MENTAL

MENTAL
INILAH KELUARGA


__ADS_3

Radit kesal lantaran sang kakak tidak jujur ia mau ke mana, di telpon dan di chat balasannya selalu sama udah anterin aja ntar gue traktir. Alhasil ia harus membatalkan janjinya dengan anak futsal gak bisa latihan untuk siang ini. Begitupun dengan Bima, ia harus membatalkan tambahan belajar matematika.


"Kenapa harus ikut sih," omel Bima ikutan kesal, duduk di samping Radit dengan wajah cemberut.


Almira ingin tertawa melihat tingkah kedua adikknya, tapi ia tahan karena ia mau kasih surprise. Dirinya harus menjadi diri sendiri, mau melakukan sesuatu sesuai hati nurani dan pasti tidak merugikan ataupun mencelakai orang lain.


"Ulu-ulu, marah. Nanti kalau udah Mbak traktir bakalan terharu dan yakin sekali menghabiskan uang saku kakak."


"Eman Mbak Al punya uang saku?" ledek Bima yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


"Masih kok, tiap minggu malah."

__ADS_1


"Eh berapa?" tanya Bima yang langsung mencondongkan tubuhnya ke arah belakang, penasaran dengan uang saku yang diterima sang kakak.


"Kepo, pokok bisa deh traktir kalian jajan siang ini!" Almira tak mau membuka transferan dari sang papa terkait nominal uang sakunya. Sampai saat ini sang papa masih belum memberi kabar, entah beliau ada di mana. Apalagi sang mama sepertinya tidak mencari atau berkomunikasi dengan sang suami. Dalam benak Almira tentu kondisi kedua orang tuanya sedang tidak baik, meski dia sakit mental tapi otak Almira masih waras untuk menangkap gelagat sikap kedua orang tuanya.


Mobil yang dikendarai Radit sudah masuk pelataran cafe yang cukup ramai dan luas. Wajah tegang Almira terlihat sebentar namun lamunannya dibuyarkan oleh senggolan lengan Radit. "Malah bengong, jadi traktir kita gak!"


Almira tersenyum lalu mengangguk, "Iya jadi, ayo!"


"Mbak!" tegur Radit yang juga menangkap sosok sang mama. Bingung, kok bisa sang mama ada di sini juga. Apa mungkin Almira memang mengajak beliau bertemu. "Ada mama loh!" Radit masih memikirkan kondisi mental sang kakak.


"Mbak Al gak pa-pa?" Bima pun ikut khawatir. Sekarang mereka hidup hanya bertiga, jangan sampai kondisi sang kakak makin parah. Tidak ada sandaran, keegoisan kedua orang tua begitu kuat tanpa memikirkan perasaan anak mereka.

__ADS_1


"Biasa aja kali, Mbak udah sembuh. Mbak ingin memperbaiki hubungan Mbak dengan mama. Bantu aku ya?" pinta Almira tulus lalu menggandeng kedua adiknya. Degup jantung Almira begitu keras saat langkah ketiganya mendekati sang mama. Senyum sayang nan tulus dari sang mama sudah menyambut mereka. Memang perasaan ibu, kasih sayangnya begitu tulus untuk anak-anaknya.


"Apa kabar Ma?" tanya Bima yang langsung memeluk sang mama. Maklumlah anak bontot. Radit sempat melirik Almira lebih dulu kemudian bergantian memeluk sang mama. Di saat kedua adiknya sudah memberikan pelukan pada sang mama, Almira masih termangu.


"Kamu gak mau peluk mama sayang?" tanya mama membuyarkan lamunan sang putri.


Almira menarik nafas pelan lalu berjalan mendekati sang mama. Mungkin karena langkah Almira sedikit lambat, Nyonya Anggraini berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


Almira pun langsung menghampiri dan membalas pelukan sang mama. Menangislah sepuasnya keduanya, Radit mengalihkan pandangan ke arah lain, karena tak kuasa menahan tangis. Kedua perempuan penting dalam hidupnya.


"Anak mama, mama sayang sekali!"

__ADS_1


"Maafin Al, Ma!" ucap Almira di sela-sela sesenggukannya. Bima yang sudah menangis tergugu pun mulai mengubah suasana haru biru itu dengan celetukan konyol, "Ayo makan aku lapar!" ucap Bima polos.


__ADS_2