
Bima dan Radit memberikan kesempatan pada mama dan Almira untuk berbicara. Radit membujuk sang kakak untuk tetap tenang dan memberikan kesempatan pada sang mama mengutarakan permintaan maaf beliau.
Cukup lama mama dan Almira terdiam, masih belum berani mengungkapkan isi hati. Almira hanya menunduk, jemarinya saling meremas, jujur ia sangat deg-degan sekarang. Bayangan sang mama memaksa ini itu saat dulu hadir secara beruntun. Berkali-kali ia menarik nafas berat, mengontrol emosinya agar tak kumat. Ia juga merapal doa, apapun akan diucapkan untuk menenangkan hatinya.
"Mbak!" baru saja sang mama menyapa begitu, tapi tubuh Almira sudah bergetar hebat. "Mbak Al dengerin mama ya, Mbak Al gak harus menatap mama kalau masih takut. Mama sadar diri, Mbak, kalau mama banyak salah dengan Mbak Al. Mama hanya ingin minta maaf sama Mbak Al itu saja. Mama sudah menjadi orang tua yang durhaka buat Mbak Al. Maaf. Maaf banget sudah mengambil kebebasan Mbak Al selama ini. Mama minta maaf," nyonya Anggraini menahan tangis, sebisa mungkin tidak terlalu memaksa meski hanya minta maaf. Nyonya Anggraini pula tak mau menuntut harus dimaafkan, tidak. Yang penting hari ini ia bisa menemui dan minta maaf pada sang putri.
Almira tak merespon, sama sekali. Ia sedari tadi hanya menunduk, rasanya masih campur aduk dengan pertemuan kali ini. Apalagi sang mama minta maaf, semakin galau saja Almira mengambil sikap. Ingin sekali untuk sementara ia menjauh dari mama, tapi sebagai anak ia juga ada rasa kangen dan okelah ingin berdamai. Tapi kekuatan untuk mendongak saja tak bisa.
Nyonya Anggraini paham sikap Almira masih belum stabil untuk bertemu dengannya, dan setelah tak mendapat respon dari Almira beliau pamit untuk pergi.
"Sekali lagi mama minta maaf ya Mbak, maaf juga kalau harus menemui Mbak sekarang. Terimakasih sudah mau mendengarkan permintaan maaf, setelah ini lanjutkan jalan-jalan sama Bima dan Radit ya. Mama pamit, jaga kesehatan dan Assalamualaikum."
Almira menjawab salam sang mama lirih, ketukan high heels sang mama sudah agak menjauh maka saat itu air mata Almira meluruh sudah, bahkan isakannya terdengar. Radit yang sudah tahu mama pergi segera mendekati sang kakak lalu memeluknya. Tak berniat bertanya, hanya sebagai tempat sandaran sang kakak pengganti orang tua.
"Aku egois, Dit. Aku egois banget. Aku masih takut sama mama, Dit!" racau Almira begitu memilukan dan Radit hanya mengusap punggung sang kakak sembari bilang sudah gak pa-pa, mama pasti mengerti.
Usai drama mewek, mereka bertiga main ke time zone, sengaja menemani Bima yang katanya ingin jingkrak-jingkrak saja. Bahkan Radit pun meledeknya gak sekalian mandi bola?
Ramainya time zone tak bisa menghibur Almira, pikirannya masih tertuju pada pertemuan tak terduga dengan sang mama. Mata melihat gerakan lincah Bima tapi pikiran terhubung pada sang mama.
"Ngelamun mulu!" ujar Radit sembari menempelkan minuman boba pada pipi Almira Dinginnya minuman manis itu membuat Almira terkejut.
__ADS_1
"Rese' banget!" protes Almira sembari mengelap pipinya yang basah. Radit terkekeh, pemuda itu segera duduk di samping sang kakak.
"Habisnya serius amat. Lagian gerakan Bima monoton, gak ada yang menarik."
"Mataku aja ke arah Bima tapi pikiranku ke mama!" Almira pun jujur dengan yang ia rasakan sekarang.
"Aku lagi putar otak aja, bagaimana memperbaiki hubungan dengan mama!"
Radit terdiam.
"Kasih tahu dong, Dit. Aku harus apa," pinta Almira kemudian. Radit menoleh, keseriusan tampak di raut sang kakak. Mungkin memburuknya hubungan dengan orang tua membuat frustasi juga.
"Lepasin dendam, Mbak!" akhirnya Radit bersuara.
"Buat hidup Mbak lebih santai tanpa memikirkan hal aneh. Jalani hidup sesuai ketentuan yang ada, gak sesuai hati nurani ya gak usah dilakukan. Sama halnya sekarang, gimana hati kecil Mbak saat bertemu mama?"
Almira menggeleng, "Terlalu sulit untuk dijelaskan. Bahkan Mbak gak tau rasa apa yang ada ketika bertemu dengan mama."
"Yang mendominasi?"
"Takut."
__ADS_1
"Takut kenapa?"
"Takut diperlakukan seperti dulu!"
"Dan sekarang kejadian?" tanya Radit memastikan. Ia tadi duduk agak jauh, jadi ucapan sang mama tidak terdengar.
"Enggak. Mama malah minta maaf!"
"Percaya?"
Entah kenapa Radit bertanya seperti itu, Almira masih buntu. "Maksudnya?"
"Ya di pikiran Mbak Al kan sudah tertulis mama jahat, mama egois dan mama pemaksa, dan saat ini mama tiba-tiba minta maaf, padahal dulu beliau gak mau mengakui kesalahan kan?" Radit seperti memainkan perasaan galaunya Almira. Apa yang diucapkan Radit benar, haruskah ia percaya dengan permintaan maaf sang mama?
"Kok lo jadi ngomong gitu, Dit?"
"Ya kalau Mbak ragu untuk percaya sama mama, maka buktikanlah!"
"Caranya, bangun komunikasi dengan mama via chat. Lambat laun, Mbak Al akan tahu beliau tulus atau enggak dalam meminta maaf."
Almira terdiam.
__ADS_1
"Dan satu lagi, Mbak. Kalau mau lepas dendam you have to give second chance to mama," ujar Radit dengan menepuk pundak sang kakak lalu meninggalkan gadis itu menuju permainan yang sedang Bima main kan.