
Bima memeluk sang mama erat, remaja baru meletek itu enggan ditinggal sang mama. Ia ingin melindungi mamanya agar tidak sedih karena ucapan dari nenek ataupun papa. "Mama cerita dong!" ucapnya tiba-tiba berlogat manja.
"Cerita apa?" tanya mama yang sudah memejamkan mata.
"Kenapa mama bisa gak disukai nenek?" tanya Bima serius. Rasa ingin tahunya semakin tinggi, sejak dia kelas 4 SD dia selalu mendengar nenek atau tante-tantenya membicarakan sang mama, namun saat itu ia masih kecil dan lambat laun baru menyadari bila ada acara keluarga atau saat lebaran. Semakin jelas ketidak sukaan sang nenek pada mamanya terjadi pada beberapa menit lalu, hingga Bima memberanikan diri menanyakan hal itu pada sang mama.
"Bukan tidak disukai, tapi beda pendapat aja."
"Idih...mama, Bima sudah gede kali. Sudah paham kalau nenek itu juteknya sama mama doang. Coba kalau ke istrinya Om Firman, tante Risa, selalu tersenyum mengelus rambut tante Risa juga. Mama...duduk berdampingan aja gak pernah."
Glek
Nyonya Anggraini menelan salivanya kasar, kok Bima memperhatikan sejauh itu. "Eh...kok kamu bilang begitu, Nak?" tanya nyonta Anggraini sambil mencoel hidung mancung sang putra.
Bima merubah posisinya menjadi duduk bersila dan menghadap mama. "Mama tuh pinter, makanya anak-anaknya pinter, terutama aku."
Nyonya Anggraini tertawa, lalu mengacak rambut si bungsu. Nih anak menurun siapa sih, percaya dirinya tingkat dewa sekali. "Benarkah?"
"Ck," Bima berdecak tak suka. "Mbak Al pintar menggambar, dan olahraga. Mas Radit pintar game dan otak atik laptop, sedangkan aku pintar bikin hati meronta."
Kembali suara tawa dokter cantik itu terdengar, tak menyangka saja Bima bisa secerwet ini, "Eh maksutnya apa bikin hati meronta? eh kamu, Dek. Jiwa playboy kamu."
Dengan angkuhnya, Bima bersidekap lalu menunjukkan telunjuknya sambil geleng kepala, "Sory ya Ma, Bima pantang jadi playboy. Ck...gimana mau playboy, satu cewek aja gak ada yang mau sama Bima."
Nyonya Anggraini kembali tertawa,tidak menyangka sang putranya tak banyak yang berminat, "Kok bisa?" tanya nyonya Anggraini sembari menahan tawa. Tak lupa beliau pun memegang wajah Bima, menolehkan ke kiri dan ke kanan wajah yang sedang manyun itu. "Ganteng kok, kenapa gak laku?"
"Ah...mama," ujar Bima sambil menepis tangan sang mama. "Berlian tuh yang bikin aku gak laku."
"Berlian anaknya Pak Kasim, tetangga kita itu?"
__ADS_1
Bima mengangguk. "Kenapa emang?"
"Berlian bilang sama semua teman-temannya, kalau aku tuh naksir dia dan keluarga kita udah saling kenal. Rese' banget gak sih dia itu ma!" rengek Bima kesal, mengingat sikap Berlian yang terlalu posesif padanya. Padahal Bima tak oernah dekat sekalipun dengan gadis yang hobi makan cita-cita kurus ini. "Malu aku, Ma. Setiap ada cewek yang memdekati aku, dia selalu langsung marah, katanya mau diaduin ke papanya biar perjodohan kita disegerakan. Halu banget."
Nyonya Anggraini sudah tidak bisa menahan tawa, bahkan perutnya sudah kaku tak karuan. Cerita cinta SMP ala Bima sangat konyol. "Ih...mama kok ketawa!"
"Terus-terus," sang mama malah ketagihan cerita ala FTV ini. Apalagi berhubungan dengan anak tetangga pula.
"Awalnya aku marah, bilang ke semua orang gak bener tuh apa yang dibilang bantet. Tapi dia makin gencar memojokkan aku seolah aku menutupi hubungan kami dari pihak sekolah. Sumpah kesel banget lihat cewek kayak begitu. Gak ada jaim-jaimnya loh, Ma. Trus daripada aku senewen aku biarkan sajalah. Yang waras mengalah."
