
"Gimana kabar mama?" Almira mengalah, hatinya berdegup kencang kala menyebut mama. Satu hal yang belum bisa ia kendalikan adalah gemuruh menyebut sang mama. Mungkin ia belum belajar untuk hal itu. Selama ini ia belajar menyesuaikan dengan lingkungan, care dengan lingkungan, sehingga Almira bisa belajar beradaptasi dan mengungkapkan apa yang ia rasakan pada orang lain. Potret Almira adalah gadis introvert dan pendiam sudah luntur. Bersama orang terdekat dan feelingnya pada seseorang, Almira pun mampu menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan pembahasan Aqil pun ia tak sungkan membahasnya.
"Mama tetap sama, kerja di klinik dan setiap hari menemaniku makan siang dan belajar, pokoknya lebih banyak di rumah."
"Kita mau temu kangen, gak usah membahas hal gak penting," Pak Muhtar menghentikan interaksi keduanya tentang sang istri. Hubungannya dengan dr. Anggraini juga masih jalan di tempat, malah keduanya jarang berdiskusi atau bahkan bermesraan. Bima langsung cemberut, Radit hanya menghela nafas. Jarak menganga hubungan keluarga juga dipengaruhi sikap sang papa. Beliau berubah jadi dingin dan ketus bila menyangkut mama. Rasanya hubungan suami istri di antara keduanya sudah sangat hambar.
"Papa kenapa sih, bukannya berusaha menyatukan keluarga kita malah mendukung Mbak Al untuk jauh dari mama," semua terdiam dengan sanggahan Bima. Anak yang dianggap paling kecil dan kekanak-kanakan bagi anggota keluarga lain, sangat dewasa dan memikirkan hubungan satu dengan yang lain.
"Papa gak mau merusak suasana kencan kita," Pak Muhtar masih slow, menghadapi Bima juga perlu strategi agar anak bontot itu tidak cemberut dan tantrum.
"Dengan papa tidak mengajak mama saja sudah merusak hati kita, Pa."
"Gini deh, Pa. Papa masih mau lanjut sama mama gak sih, sekalian jelas. Kalau kayak gini kita berasa menganggap mama itu tidak ada!"
Jleb
Radit beraksi. Ia yakin sang kakak sudah sembuh dan bisa berpikir jernih bila membahas sang mama. Pak Muhtar terdiam. Protes kedua anak lelakinya mengusik ulu hati beliau. Dalam hati beliau juga sangat merindukan suasana keluarga yang tentram dan saling mengasihi. Memupuk rasa sayang antar anggota keluarga, seperti dahulu. Tampak bahagia saat mereka meluangkan liburan semester anak-anak ke tempat wisata. Tapi sekarang, ada ego yang membuncah, ingin menghukum sang istri yang telah mendidik Almira seenaknya.
"Dengarkan Mbak, Radit dan Bima. Di sini tidak ada yang salah. Baik mama, Mbak dan papa tidak ada yang salah. Hanya saja, kita masih memegang ego. Mbak akui, Mbak egois." Almira menjelaskan dengan tenang, sungguh peran batin yang luar biasa ia rasakan. Gemuruh dadanya tak bisa dikendalikan ketika menyebut mama. Ketakutan tersendiri dengan kata itu.
__ADS_1
"Harusnya Mbak juga terapi di dekat mama, agar emosi tentang mama bisa dikendalikan, tapi Mbak Al belum bisa belajar ke tahap itu. Mbak minta waktu, saat ini Mbak masih mencoba membuang jiwa insecure dan negative thinking, dan berinteraksi dengan banyak orang. Kalian tahu sendiri kan, saat di rumah dulu Mbak gak punya teman selain kalian dan di sekolah pun dapat dihitung dengan jari. Tapi di pondok, Mbak belajar banyak. Mereka juga punya masalah dan merasa B saja meskipun berat di usia mereka yang masih belia. Mbak ingin belajar menata hati dengan mereka, agar hati Mbak dilapangkan seperti mereka."
"Kuncinya satu Mbak, bersyukur."
