan papa saja kan, karena beberapa bulan ini mama tidak menemani kamu les atau mengajak jalan-jalan ke mall?"


"Keluar!" usir Almira lirih.


"Apa kamu bilang, Mbak?" tanya Mama yang begitu terkejut dengan respon Almira.


"Keluar," pinta Almira lebih keras dan ditolak sang mama.


"Kamu benar-benar gak waras, Mbak. Bagaimana bisa kamu mau mengusir mama kamu sendiri yang jelas paling perhatian sama kamu. Harusnya kamu bersyukur, Mbak kamu dididik mama seketat ini, bagaimana kalau mama lepas tangan, bisa-bisa kamu dikalahkan jauh oleh Stefi (sepupu Almira, anak Tante Widya) dan pasti dia yang menjadi cucu kebanggaan oma."


"NYONYA ANGGRAINI KELUAR!"teriak Almira begitu saja, dan nyonya Anggraini terkesiap seketika, tak menyangka Almira yang selama ini gadis santun bisa lepas kendali seperti ini.


"Jangan pernah nyonya Anggraini ke sini lagi, aku benci Anda, tolong pergi!" ucap Almira begitu lugas sambil menunjuk pintu. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya di hadapan mama, ia tak butuh itu semua. Almira hanya butuh kebebasan yang membuat otak dan hatinya bahagia. Biarkan dirinya memilih jalan hidup sendiri dan tak mau menjadi perempuan sempurna seperti bayangan mama.


Bagi Almira, cukup menjadi diri sendiri, melakukan bakat alamiah serta bertutur kata sopan akan membuat seorang wanita berkelas.

__ADS_1


"Gadis gila ini tak butuh rayuan Anda untuk menjadi putri yang sempurna, silahkan keluar. Anggap saja putri Anda telah tiada, sehingga Anda tidak perlu repot-repot mendikte hidupnya."


"Almira," cicit mama nelangsa.


__ADS_2