Kali ini nyonya Anggraini terpaksa berhenti dan menyeka air mata yang keluar, "Trus?" masih penasaran rupanya.
"Dia tetap aja rese', gak ada tobat-tobatnya!"
"Ya udah sih terima aja tuh Berlian, kamu kan lebih enak gak usah ngejar-ngejar cewek. Tinggal duduk manis, dapat. Anak hoyang kaya lagi."
Bima mencibir, berlagak sok cool sambil membersihkan pundaknya serasa ada kotoran yang menempel, "Sorry yah. Pantang buat Bima dikejar cewek dan mengejar cewek sekarang. Karena kata seseorang, sekolah dulu aja, trus cari uang yang banyak baru deh tunjuk perempuan mana yang aku mau."
"Mas Radit!"
"Oh playboy cap kapak tuh kasih pelajaran gak bener!" ucap mama masih diliputi tawa kecil mengingat ucapan Bima yang diajari Radit. Hufh....
"Ma!" panggil Bima kemudian, sekarang dagunya diletakkan di bantal sembari menatap wajah sang mama. "Mama tahu gak kenapa Bima bisa cerita kayak gitu ke mama? padahal teman-teman Bima kalau chat sama teman cewek aja sembunyi-sembunyi terus hapus itu chat dihapus dan nama teman ceweknya dikasih nama cowok gitu, misal nih namanya ceweknya Sisi, eh kontaknya diberi nama Sanusi. Sangar gak sih, Ma."
"Mereka takut sama orang tua kalau ketahuan pacaran. Masih kecil, belajar dulu aja."
"Berarti mereka gak jujur dong sama kedua orang tuanya. Gak baik loh, Ma. Gimana kalau izinnya kerja kelompok ternyata pacaran trus pas boncengan jatuh gara-gara menghindari semut lewat."
"Ngaco, mana kelihatan semut lewat kalau udah di atas motor Bimaaa!"
__ADS_1
"Ya kan perumpamaan aja, Ma!"
"Lalu? apa yang mau kamu sampaikan ketika ada kasus seperti itu?"
"Ya aku mikirnya kenapa mereka bisa diam-diam, karena mereka takut, gak percaya dan tidak merasa nyaman dengan keluarga atau orang tuanya."
"Menurut kamu?"
"Ya sebagai anak dan orang tua, harusnya saling terbuka. Tempat ternyaman kalau seseorang lagi suntuk adalah orang tua, Ma. Kayak kemarin semua orang pergi, hatiku nelangsa sekali, sebenarnya aku ini anak kandung atau anak pungut sih, sampai tega gak ada yang menemaniku."
Nyonya Anggraini mengelus puncak kepala sang putra dengan sayang, "Begitupun dengan orang tua, harusnya kalau punya masalah juga berbagi dengan anggota keluaga lain, terutama dengan anaknya sendiri."
"Bener, Bim."
"Nah sekarang mama cerita apa masalah mama ke Bima. Bima anak mama yang beranjak dewasa, sudah bisa kok menampung segala curhatan mama."
"Beneran?"
Bima mengangguk, "Kalau mama mau menangis, bahu Bima sudah kokoh kok buat sandaran." Bukannya terharu, Nyonya Anggraini malah tertawa. "Kamu ini pelawak berkedok anak mama kayaknya. Kalimat kamu loh lucu dan menggemaskan."
"Gurunya ahli soalnya, Ma. Makanya ucapanku ajaib di usia sangat mudah. Membagongkan, Ma!" puji Bima jumawa.
"Heleh...paling diajari Radit," tebak mama yang tahu kebiasan dua anak laki-lakinya kalau sedang main PS dulu, saling curhat dan kasih kritik saran.
"Iya dong, Mas Radit gituloh. Udah ah...ayo mama kapan cerita?"
"Cerita apa, Bim?"
"Cerita kenapa nenek bisa gak suka sama mama, Bima tahu kalau beliau gak suka sama mama. Please jangan membela lagi, karena aku sangat cemburu bila mama membela beliau."
__ADS_1
Glodag.
Tak jadi terharu malah membuat candaan kembali. Dasar Putra Bungsunya Pak Muhtar, ajaib beneerrr!