MENTAL

MENTAL
CERITA SEORANG GADIS


__ADS_3

"Kalian itu sangat beruntung dibandingkan Mbak Al loh," cerita Almira membuka tentang dirinya, sekarang semua anak mengerubuti Almira. Duduk bersila di atas karpet, Almira melipat kedua tangannya di atas meja, menatap satu per satu wajah anak polos yang beranjak dewasa.


"Kok bisa?" lagi-lagi Oliv menyahut dan mendapat tatapan malas dari Lila dan Intan. Almira mengulum senyum dibuatnya.


"Kalian bisa bebas bermain dan punya teman, kalau Oliv punya teman dekat?" Almira mulai bertanya pada gadis centil itu. Dalam hati Almira, ia suka dengan keceriaan Oliv, kelihatan sangat percaya diri. Mengingat masa SMP nya dulu, Almira tidak percaya diri sama sekali meski dia pintar dalam akademik dan voli. Ia jarang sekali bicara dengan temannya. Hanya sekedar bercakap say hello ataupun kapan latihan, just it. Dunianya sangat membosankan.


"Dia mah punya banyak teman sekaligus musuh," bukan Oliv yang jawab tapi Rama. Almira tertawa mendengarnya.


"Sok tau deh," cibir Oliv tak terima. Gadis itu menyebutkan satu persatu teman dekat yang ia miliki. Almira ingin menghentikan cerita Oliv tentang temannya tapi tak tega ah lebih tepatnya Almira pun hanyut dengan kecentilan Oliv and the gank.


"Pernah bolos?" Almira terkejut, tak bisa dinalar saja dalam otaknya seorang murid perempuan bolos. "Panjat pagar belakang sekolah?" Almira semakin dibuat terperangah dengan gadis SMP ini. Jelas berbeda jauh dengan dirinya yang kelewat kalem. Oliv hanya mengangguk bangga. Rama, Intan dan Lila memutar bola mata malas, betapa bar-barnya anak Bu Romlah ini.


"Kenapa harus bolos, Ol?" nah kan Almira malah bertanya, makin dalam saja aib yang akan diumbar Oliv.


"Ih....Mbak Al kok manggilnya Ol, sih!" cebiknya kesal, sedangkan anak lain tertawa dengan panggilan Ol dari Almira, baru kali ini ada orang yang bisa bikin Oliv manyun.


Almira hanya meringis saja, karena tak sadar sudah memberikan nama panggilan aneh untuk Oliv. "Eh sori deh, Oliv. Lanjutkan lagi dong cerita kamu, seru, tegang dan bikin gemes."

__ADS_1


"Betul, Mbak Al. Sampai Pak Ridwan malas bertemu dengan dia," adu Rama tak suka dengan gadis pecicilan seperti Oliv.


"Gak usah sewot, nanti jatuh cinta sama gue!" cibir Oliv dengan mengibaskan rambut lurusnya, sontak saja Intan dan Lila berlagak muntah, Almira melihat reaksi keduanya malah terpingkal-pingkal begini amat ya punya saingan.


"Kenapa kamu kok bisa kayak gitu?" Almira semakin penasaran dengan latar belakang Oliv bisa seperti ini.


"Nakal maksudnya?" Oliv seperti tak ada beban kala menceritakan bagaimana tingkah polanya di sekolah. "Cari perhatian aja sih," lanjutnya santai.


"Perhatian sama siapa?" kembali Almira bertanya karena masih penasaran dengan faktor utama kenakalan remaja pada Oliv.


"Bapak aku lah, Mbak Al."


"Bapak aku tuh, Mbak. Sering gak pulang, sekalinya pulang main tangan sama ibu, sedih kan jadi aku."


Sumpah demi apapun, mereka yang di aula itu terdiam tak berkomentar, bahkan Rama yang sejak tadi ingin menabok bibir cerewet Oliv ikut prihatin juga. Mungkin mereka tak menyangka gadis yang terkenal ceria dan bar-bar menyimpan luka mendalam. Masalah dengan orang tua adalah patah hati terparah yang dirasakan oleh anak.