Almira mengangguk, sangat setuju dengan ucapan Radit. Dengan gangguan mentalnya dan beradaptasi di lingkungan pondok, hal utama yang dilakukan agar hati lapang adalah bersyukur. Bergaul dengan anak yang serba kekurangan ekonomi tapi memiliki semangat belajar, tentu memberikan efek luar biasa.
Almira yang tidak pernah merasakan kekurangan uang, sekolah di tempat bagus bahkan otw menjadi dokter malah ingin kebebasan yang belum tentu baik untuknya. Kondisi hati yang masih sedikit menyalahkan sang mama inilah membuatnya bersyukur di level terendah. Hatinya belum bisa mengembalikan semuanya pada takdir Allah.
Otak mereset, ingat semua pengorbanan hati dan mental yang telah kamu lakukan akan berbuah manis suatu saat nanti.
Tapi hati membantahnya, benarkah? sampai kapan harus bersabar, bila yang lain bisa hidup sesuai keinginannya.
Almira menahan tangis agar tidak membuat keluarganya khawatir. "Bahkan dalam otak mbak terekam siapa yang akan mau sama Mbak, berteman sama Mbak kalau aku pernah masuk rumah sakit jiwa."
Pak Muhtar menghela nafas berat, seperti inilah suasana yang sangat ingin beliau hindari. Biarkan mengorbankan perasaan sang istri, tapi ketiga anaknya tidak saling menyalahkan. Kalau sudah begini, Pak Muhtar harus bagaimana.
"Sekarang Mbak maunya gimana?" tantang Bima, mungkin sejak awal kedatangannya sudah badmood, giliran memojokkan sang mama semakin membuatnya badmood ganda.
"Kalau kamu jadi aku gimana?" tantang Almira balik, sekalian saja emosi. Ia tak mau saat di kamar, sendiri, harus terbebani dengan perselisihan di sini. Harus tuntas, biar plong.
__ADS_1
"Pulang."
"Kakak sudah lama meninggalkan rumah, apapun permasalahan harusnya kembali ke rumah dan keluarga. Sudah cukup Mbak berkelana," lanjut Bima sok puitis, bahkan anak SMP itu dengan santainya menyeruput sisa jus di gelas. Ajaib.
"Siapkan hati, Mbak. Aku yakin mama sudah berubah," ungkap Radit tulus dan tak ada keraguan mengatakan hal itu, bahkan ia melirik sang papa seakan meminta bantuan agar Almira ikut pulang.
"Kalau kamu sudah siap, papa gak maksa. Seperti janji papa ke kamu, mau sampai kapan pun di pondok, papa setuju. Mau pulang sekarang papa setuju."
Dalam hal ini Pak Muhtar tetap tidak mau memaksa keinginan Almira. Kenyamanan menjadi hal terpenting dalam kehidupan Almira sekarang. Kondisinya sangat membaik bahkan berniat mau kuliah lagi, jangan sampai dipatahkan.
"Papa ah," decak Bima sebal. Tak bisa diajak kompromi.
"Dengar, kalian berdua laki-laki. Tentu suatu saat kalian juga tidak mau dan jangan sampai terjadi apa yang papa rasakan sekarang. Hati orang tua mana tidak hancur mana kala darah dagingnya mendadak sakit mental. Mbak kalian sudah berjuang sendiri, beradaptasi dengan lingkungan yang lebih nyaman dan lebih santai hingga dirinya bisa mengendalikan emosi, kita harus hargai usahanya. Jangan memaksanya lagi. Papa bahkan rela menukar kebahagian papa untuk kalian, semua yang kalian minta papa berusaha memenuhinya, dan papa harap kalian juga menghargai keputusan papa."
Radit dan Bima terdiam dan mengangguk, mungkin mereka juga egois, keinginannya membawa Almira pulang tentu tidak mudah. Mental dan hati Almira harus dijaga juga, toh sang mama sudah pasrah Almira akan menemuinya kapan.
"Dengarkan, Mbak. Mbak janji kalau keputusan dokter Ibam menyetujui kuliah, Mbak akan memilih kampus di kota."
Oke dibanding dengan keinginannya dekat dengan Aqil, lebih baik dekat dengan keluarga. Almira juga tak mungkin terus-terusan menjauhi sang mama. Suksesnya Almira bisa ditunjukkan di mana saja, asalkan ada niat. Betul?
__ADS_1