"Kalian mungkin mikir aku selalu bahagia ya, karena aku begini. Beuh...makanya jangan judge under cover!" cibirnya dengan melirik Rama. "Percayalah, Mbak. Setiap orang hidup pasti punya permasalahan sendiri-sendiri. Kita diberikan cobaan seperti ini karena Allah tahu kalau kita kuat dan bisa mengatasinya."

__ADS_1


Almira termenung dengan ucapan Oliv. Seorang gadis SMP, bisa berkata setegar itu. Almira detik ini juga mengakui kedewasan seseorang tidak berdasarkan umur, tetapi pengalaman hidup yang dijalani. Seketika itu juga Almira merasa dirinya sangat kerdil, mendapat tekanan dari sang mama begitu saja dirinya langsung kena mental. Depresi akut.


"Memang bapak kamu ke mana?" Intan ikut mendalami pertanyaan yang sedari tadi Almira lontarkan. Jadi ikut penasaran.


"Main perempuan," jawab Oliv cuek. "Cuma aku bilang sama ibu aja, gak usah sakit hati, Bu. Kita bisa hidup tanpa bapak. Suatu saat nanti akan aku buat ibuku bahagia dengan cara halal."


Siapa coba yang tak menangis terharu, mendengar cerita gadis SMP yang mencoba tegar, mencoba bersikap dewasa sebelum waktunya dan punya cita-cita mulia. Almira menangis tergugu, hingga Oliv dibuat bingung, karena menurutnya ia saja yang mengalami hal ini rasanya mati rasa, respect terhadap sang bapak sudah hilang sejak KDRT ia lihat langsung, betapa pusingnya sang ibu digampar hingga pipinya lebam.


"Mbak Al, harus bersyukur, Mbak Al cantik, punya barang-barang mewah, pasti keluarga Mbak Al juga keluarga berada. Mbak Al gak bingung besok makan apa, karena kebutuhan Mbak Al pasti dipenuhi oleh orang tua Mbak Al. Baru melihat pertama kali Mbak Al saja aku langsung iri, aku ingin seperti Mbak Al."


Almira memaksa tersenyum, ia tak boleh lemah di depan gadis tegar ini. Tekanan yang dialaminya tak seberat Oliv, kasus KDRT, perselingkuhan bahkan krisi perekonomian keluarga dialami gadis cerewet itu tapi Oliv tak menampilkan raut kesedihan atau bahkan depresi. "Jalanku untuk mengalihkan rasa sedihku ya dengan melanggar aturan sekolah, bolos, tapi gak sampai ngedrugs atau *** bebas kok Mbak, aku masih punya otak untuk tidak menjadi beban ibu lagi. Cukup bapak saja yang brengse* aku enggak."


"Lo hebat, Liv. Gak semua anak bisa setegar lo."


"Gue udah bilang, setiap orang punya masalah dan kekuatan sendiri untuk menyelesaikannya. Jangan dianggap sama, karena belum tentu gue juga sekuat lo dalam menghadapi masalah lain."


"Kenapa kamu bisa sedewasa ini, Mbak Al aja gak bisa loh, Mbak merasa gede umur doang tapi kedewasan minus banget," lanjut Almira dengan sesekali menghapus air matanya.

__ADS_1


Oliv menghela nafas berat, "Ketika kalian melihat ibu kalian digampar sekuat tenaga oleh suami yang dulu bilang cinta mati, hati lo akan hancur sehancurnya, di otak kalian akan berpikir gue bakal bikin bapak gue menyesal seumur hidup karena telah gampar ibu gue. Biarkan orang menganggap gue durhaka, tapi gue bisa bahagiakan ibu, toh menurut agama kalau bapaknya gak bener boleh gak patuh kan. Awalnya gue juga sedih, cuma kalau gue sedih ibu bakalan tambah sedih, ya udah meski gue sering bolos gue ngecewes bahasa inggris," baru saja kagum akan sikap dewasa Oliv, di ujung acara keangkuhan hakikinya keluar juga.


"Sombong amat," celetuk Intan dan Lila kompak.


__ADS_2